BERAU POST - Keterlambatan penerbangan menuju Kabupaten Berau pada Sabtu (14/2), lalu menuai keluhan dari pendakwah kondang, Ustaz Dasad Latif.
Ia mengaku harus menunggu berjam-jam di bandara sebelum akhirnya bisa terbang menuju Berau.
Dalam pernyataannya, Ustaz Dasad menyebut sudah berada di bandara sejak siang hari.
“Saya dari jam 12 siang menunggu, tapi gapapa lah,” ujarnya.
Namun ia menilai keterlambatan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan faktor cuaca maupun teknis keselamatan.
Menurutnya, jika alasan pembatalan atau penundaan karena cuaca dan teknis demi keselamatan, hal itu masih dapat dimaklumi.
“Kalau tidak jadi terbang karena cuaca kita terima, karena teknis saya terima, itu keselamatan namanya,” katanya.
Ia menduga penundaan terjadi karena maskapai menunggu penggabungan penumpang dari penerbangan lain agar pesawat terisi penuh.
“Masalahnya, maskapai menunggu penumpang lain,” ujarnya.
Ustaz Dasad bahkan berencana membawa persoalan tersebut ke tingkat pusat. “Insyaallah dalam waktu dekat saya mau ketemu anggota DPR RI lapor semua ini,” tandasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau, Patah Atabri, memberikan klarifikasi terkait kronologi penerbangan dimaksud.
Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima pihak bandara, pesawat Super Air Jet dengan nomor penerbangan SAJ 580 rute Balikpapan–Berau sebenarnya sudah dalam kondisi siap terbang.
“Maksapai menunggu penerbangan yang dari Jakarta ke Balikpapan, dimana membawa 60 penumpang transit ke Berau, yang diantaranya terdapat Ustaz Dasad Latif,” jelasnya.
Patah menambahkan, manajemen Lion Group selaku operator maskapai bahkan mengajukan permohonan penambahan jam operasional bandara demi melayani penerbangan tersebut.
“Sehingga pada hari itu layanan penerbangan kami buka sampai 00.00 dini hari, dan pesawat tiba pada 23.35 Wita,” ungkapnya.
Sementara itu, Humas Lion Group, Danang Mandala Putra, yang dikonfirmasi hingga Senin (16/2) sore belum memberikan tanggapan. Pesan singkat maupun panggilan telepon yang dilayangkan belum direspons.
Peristiwa ini pun kembali menyoroti persoalan ketepatan waktu penerbangan, khususnya untuk rute ke daerah.
Masyarakat berharap maskapai dapat meningkatkan transparansi informasi kepada penumpang agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kekecewaan di kemudian hari. (sen/hmd)
Editor : Nurismi