HARI Rabu (5/11), mampir di warung Pak Basri, sahabat saya. Rindu dengan bubur ayamnya. Masih terbilang pagi. Masih waktunya sarapan pagi, bagi yang tak sempat saat berangkat kerja.
Pun tidak masuk kriteria yang belakangan tak diperbolehkan oleh sekkab. Bukan kafe. Warung makan yang lokasinya berdekatan dengan perkantoran. Tak jauh dari kantor bupati.
Konsumennya banyak ASN. Menu yang ditawarkan lengkap dengan harga terjangkau.
Kalau juga banyak ASN yang mampir di warung itu, sepertinya perlu dimaklumi. Mereka buru-buru ke kantor.
Tidak sempat sarapan di rumah. Dan sudah direncanakan, sarapannya di tempat Bu Basri saja, di Jalan Murjani I.
Seperti saya di hari Rabu itu. Setelah melayat di rumah duka kerabat di Jalan Murjani III dan di rumah duka sahabat saya Yance Keka di Jalan Mangga I, saya mampirlah di warung Bu Basri. Sama alasan teman-teman ASN. Tak sempat sarapan di rumah.
Ada empat meja terisi tamu yang baju putih. Baju dinas yang wajib dikenakan pada hari Rabu. Saya memilih duduk dekat meja kasir. Memesan bubur ayam dan teh hangat tawar. Menu kesukaan setiap ke warung Bu Basri.
“Bapak ada dek,” tanya saya dengan kasirnya. Maksudnya saya menanyakan kabar Pak Basri Sahrin, sahabat saya yang dulu memimpin di kantor Departemen Penerangan. “Bapak lagi sakit, dirawat di Samarinda,” kata sang kasir.
Menikmati bubur ayam sambil membayangkan bubur ayam yang terkenal di Samarinda. Rasanya beda-beda tipis. Topping-nya juga sama. Harus dinikmati pelan-pelan. Maklum, bubur ayam ini menu favorit para lansia. Hahaha.
Karena harus segera kembali ke kantor, bergantian meninggalkan warung. Ada yang pamit sambil tersenyum.
“Duluan Pak Daeng,” kata ibu itu. Mungkin jarang ketemu, sehingga lupa-lupa ingat. Yang saya hafal nomor polisi kendaraan dinas yang ditumpangi.
Sayapun segera lanjut. Saat ke meja kasir, petugasnya menyebut kalau pesanan saya sudah dibayarkan.
“Sudah dibayar dengan ibu yang tadi baju putih itu,” kata kasirnya. Alhamdulillah, rezeki hari Rabu. Buru-buru saya cari nomor telepon mengucapkan terima kasih. “Terima kasih traktirannya ya bu, semoga sehat selalu,” kata saya.
Kemarin, ada berita duka. Sahabat saya seorang seniman musik dikabarkan meninggal dunia. Pak Kamaruddin. Tinggal di Jalan Andika. Masjid At Taqwa di depan rumah, hari Rabu malam, mengumumkan berita duka itu.
Pagi-pagi saya ke rumah duka. Kompleks yang semuanya dihuni oleh ASN. Termasuk ASN yang purna tugas.
Banyaklah teman-teman yang datang duluan. Jumpa Taupan Majid, Ketua KONI Berau yang mantan Kadis PUPR. Ada Pak Yuwanto mantan Kadis Pertambangan. Pak Haris Sabran, mantan Kadis Perkebunan. Ada reuni dadakan di setiap jumpa di rumah warga.
Almarhum Kamaruddin yang saya tahu memang beberapa tahun ini sakit. Namun begitu, semangatnya bermain musik tak pernah luntur.
Bergabung bersama kelompok musik keroncong. Almarhum menguasai berbagai jenis alat musik. Sama dengan tiga saudaranya yang lain.
Kami sering diskusi soal perkembangan musik di Kabupatehn Berau. Terutama, bagaimana menularkan kepada generasi muda, untuk belajar mencipta lagu khas daerah. Itu yang selalu kami diskusikan. Almarhum dulu, bila tak salah pernah bekerja di kantor PT Inhutani I.
Salah satu lagu yang populer yakni ‘Gali Dirantau’. Saparuddin, penjual minuman di tepian Sungai Segah, selalu memutar lagu itu yang terdengar sepanjang tepian sungai.
Lagu yang menggambarkan perjalanan dari desa ke desa hingga tiba di Tanjung Redeb. Selamat jalan Pak Kamaruddin, kami selalu mendoakan. (*/sam) @daengsikra.id
Editor : Nurismi