Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kartu Lebaran

Beraupost • Rabu, 12 Maret 2025 - 14:45 WIB

Daeng Sikra
Daeng Sikra


BIASANYA penjual kue kering di trotoar barat Perpustakaan Daerah hadir sepekan menjelang lebaran. Mungkin atas usulan konsumen, mereka sudah mulai berjualan dua hari belakangan.

Ada kesepakatan para penjual kue kering dan penjual pentol bakso. Mereka hanya jualan dua kali setahun. Saat lebaran Idulfitri dan Iduladha. Selebihnya, lahan trotoar itu pun kembali dipakai para penjual pentol dan penjual buah. Berbagi rejeki.

Yang saya cermati. Bagaimana para penjual kue kering itu merawat barang jualannya. Bagaimana menyimpan dengan baik. Bagaimana agar kualitasnya tidak menurun, sambil menunggu jadwal jualan berikutnya. Apa tidak ada masa kedaluwarsanya Yang saya lihat, kuenya itu-itu saja kemasannya.

Itu juga jadi bahan diskusi ringan di Warung Pojok. Ada pertemuan rutin. Namanya diskusi setelah tarawih. Banyaklah yang dibicarakan. Seperti ketika pengunjung Warung Pojok berdiskusi kencang di luar bulan Ramadan,
Banyak yang dibicarakan.

Mulai harga tabung gas melon 3 kilogram, harga kelapa pandan yang dari kebun Iwan di Kampung Sukkan, harga tiket yang mau mudik lebaran, bahkan pembahasan sampai ke soal berapa harga kontrak rumah, dan harga tanah kaplingan.

Tidak terasa, pengunjung Warung Pojok yang rata-rata berusia di atas 50-an, kembali mengulang kisah lawas mereka. Kisah lama selama bulan puasa hingga menjelang lebaran. Ada yang cerita bagaimana dulu mengunjungi rumah tetangga.

Hanya untuk mendapatkan minuman calypso dan uang Rp 5 ribu. Iya, calypso memang terkenal dulu di Teluk Bayur, kata Cecep karyawan Disperindagkop.

Ada yang bercerita bagaimana harus menangis dulu agar bisa mendapatkan baju baru. Kalau sudah dibelikan baju dan celana baru, kita sudah senang, kata Abu Bakar agen gas melon.

Sekitar suka cita jelang lebaran dulu, ketika tamu Warung Pojok masih tergolong bocil, menarik didengarkan.
Saya hanya mengingat kesibukan kantor Pos, sepekan jelang lebaran.

Bagi mereka yang jauh dari kampung, terpaksa harus mengirim lebih awal kartu ucapan lebaran Idulfitri ke kampung halaman. Tidak lain, agar kartunya tiba masih dalam suasana lebaran.

Pun mereka yang berada di rantau dan tak sempat pulang kampung, gelisah menunggu pemberitahuan adanya wessel pos. Kalau sudah wessel pos ada, tanda-tanda bisa beli baju baru. Kantor pos memang jadi harapan dulu.

Bicara soal kartu ucapan lebaran. Saya lupa namanya. Sahabat saya punya percetakan di Jalan Durian I (yang ditempati warung makan Kalimantan) entah dimana dia sekarang.

Jelang lebaran, usaha percetakannya sangat sibuk. Begitupun usaha percetakan lain, termasuk milik Haji Hafid di Jalan Akb Sanipah.

Memang belum ada media yang bisa menyambungkan rasa. Maka, pilihannya adalah kartu lebaran. Bupati dan ketua DPRD dulu juga sibuk membuat kartu lebaran. Pak Ibnu Sina, Sekda waktu itu, juga termasuk yang sibuk-sibuk menyediakan kartu lebaran.

Kualitas percetakan kartunya belum tersentuh teknologi desain grafis. Polos-polos saja. Warna putih dan tulisan warna hitam. Setelah kartu ini dibuat, ada petugas yang membagikan. Bila tujuannya keluar daerah, lagi-lagi harus ke kantor pos menempelkan prangko.

Justru dulu itu lebih sibuk mengurusi kartu lebaran, ketimbang menanyakan soal THR. Saya juga mendapatkan banyak kiriman kartu lebaran. Baik sesama teman di Tanjung Redeb. Apalagi teman-teman dari luar daerah termasuk kiriman kartu lebaran dari Pak Ibnu Sina, Sekda waktu itu. (sam)
@daengsikra.id

Editor : Nurismi
#Berau Post #opini pembaca