TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau memiliki berbagai kebudayaan, termasuk kebudayaan lisan. Salah satunya dikenal dengan istilah karang-karangan. Namun, karang-karangan ini sudah jarang terlihat lagi.
Karang-karangan merupakan bentuk syair yang biasa dilantunkan orang zaman dahulu. Menggunakan tulisan Arab gundul dan dilantunkan menggunakan bahasa Melayu. Biasanya ditampilkan saat acara adat maupun acara resmi yang mengundang orang-orang penting.
“Itu dia semacam doa yang ditulis, kalau misal ada bupati datang, nanti saat dilantunkan akan disebut nama bupati dalam syair itu,” jelas Aji Suhaidi, salah seorang keturunan pelantun Karang-Karangan, Selasa (2/7).
Suhaidi mengaku, neneknya dulu sering membuat karang-karangan. Ditulis di atas kertas sebelum dilantunkan dalam sebuah acara.
“Tapi sekarang kertas-kertas hasil karang-karangannya itu sudah hilang,” ungkapnya.
Karang-karangan dijelaskannya, diadakan dalam acara-acara, seperti sebelum prosesi melahirkan, perkawinan, pemberian gelar kesultanan, serta acara-acara adat lain. Biasanya dibacakan setelah sesi sambutan-sambutan. Khusus dalam prosesi melahirkan, biasanya akan dibacakan syair karang-karangan sebelum prosesi melahirkan dilaksanakan.
"Karena karang-karangan ini isinya doa-doa dan pengobatan. Nanti namanya disebut, diceritakan kejadian apa yang sedang dilakukan dan kejadian apa yang ada di keluarga, lengkap dengan harapan-harapan dan doa,” jelas Suhaidi.
Sebelum acara, ia menceritakan kalau mau mengadakan karang-karangan, biasanya keluarga akan mendatangi neneknya untuk memberitahu. Karang-karangan kemudian ditulis dan disusun sebelum digantung pada bambu berhias yang disebut kembang serai. Jadi, pada saat akan dibacakan, gulungan kertas di kembang serai itu diambil satu persatu.
Di dalam acara, yang namanya disebut dalam karang-karangan biasanya akan menghampiri si pelantun untuk memberikan amplop. Namun, yang namanya disebut akan dibrifing dulu sebelum sesi pembacaan karang-karangan dimulai.
Saat ini, karang-karangan sudah tidak pernah lagi dijumpai. Arsip tulisannya pun lenyap. Penulis Kebudayaan Lisan, Saprudin Ithur, mengaku tak lagi menemukan karang-karangan.
“Di Berau itu ada lima syair, yang saya temukan hanya syair Badiwa, sementara karang-karangan ini sudah tidak ada lagi,” ungkapnya, Sabtu (29/6) lalu.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Retno Kustiah menyebut, kebudayaan lisan karang-karangan di zaman sekarang memang sudah tidak pernah lagi dilantunkan.
“Karang-karangan itu sudah tidak pernah lagi dilantunkan,” katanya, Jumat (5/7) lalu.
Ia melanjutkan, mungkin nanti akan dilakukan revitalisasi terhadap kebudayaan lisan yang sudah menghilang. “Insyaallah (akan dilakukan),” tutupnya. (wid/arp)