Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

7 Desa Wisata Masuk 300 Besar ADWI

Muhammad Sholehudin Al Ayubi • Jumat, 24 Mei 2024 | 20:11 WIB
DESA WISATA: Salah satu pesona Desa Wisata Merabu Asik yang ada di Kabupaten Berau. Berhasil masuk dalam 300 besar ADWI yang diselenggarakan Kemenparekraf.
DESA WISATA: Salah satu pesona Desa Wisata Merabu Asik yang ada di Kabupaten Berau. Berhasil masuk dalam 300 besar ADWI yang diselenggarakan Kemenparekraf.

TANJUNG REDEB - Sebanyak 7 kampung wisata di Kabupaten Berau masuk dalam kategori 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Ditarget Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, desa wisata di Berau mampu masuk dalam 50 besar.

Bupati Berau Sri Juniarsih, pun menyambut baik adanya desa wisata di Berau yang masuk ADWI 2024. Bupati berharap yang menjadi desa wisata semakin memotivasi kampung lain untuk berbenah, agar ke depan mengikuti jejak yang sama menjadi desa wisata.

"Ini akan mendatangkan hal yang luar biasa. Ketika sudah menjadi desa wisata, potensi itu harus dijaga, pun dijadikan badan usaha milik kampung (BUMK). Karena UMKM juga akan meningkat seiring pariwisata yang meningkat," ungkapnya.

Ke depan, diharapkan desa wisata di Berau dapat masuk dalam 50 besar ADWI. Makanya harus dipersiapkan dan dijaga kelestariannya. Diyakininya, efek ganda jelas akan terlihat jika pariwisata di suatu kampung itu berhasil.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, menyebut, 7 desa wisata yang masuk 300 besar itu yakni Desa Wisata Bidukbiduk, Desa Wisata Ekowisata Mangrove Teluk Semanting, Desa Wisata Kampung Merasa, Desa Wisata Tulung Ni' Lenggo, Desa Wisata Payung-payung, Desa Wisata Pulau Derawan, dan Desa Wisata Merabu Asik.

"Sebelumnya ada 8 desa wisata yang berhasil masuk 500 besar ADWI, sayangnya Desa Wisata Tanjung Batu gugur masuk 300 besar," ungkapnya, Kamis (23/5).

Dijelaskannya, tema ADWI yang diusung tahun ini adalah "Desa Wisata Menuju Pariwisata Hijau Berkelas Dunia". Diyakini desa wisata mampu berkontribusi dalam mengatasi isu global, dan mampu mewujudkan tujuan Indonesia sebagai destinasi wisata berkelas dunia yang mampu mensejahterakan masyarakat secara berkelanjutan.

"Karena isu perubahan iklim dan isu keberlanjutan saat ini menjadi salah satu kekhawatiran global, sehingga menjadi perhatian berbagai pihak. Makanya harus ada langkah maupun konsep yang dapat diimplementasikan oleh seluruh sektor. Salah satunya desa wisata," terangnya.

Konsep ekonomi hijau bebernya mengedepankan prinsip berkelanjutan dan telah menjadi tren yang sangat dapat dimplementasikan di sektor pariwisata, terlebih untuk desa wisata. Ada empat pilar fokus pengembangan pariwisata hijau dari Kemenparekraf, yaitu pengelolaan berkelanjutan atau bisnis pariwisata. Ekonomi berkelanjutan atau sosio ekonomi jangka panjang, keberlanjutan budaya atau sustainable culture yang harus selalu dikembangkan dan dijaga, serta aspek lingkungan atau  environment sustainability.

"Empat pilar itulah yang menjadi acuan dalam tema ADWI tahun 2024 ini. Semua sangat bisa diimplementasikan melalui pengembangan desa wisata," paparnya.

Adapun kategori penilaian yang ditetapkan adalah daya tarik desa wisata. Merupakan potensi utama desa wisata yang memiliki keunikan, keautentikan, dan kreativitas. Yang menjadi daya tarik wisata berupa produk wisata, baik alam, buatan atau budaya, serta produk ekonomi kreatif berupa kriya, kuliner, dan fesyen.

Selanjutnya ada kategori amenitas. Berupa peningkatan standar kualitas amenitas pariwisata dengan standar Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE). Melalui fasilitas homestay, toilet, serta fasilitas penunjang pariwisata lainnya seperti restoran, tempat ibadah, dan parkir guna pemenuhan sarana dan prasarana kenyamanan wisatawan.

Untuk kategori digital, desa wisata dituntut untuk akselerasi transformasi digital melalui pelayanan infrastruktur dan menciptakan konten kreatif sebagai sarana promosi desa wisata melalui media digital.

Di samping itu, juga harus mampu memenuhi kategori kelembagaan dan SDM untuk meningkatkan lapangan kerja, dampak ekonomi, serta mendukung kesetaraan gender dalam pelibatan SDM di desa wisata.

"Terakhir ada kategori resiliensi. Dimana pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan dengan memperhatikan isu lingkungan serta memiliki manajemen risiko," ujarnya.

Semua desa wisata di Berau telah mengunggah kelengkapan profil desa wisata di situs Jadesta atau Jejaring Desa Wisata. Hasilnya, kini ada 7 desa wisata yang lolos ADWI 2024. Semua desa yang masuk merupakan unggulan di Kabupaten Berau karena memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing.

Diungkapkan Samsiah, sebenarnya ada 20 desa wisata di Kabupaten Berau yang telah memiliki SK Desa Wisata. Namun, kali ini ada 7 desa yang masuk dalam 300 besar. Targetnya Berau mampu masuk dalam kategori 100 besar, 75 besar hingga 50 besar. Pihaknya sendiri masih menunggu hingga pengumuman selanjutnya, karena bisa saja diumumkan secara tiba-tiba.

"Harapannya ada desa wisata di Berau yang masuk 50 besar. Karena terakhir kita hanya mampu sampai ke 100 besar saja," katanya.

Menurutnya, dengan daya tarik yang dimiliki masing-masing desa wisata tentu Berau tidak kalah dengan daerah lain. Terlebih pembinaan SDM menjadi fokus Disbudpar untuk dikembangkan dan ditingkatkan. Pun masyarakat sudah banyak yang sadar akan efek ganda yang ditimbulkan dari sektor pariwisata.

"Sejak awal kami sudah mendorong desa wisata untuk mengikuti ADWI dan meminta mereka untuk mempersiapkan diri. Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan bersama bisa tercapai," tutupnya. (*/aja/sam)

 
Editor : Muhammad Sholehudin Al Ayubi
#berau #pariwisata #ADWI