BERAU POST – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menuntaskan revitalisasi tahap pertama kawasan Kota Tua Teluk Bayur pada tahun lalu.
Revitalisasi tersebut menyasar tiga bangunan utama peninggalan sejarah dengan total anggaran sekitar Rp 4 miliar.
Tiga bangunan itu di antaranya museum yang berlokasi di bekas kantor Camat Teluk Bayur, gedung bioskop, serta gapura di pertigaan lampu merah Teluk Bayur.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Samsiah Nawir mengatakan, revitalisasi ini merupakan bagian dari implementasi master plan pengembangan Kota Tua Teluk Bayur yang telah disusun sejak 2020.
Selama ini, kawasan tersebut dikenal sebagai kota tua, namun belum memiliki arah pengembangan yang jelas dan terencana.
Menurutnya, sejak awal keberadaan Kota Tua Teluk Bayur hanya sebatas wacana tanpa tindak lanjut nyata. Perencanaan yang ada belum sampai pada tahap implementasi.
Karena itu, Disbudpar menjadikan penyusunan master plan sebagai prioritas utama agar pengembangan kawasan memiliki arah yang jelas dan berkelanjutan.
“Setelah master plan selesai, di tahun kedua langsung diimplementasikan. Makanya dilanjutkan revitalisasi sarana dan prasarana di tiga titik, yakni gapura, gedung bioskop, dan museum di eks kantor camat Teluk Bayur,” ujarnya, Jumat (23/1).
Dijelaskan, penempatan museum dilakukan berdasarkan hasil kajian dan riset tenaga ahli. Awalnya, bangunan kamar bola akan dijadikan sebagai museum batu bara.
Namun, hasil kajian merekomendasikan agar fungsi bangunan dikembalikan sesuai fungsi aslinya demi menjaga autentisitas dan nilai sejarah.
“Sesuai hasil riset, museum tidak ditempatkan di kamar bola, tapi di eks kantor camat Teluk Bayur. Sedangkan kamar bola tetap dijadikan ballroom atau ruang pertemuan,” jelasnya.
Dengan demikian, bangunan kamar bola dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti pernikahan, konferensi, rapat, maupun pertemuan berskala besar lainnya.
Kemudian, museum yang berada di bekas kantor camat difungsikan untuk menceritakan sejarah Kota Tua Teluk Bayur secara menyeluruh, tidak hanya terbatas pada sejarah batu bara.
Meski ukuran museum tidak terlalu besar, namun dinilainya sudah mencukupi untuk kebutuhan penyajian sejarah. Museum akan memuat cerita sejarah kawasan, dilengkapi bukti-bukti autentik, gambaran kondisi masa lalu, serta diorama.
Dalam pengelolaannya, Disbudpar masih menunggu kesepakatan internal dari Pemerintah Kecamatan Teluk Bayur terkait pengelola museum. Selain kelompok sadar wisata (pokdarwis), ada keinginan organisasi lain dan anak-anak muda setempat dalam pengelolaan.
Disbudpar juga berencana melibatkan perusahaan-perusahaan batu bara untuk berkontribusi dalam pengisian ruang museum.
Nantinya, ruang tertentu dapat diisi oleh perusahaan yang bersedia berkontribusi, dengan menampilkan contoh batu bara, penjelasan kualitas, hingga miniatur alat berat.
Sementara, Disbudpar bersama pihak Kecamatan Teluk Bayur akan mengisi konten sejarah kota tua berdasarkan bukti-bukti autentik yang ada.
Selain museum, gedung bioskop juga telah dirampungkan. Meski sempat mengalami keterlambatan, kondisi gedung tersebut kini sudah cukup baik dan dapat difungsikan kembali sebagai gedung pemutaran film.
“Fungsinya memang dikembalikan sebagai gedung film. Tempat duduk yang masih bagus kita pertahankan, lengkap dengan fasilitas pemutaran dan ruang poster,” katanya.
Ke depan, gedung bioskop tersebut direncanakan menjadi pusat pemutaran film, baik film-film lama maupun film bersejarah, sekaligus ruang kolaborasi subsektor ekonomi kreatif di bidang perfilman.
Pengembangan kawasan Kota Tua Teluk Bayur sendiri mengusung konsep walking tour. Jarak antarobjek wisata dinilai cukup dekat, mulai dari ballroom, museum Kota Tua, Museum Siraja, hingga gedung bioskop.
Konsep ini diharapkan menghadirkan produk wisata sejarah, budaya, dan edukasi yang terintegrasi.
Diakuinya, revitalisasi Kota Tua Teluk Bayur belum sepenuhnya selesai dan baru memasuki tahap pertama.
Ke depan masih akan ada peningkatan kualitas dan penambahan amenitas secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi keuangan daerah.
“Yang jelas seluruh pengembangan akan tetap mengacu pada master plan yang telah disusun. Targetnya, sebelum akhir tahun sudah bisa dibuka untuk umum,” terangnya.
Sebelumnya, Bupati Berau Sri Juniarsih mengatakan, pihaknya terus berupaya mengembangkan sektor pariwisata di Kabupaten Berau.
Kini tidak lagi semata bertumpu pada pesona alam, tetapi juga diarahkan pada penguatan wisata berbasis sejarah dan budaya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melihat peninggalan sejarah sebagai identitas daerah yang memiliki potensi besar untuk dikemas menjadi destinasi wisata edukatif sekaligus bernilai ekonomi.
Melalui program revitalisasi cagar budaya, Pemkab Berau berkomitmen menjaga dan merawat warisan leluhur tanpa menghilangkan keaslian bangunan maupun nilai historis kawasan bersejarah.
Langkah ini menjadi strategi jangka panjang untuk memperkaya ragam destinasi wisata, sekaligus memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat luas dan generasi muda.
Pembangunan daerah harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya.
Menurutnya, sejarah dan tradisi merupakan kekuatan daerah yang tidak boleh tergerus oleh arus modernisasi.
“Budaya adalah aset penting bagi daerah. Kita tidak boleh meninggalkan tradisi, justru harus memastikan nilai-nilai budaya ini tetap hidup dan diwariskan kepada generasi selanjutnya,” ujarnya kepada awak media ini.(aja/arp)
Editor : Nurismi