HARIAN RAKYAT KALTARA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) memastikan arah pembangunan sektor pariwisata pada tahun 2026 tetap difokuskan pada penguatan destinasi unggulan yang telah memiliki perencanaan matang.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pengembangan pariwisata di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltara Njau Anau menjelaskan, kondisi anggaran pada tahun 2026 dipastikan mengalami penurunan.
Oleh karena itu, pemerintah daerah harus lebih selektif dalam menentukan program dan kegiatan yang akan dijalankan.
Menurutnya, prioritas utama tetap diberikan kepada destinasi wisata yang telah berkembang dan memiliki perencanaan jelas.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap pembangunan pariwisata dapat berjalan lebih efektif serta memberikan dampak nyata bagi daerah dan masyarakat.
“Kita tetap memprioritaskan destinasi unggulan. Namun semua harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tahun depan semakin menurun,” ujarnya, Jumat (6/3).
Ia menambahkan, arah pengembangan pariwisata di Kaltara tetap berpedoman pada rencana induk pembangunan pariwisata daerah yang telah ditetapkan sebelumnya.
“Dalam dokumen tersebut, sejumlah wilayah telah ditetapkan sebagai fokus pengembangan. Karena memiliki potensi wisata yang kuat maupun program pengembangan yang sudah berjalan,” tuturnya.
Beberapa daerah yang menjadi perhatian dalam pengembangan pariwisata antara lain Sebatik, Malinau, Bulungan, Tana Tidung, hingga Tarakan.
Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki daya tarik wisata yang potensial. Serta didukung oleh berbagai program pengembangan yang telah dirintis dalam beberapa tahun terakhir.
“Sebagai contoh, kawasan Sebatik telah memiliki beberapa titik destinasi yang mulai dikembangkan. Sementara itu, Kabupaten Malinau dikenal dengan kawasan Tanah Ulen serta sejumlah desa wisata yang sudah cukup mapan dan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan,” bebernya.
Ia menegaskan, keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus memaksimalkan potensi destinasi yang sudah berkembang terlebih dahulu.
Pengembangan destinasi baru dinilai masih memerlukan kajian panjang. Mulai dari perencanaan hingga kesiapan infrastruktur pendukung.
“Karena itu, destinasi baru belum menjadi prioritas utama dalam program pembangunan pariwisata tahun 2026. Kita optimis, tapi juga realistis. Fokus kita pada apa yang sudah berjalan agar hasilnya lebih maksimal,” tutupnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi