HARIAN RAKYAT KALTARA— Relokasi pedagang buah musiman dari depan Lapangan Tenis Indoor Telaga Keramat ke area samping gedung tidak sekadar memindahkan lapak.
Bagi sebagian pedagang, kebijakan ini juga berarti memindahkan harapan. Sekaligus mempertaruhkan rezeki di tempat baru yang belum sepenuhnya mereka yakini menjanjikan.
Santi, pedagang buah musiman yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari jual beli buah mengaku mengikuti relokasi yang ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan.
Namun di balik kepatuhan itu, tersimpan kegelisahan mengenai potensi sepinya pembeli.
“Kami pasti pindah, tidak mungkin tidak pindah karena ini maunya pemerintah. Tapi maksud saya, bikinkan dulu kami tempat baru, baru kami pindah,” ucap Santi, Rabu (11/2).
Di lapaknya, Santi menjajakan berbagai jenis buah musiman seperti cempedak, duku, elai, hingga durian.
Menurutnya, karakter dagangan buah sangat bergantung pada posisi strategis. Lokasi di pinggir jalan dianggap lebih menguntungkan karena memanfaatkan pembeli yang melintas.
“Jualan buah itu sebenarnya harus di pinggir jalan. Orang lihat sekilas langsung beli. Kalau di dalam, kasihan. Tapi mudah-mudahan saja rezeki di lokasi baru tetap ada,” katanya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Santi menjelaskan bahwa buah yang ia jual bukan berasal dari kebun sendiri. Melainkan didatangkan dari luar daerah, bahkan hingga Tanjung Selor.
Artinya, modal yang dikeluarkan cukup besar dan harus segera berputar agar tidak menimbulkan kerugian.
“Buah musiman ini biasanya bertahan tiga sampai empat bulan. Kalau penjualan sepi dan modal habis, mau bagaimana lagi,” ujarnya.
Sebagai pedagang musiman, Santi tidak berjualan sepanjang tahun. Ia hanya membuka lapak saat musim buah tiba.
Meski demikian, ia mengaku sudah menekuni usaha tersebut lebih dari 10 tahun, bahkan mendekati 20 tahun.
Selama itu pula, ia beberapa kali berpindah lokasi sebelum akhirnya cukup lama berjualan di kawasan Telaga Keramat.
Namun bagi pedagang seperti Santi, relokasi bukan sekadar urusan pindah tempat. Melainkan soal adaptasi dan ketahanan bertahan hidup. Ia hanya berharap satu hal.
Yakni lapak baru tetap menghadirkan pembeli, agar roda usaha kecil yang telah ia jalani puluhan tahun tidak berhenti di tengah jalan.
Camat Tarakan Timur Boby Deen Marten mengatakan, lokasi baru bagi para pedagang telah disiapkan di samping Gedung Tenis Indoor Telaga Keramat.
Relokasi ini, kata dia, bukan dilakukan secara mendadak, melainkan melalui tahapan koordinasi dan kesepakatan bersama.
“Relokasi ini sudah melalui koordinasi dan kesepakatan bersama. Sebagian besar pedagang sudah pindah dan lokasi lama dipastikan dikosongkan,” ujar Boby.
Berdasarkan data kecamatan, terdapat 17 pedagang yang terdaftar dalam program relokasi tersebut.
Seluruhnya telah memindahkan lapak, kecuali satu pedagang buah musiman bernama Pak Songo yang masih diberikan toleransi waktu hingga Kamis untuk membongkar lapaknya secara mandiri.
“Masih ada satu pedagang karena menjual buah musiman. Dia meminta waktu sampai Kamis untuk pembongkaran,” jelasnya.
Untuk mencegah pedagang kembali berjualan di lokasi lama, petugas disiagakan di kawasan tersebut. Pengawasan melibatkan Satpol PP Kota Tarakan serta Satpol PP Kecamatan Tarakan Timur.
Boby menambahkan, mayoritas pedagang menerima kebijakan relokasi karena sebelumnya telah dilakukan sosialisasi dan pendekatan persuasif.
Pemerintah berharap dengan penataan ini, kawasan Telaga Keramat menjadi lebih tertib. Sementara aktivitas ekonomi pedagang tetap berjalan di lokasi baru. (sas/uno)
Editor : Nurismi