Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

7 Filosofi Hidup Orang Jepang yang Bikin Mereka Unggul di Dunia Kerja

Beraupost • Sabtu, 10 Mei 2025 | 06:00 WIB
Potret orang-orang Jepang. (foto : Unsplash.com/kiki)
Potret orang-orang Jepang. (foto : Unsplash.com/kiki)

BerauPost - Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Jepang adalah salah satu negara di Asia yang terkenal dengan kedisiplinannya dalam segala hal, termasuk yang menyangkut dunia kerja.

Baik yang berperan sebagai karyawan maupun pemilik perusahaan, mereka sama-sama disiplin dan bertanggung jawab dalam memenuhi hak dan kewajiban.

Oleh karena itu, Jepang patut menjadi contoh agar kita mampu berkembang khususnya dalam dunia kerja.

Dilansir dari laman Killer Startups, inilah 7 cara orang Jepang mampu berkembang tanpa merasa kewalahan, di antaranya adalah:

1. Mereka merangkul "ikigai" sebagai prinsip panduan

Ikigai adalah tentang mengidentifikasi dan memelihara persimpangan dari apa yang kamu sukai, kuasai, yang dibutuhkan dunia.

Beberapa orang di Jepang menganggap ini serius, bahkan jika mereka tidak menyebutnya ikigai secara langsung.

Ini bermanifestasi sebagai menempatkan pengabdian ke dalam hobi, menjadi sukarelawan di komunitas, atau menemukan tujuan dalam pekerjaan di luar sekadar gaji.

Fokus pada ikigai menambah kejelasan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Mereka bersandar pada kepemilikan kelompok dan dukungan sosial

Rasa kebersamaan dan rasa memiliki yang kuat sering dikreditkan karena kesehatan dan ketahanan mereka yang luar biasa.

Prinsip yang lebih luas ini tidak terbatas pada Okinawa. Di seluruh Jepang, ikatan sosial bisa sangat dalam.

Pikirkan tentang bagaimana rekan kerja sering bersosialisasi bersama setelah bekerja atau bagaimana tetangga berkumpul untuk festival.

Rasa memiliki ini mungkin tampak formal atau hierarkis bagi orang luar, tetapi bagi banyak orang, ini adalah sumber dukungan.

3. Mereka menemukan ketenangan dalam ritual sehari-hari yang sederhana

Ada rasa ketertiban dan ritual dalam tugas sehari-hari yang dapat mengubah hal-hal duniawi menjadi sesuatu yang hampir meditatif.

Ambil sesuatu yang sederhana seperti menyiapkan secangkir teh matcha, dan ini bukan hanya tentang mencampur bubuk dengan air panas.

Ada urutan yang disengaja seperti menghangatkan mangkuk, mengukur teh, lalu mengocoknya dengan hati-hati.

Mengamati kepedulian itu membuat kita semua menyadari bahwa dengan berfokus pada setiap langkah, akan menjadi hadir pada saat itu.

Ketika kamu mengubah tugas rutin menjadi upacara kecil, akan mengurangi kekacauan mental.

Kamu tidak perlu melakukan upacara minum teh tradisional untuk menuai manfaatnya, sesuatu yang sederhana seperti mencuci piring dengan penuh perhatian dapat menawarkan rasa tenang yang mengejutkan.

4. Mereka beralih ke alam untuk peremajaan

Di Jepang ada yang namanya shinrin-yoku atau mandi hutan. Ini pada dasarnya berjalan-jalan perlahan dan penuh perhatian di hutan atau ruang hijau.

Idenya adalah untuk membenamkan diri di alam, melibatkan keseluruhan indra, dan memutuskan hubungan dari gangguan digital.

Banyak orang di Jepang meluangkan waktu untuk aktivitas berbasis alam ini, baik itu perjalanan sehari ke pemandian air panas di kota pegunungan atau pendakian akhir pekan.

4. Mereka beralih ke alam untuk peremajaan

Di Jepang ada yang namanya shinrin-yoku atau mandi hutan. Ini pada dasarnya berjalan-jalan perlahan dan penuh perhatian di hutan atau ruang hijau.

Idenya adalah untuk membenamkan diri di alam, melibatkan keseluruhan indra, dan memutuskan hubungan dari gangguan digital.

Banyak orang di Jepang meluangkan waktu untuk aktivitas berbasis alam ini, baik itu perjalanan sehari ke pemandian air panas di kota pegunungan atau pendakian akhir pekan.

5. Mereka menjaga makanan tetap seimbang

Pendekatan yang seimbang untuk makanan, seringkali tinggi sayuran, protein tanpa lemak, dan makanan fermentasi, berkontribusi pada kesejahteraan secara keseluruhan.

Bahkan ukuran porsi di Jepang cenderung lebih moderat dibandingkan dengan apa yang kita lihat di banyak negara Barat.

Beberapa orang juga mempraktikkan "hara hachi bu", yang berarti makan sampai kenyang sekitar 80 persen.

Makan dengan penuh perhatian dapat membantu mengatur metabolisme kita dan mencegah makan berlebihan, yang pada gilirannya memengaruhi tingkat energi dan suasana hati kita.

6. Mereka menghargai istirahat seperti tidur siang

Salah satu hal yang mungkin mengejutkan beberapa pengunjung ke Jepang adalah melihat orang-orang sesekali tertidur di kereta api atau bahkan di meja mereka. Kebiasaan ini dikenal sebagai inemuri, hadir saat tertidur.

Inemuri sering dipandang dapat diterima jika seseorang tetap "tersedia secara sosial", yang berarti mereka dapat bergabung kembali dalam percakapan saat dibutuhkan.

Ini bukan tentang mendengarkan sepenuhnya, tapi seperti tidur siang strategis.

Istirahat kecil ini dapat secara signifikan memengaruhi produktivitas dan kejernihan mental.

Inemuri mungkin terlihat aneh bagi orang luar, tetapi ini merupakan cara yang menarik dan dampaknya cukup signifikan.

7. Mereka melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan

Konsep estetika Jepang wabi-sabi mengajarkan kita untuk menghargai keindahan dalam ketidaksempurnaan.

Dalam masyarakat yang bisa sangat menuntut, wabi-sabi menawarkan penyeimbang seperti mangkuk teh yang terkelupas dihargai.

Karena kekurangannya yang unik, pohon sakura yang mekar dihargai justru karena tidak akan mekar lama.

Pola pikir ini mengingatkan untuk melepaskan obsesi dengan kesempurnaan. Stres sering diperkuat oleh perasaan bahwa kita harus mengendalikan setiap hasil.

Wabi-sabi menyarankan pendekatan yang berbeda, menerima kehidupan apa adanya, kekurangan, dan menemukan ketenangan dalam penerimaan itu.

Melansir dari laman Suka Jepang pada Kamis (08/05) meskipun sumber daya alam Jepang tidak banyak dan melimpah.

Tetapi Negeri Sakura ini mampu memiliki kekuatan ekonomi yang cukup besar karena berkat disiplin dan kerja keras.

Hal ini bisa membuktikan bahwa walaupun kita tidak punya fasilitas dari orang tua atau apapun itu, tapi semuanya bisa berkembang melalui ketekunan, kesungguhan, dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang baik tanpa mengorbankan diri sendiri maupun orang lain. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#dunia kerja #jepang #disiplin