Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ekonomi RI Terancam 'Panas Dingin' Imbas Perang Iran, Siap-Siap Harga BBM dan Bahan Pangan Naik!

Beraupost • Selasa, 3 Maret 2026 | 05:55 WIB

Drone Iran menghantam fasilitas militer AS di Kuwait. (Al Jazeera)
Drone Iran menghantam fasilitas militer AS di Kuwait. (Al Jazeera)

BERAU POST - Lembaga riset Center of Economic Studies (Celios) mengungkap dampak yang disebabkan oleh rentetan konflik di Timur Tengah, yakni serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran yang kemudian direspons dengan serangan balik oleh Teheran.

Bahkan, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan AS-Israel, seorang yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade.

Terhadap ekonomi Indonesia sendiri, Celios berpendapat, dampak yang akan terjadi yakni kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga nilai mata uang rupiah yang melemah.

Celios menyebut, perang ini berisiko membuat harga BBM mengalami kenaikan. Sebab, harga minyak mentah jenis Brent sejak awal 2026 sudah naik 20,7 persen menjadi USD 72,8 per barel.

"Skenario terburuknya, harga minyak dunia berpotensi naik menjadi USD 100 hingga USD 120 per barel," tulis Celios melalui akun Instagram resminya, dikutip pada Senin (2/3).

Sementara itu, subsidi energi dengan fosil akan semakin mengalami ketergantungan. Subsidi energi pun akan semakin berat di saat konflik negara produsen minyak terjadi.

Sebagai negara importir bersih minyak, Indonesia akan turut terdampak saat harga minyak dunia meningkat.

Pada simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel di atas asumsi APBN yang dipatok USD 70 per barel diperkirakan dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.

Adapun total 20 persen kapal pengangkut minyak dunia melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Rata-rata volume pengiriman bulanan minyak mentah yang melalui Selat ini diantara 2-4 juta metrik ton per Februari 2026.

Tak hanya itu, rupiah juga diakui akan melemah sementara emas semakin menguat. Fenomena gold rush masih akan terjadi dengan harga emas global yang naik 48,4 persen dalam 6 bulan terakhir.

“Panas di timur tengah menjadi pemicunya. Kalau geopolitik kacau kita sebut flight to quality. Investor geser dari aset berisiko ke aset yang resikonya lebih rendah,” ungkapnya.

Bahkan, perang ini juga akan akan berdampak pada inflasi pangan yang terus menggerus tabungan.

Potensi kenaikan harga pun bisa terjadi pada sejumlah komoditas seperti ayam, telur, beras, dan sayuran.

Ditambah terdapat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan komoditas ini.

Kondisi ini dinilai berisiko menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah, sehingga pendapatan yang bisa dibelanjakan (disposable income) berpotensi semakin turun.

Sementara itu, Celios menyebut bahwa kondisi ini juga bisa memicu terjadinya fenomena ‘flight to quality’, yang mana portofolio investor mengalami pergeseran dari aset beresiko ke hal yang dinilai lebih aman seperti emas. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#konflik #amerika serikat #iran #as #harga minyak