Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pasca-Kunjungan Asia, Trump Negosiasi dengan Xi Jinping di Busan, KTT Jadi Momen Jaga Stabilitas Global

Beraupost • Jumat, 31 Oktober 2025 | 05:35 WIB
Menyoroti pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping di tengah situasi perang tarif dagang. (Instagram.com / @realdonaldtrump - @xi_jinping_)
Menyoroti pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping di tengah situasi perang tarif dagang. (Instagram.com / @realdonaldtrump - @xi_jinping_)

BERAU POST - Di tengah tensi perang dagang, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping kini bertemu di Busan, Korea Selatan, pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Pertemuan ini menandai babak baru dalam upaya meredakan konflik dagang dua raksasa ekonomi dunia itu.

Keduanya tampak berusaha menunjukkan gestur damai setelah berbulan-bulan saling balas kebijakan yang memicu kekhawatiran global.

Sebagian publik juga menyoroti pertemuan tersebut sebagai puncak dari rangkaian kunjungan Trump ke Asia yang dimulai sejak akhir pekan lalu.

Setelah menuntaskan lawatan ke Malaysia dan Jepang, Trump tiba di Korsel dengan satu misi besar, yakni membuka peluang kesepakatan baru dengan Beijing yang bisa mengakhiri perang tarif berkepanjangan.

Dalam pertemuannya dengan Xi Jinping di Busan, Trump menyebut momen itu sebagai salah satu negosiasi paling menantang sepanjang karier politiknya.

Meski begitu, Trump mengaku tetap optimistis dapat membangun kembali kepercayaan di antara kedua negara, yang kini tengah diuji oleh kebijakan ekonomi saling mengunci.

“Saya yakin ini akan menjadi pertemuan yang sangat sukses. Tapi dia (Xi) adalah negosiator yang sangat tangguh,” ujar Trump sembari berjabat tangan dengan Xi, seperti dikutip Reuters, pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Xi Jinping turut menyoroti gesekan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu adalah sesuatu yang wajar.

Kendati demikian, menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana keduanya mampu mengelola perbedaan dan membangun kemitraan jangka panjang.

“Adalah hal normal bagi dua negara besar untuk mengalami gesekan, tapi yang utama adalah bagaimana kita bisa terus berupaya menjadi mitra dan sahabat,” kata Xi.

“Saya bersedia bekerja sama dengan Presiden Trump untuk membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan Tiongkok-AS,” sambungnya.

Ucapan Xi memberi sinyal Beijing tak menutup pintu negosiasi, meskipun ketegangan imbas aksi saling balas tarif yang hingga kini masih terasa.

Menilik ke belakang, selama beberapa bulan terakhir, hubungan dagang AS–China memburuk akibat aksi saling balas tarif.

Kedua negara menerapkan sanksi yang menghantam berbagai sektor, mulai dari teknologi tinggi hingga logam tanah jarang.

Terbaru, keduanya bahkan saling mengenakan tarif tambahan terhadap kapal asing yang berlabuh di pelabuhan masing-masing.

Kementerian Transportasi China baru-baru ini menetapkan biaya pelabuhan baru bagi kapal berbendera AS sebesar 400 yuan atau setara Rp937.364 per tonase (kapasitas ruang muat dalam kapal) bersih yang akan naik bertahap hingga 1.120 yuan atau Rp2,6 juta pada 2028.

Tak lama berselang, Trump membalas dengan menaikkan tarif impor barang asal China hingga 100 persen serta membatasi ekspor perangkat lunak penting ke Beijing.

Langkah saling balas ini menciptakan efek domino bagi rantai pasok global, termasuk ke Indonesia yang dinilai masih bergantung pada stabilitas ekspor bahan mentah dan produk manufaktur.

Terkait aksi saling balas tarif AS-China dalam sektor biaya pelabuhan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie sempat menilai adanya dinamika dalam sistem perdagangan dunia saat ini.

Anindya menyebut, perang tarif bukan lagi sekadar kompetisi ekonomi, tetapi menunjukkan ketidakkonsistenan kebijakan global yang dapat mengguncang kestabilan pasar.

“Secara umum, dunia sekarang penuh tantangan. Tarif itu bukan hanya soal saling mengungguli. Yang lebih bahaya justru ketidakkonsistenan kebijakan yang terus berulang,” ujar Anindya dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta, pada 11 Oktober 2025.

Ketum Kadin itu menyoroti kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi Indonesia untuk memperluas pasar ke kawasan Eropa, yang dinilai lebih konsisten dan memiliki ukuran pasar mencapai 21 triliun dolar AS atau setara Rp349,2 triliun.

“Karena market size-nya besar dan kebijakan mereka lebih stabil, itu menjadi peluang bagi kita,” tukas Anindya. (smi)

Editor : Nurismi
#china #amerika serikat #pertemuan #perang dagang