BERAU POST – Ketersediaan air bersih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan pariwisata di Pulau Maratua.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan, sumber air bersih menjadi salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian dalam upaya menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat sekaligus pengembangan pariwisata Maratua.
Dari empat kampung yang ada di Maratua katanya, Kampung Teluk Harapan disebut memiliki sumber air yang berpotensi memenuhi kebutuhan tersebut.
Keberadaan sumber air itu juga telah diperkuat melalui kajian tim Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, sumber air yang menjadi andalan tersebut menghadapi ancaman abrasi.
“Kondisi ini menambah urgensi upaya perlindungan sumber air bersih agar keberadaannya tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” terangnya.
“Kalau mau menyelamatkan Maratua dan masyarakatnya, sumber air bersih ini juga menjadi poin kita untuk mengembangkan pariwisata dan masyarakatnya,” ujarnya belum lama ini.
Menurut dia, keberadaan sumber air yang terancam abrasi perlu menjadi perhatian karena menyangkut kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
TerlebihnMaratua merupakan kawasan kepulauan yang membutuhkan dukungan infrastruktur dasar untuk menunjang aktivitas penduduk maupun kegiatan pariwisata.
Salah satu alternatif yang pernah muncul untuk menjawab keterbatasan air tawar di wilayah kepulauan adalah penggunaan teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih. Namun hingga kini belum ada arah yang jelas untuk penerapan teknologi tersebut di Maratua.
Ia mengatakan, pemanfaatan teknologi pengolahan air asin menjadi air tawar belum menjadi solusi yang dapat diandalkan saat ini. Karena itu, persoalan sumber air yang tersedia tetap menjadi hal krusial untuk diperhatikan.
“Teknologi untuk mengolah air asin menjadi air tawar memang ada, tetapi sampai saat ini belum ada arah ke sana. Jadi, masalah air bersih ini sangat krusial,” katanya.
Sementara Camat Maratua, Ashari, mengakui persoalan abrasi di Pulau Maratua khususnya Kampung Teluk Harapan kini turut mengancam ketersediaan air bersih. Intrusi air laut menyebabkan sumber air warga menjadi payau, bahkan disebut telah terpapar timbal.
Di Kampung Teluk Alulu, krisis air telah berlangsung selama empat bulan. Warga harus mengeluarkan biaya hingga Rp 140 ribu–Rp 180 ribu untuk mendapatkan satu tangki air tawar demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Persoalan ini juga menjadi ancaman bagi sektor pariwisata Maratua, terutama dalam memenuhi kebutuhan air bagi pengunjung.
Di sisi lain, embung bantuan pihak ketiga yang berukuran 50 x 50 meter telah dibangun, namun belum didukung sarana penunjang yang berfungsi optimal.
“Jika persoalan tersebut tidak segera ditangani, ketersediaan air tawar di Maratua terancam dalam lima tahun mendatang,” katanya. (aja/sam)
Editor : Nurismi