Hadapi Kendala Keterbatasan SDM dan Teknologi, DLHK Berau Sebut Pembersihan Sungai Butuh Dukungan

Nurismi • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:50 WIB
ILUSTRASI: DLHK Berau masih kekurangan tenaga operasional dan membutuhkan dukungan sapras menangani sampah di Sungai Segah dan Sungai Kelay. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: DLHK Berau masih kekurangan tenaga operasional dan membutuhkan dukungan sapras menangani sampah di Sungai Segah dan Sungai Kelay. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam menangani sampah di sungai.

Meski armada pengangkut sampah telah dikerahkan, upaya pembersihan dinilai masih membutuhkan dukungan personel, sarana dan prasarana (sarpras), serta teknologi yang sesuai dengan kondisi sungai.

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan, penanganan sampah di Sungai Segah dan Sungai Kelay tidak cukup hanya mengandalkan kapal pengangkut sampah.

Sebab, sampah yang ditemukan tidak sebatas plastik, tetapi juga kayu berukuran besar yang membutuhkan peralatan khusus untuk diangkat.

Menurutnya, diperlukan teknologi yang mampu menjangkau dan membersihkan sampah dengan karakteristik tersebut. Dukungan sarpras menjadi salah satu kebutuhan agar penanganan sampah di sungai bisa berjalan lebih efektif.

“Bukan hanya sarpras itu saja, tetapi juga bagaimana teknologi untuk mengambil sampah di sana. Itu yang kita harapkan ada dukungan,” ujarnya Kamis (8/10).

Disebutnya, DLHK telah mengerahkan armada untuk melakukan pembersihan, terutama terhadap sampah plastik yang mengapung di sungai.

Namun, upaya tersebut perlu ditunjang dengan jumlah tenaga operasional yang memadai agar kegiatan pembersihan dapat berjalan optimal.

Saat ini terdapat tiga kapal pengangkut sampah yang digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut. Namun, jumlah armada itu perlu diimbangi dengan ketersediaan petugas yang mengoperasikan kapal sekaligus menangani sampah yang ditemukan di lapangan.

“Keterbatasan SDM menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian,” ucapnya.

Penambahan armada tidak akan banyak membantu apabila tidak disertai tenaga yang cukup untuk menjalankan kegiatan operasional.

Pihaknya berharap ada dukungan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, keterbatasan anggaran masih menjadi pertimbangan dalam merealisasikan sejumlah usulan yang telah disampaikan.

Di sisi lain, penanganan sampah tidak bisa hanya berfokus pada kegiatan bersih-bersih saja. Upaya pencegahan juga perlu dilakukan agar sampah tidak terus masuk ke aliran sungai.

Salah satu langkah yang dinilai perlu dipertimbangkan adalah pemasangan papan imbauan atau media informasi di sejumlah titik untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.

Selain itu, DLHK juga mendorong kerja sama dengan instansi terkait maupun pihak lain dalam menjaga kebersihan sungai.
Ia turut mengingatkan masyarakat khususnya pelaku usaha yang berjualan di sepanjang tepian sungai, agar tidak membuang sampah sembarangan.

Kesadaran masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi timbulan sampah yang mencemari sungai.

“Dengan keterbatasan anggaran yang ada, mudah-mudahan masyarakat juga tidak membuang sampah sembarangan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Asisten II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Setda Berau, Mustakim Suharjana, mengatakan keberadaan Sungai Segah dan Sungai Kelay memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat.

Kedua sungai tersebut tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas transportasi, perikanan, pertanian hingga keramba.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Bersih Sungai Segah dalam rangka memperingati Hari Sungai Nasional 2026, Kamis (8/10).

Kegiatan tersebut diisi dengan aksi gotong royong membersihkan bantaran Sungai Segah bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau serta sejumlah pemangku kepentingan.

Pun menjaga sungai membutuhkan keterlibatan lebih luas. Pemerintah memiliki kewajiban dalam menyiapkan regulasi, infrastruktur, pengelolaan serta pengawasan.

Namun, upaya tersebut tidak akan berjalan maksimal apabila masyarakat dan pihak lainnya tidak ikut menjaga kebersihan sungai.

Ia menilai persoalan sampah yang masuk ke sungai sebagian besar berkaitan dengan pengelolaan dari sumbernya. Sampah rumah tangga yang tidak ditangani dengan baik berpotensi terbawa air hujan dan masuk ke aliran sungai.

Karena itu, kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah perlu diperkuat. Tidak cukup hanya mengingatkan masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mendorong setiap rumah tangga untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.

“Pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya tentunya dapat membantu mengurangi beban pencemaran sungai,” terangnya.

Upaya tersebut juga membutuhkan dukungan dari dunia usaha, komunitas dan generasi muda agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih yang dilakukan sesekali. (aja/sam)

Editor : Nurismi
pembersihan sungai DLHK Berau