Libatkan Penulis Bali hingga Depok, Buku Anak Petualangan Raya di Kota Sanggam Resmi Diluncurkan

Nurismi • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 19:10 WIB
HIDUPKAN BUDAYA: Penulis dan ilustrator berkolaborasi mengangkat Objek Pemajuan Kebudayaan Berau melalui buku cerita anak bergambar Petualangan Raya di Kota Sanggam. (IZZA/BP)
HIDUPKAN BUDAYA: Penulis dan ilustrator berkolaborasi mengangkat Objek Pemajuan Kebudayaan Berau melalui buku cerita anak bergambar Petualangan Raya di Kota Sanggam. (IZZA/BP)

Dari Bali, Depok, Jakarta, Bandung, Samarinda, hingga Berau, para penulis dan ilustrator dipertemukan dalam satu proyek untuk menghidupkan cerita budaya Berau melalui buku anak.

Kolaborasi lintas daerah itu melahirkan Petualangan Raya di Kota Sanggam, buku cerita anak bergambar berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan yang menjadi bagian dari Festival BaBaDa: Tumbuh & Bertemu yang diluncurkan di Kafe Tumbuh, Sabtu (3/10).

AMNIL IZZA, Tanjung Redeb

Buku tersebut merupakan hasil Lokakarya Penulisan Buku Cerita Anak Bergambar Berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang digagas Komunitas Literasi Gerobooks Berau, juga difasilitasi Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian.

Founder Komunitas Literasi Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, mengatakan, proyek ini berangkat dari persoalan yang cukup mendasar, di mana Berau memiliki kekayaan budaya yang beragam, tetapi dokumentasi dalam bentuk buku mengenai Objek Pemajuan Kebudayaan daerah tersebut masih minim.

Sebagian cerita lokal masih diwariskan secara lisan, sehingga belum banyak hadir dalam bentuk bacaan yang mudah diakses, khususnya oleh anak-anak.

Kondisi serupa terlihat pada ketersediaan buku cerita anak bergambar yang mengangkat budaya Berau. Buku-buku semacam itu yang beredar di sekolah maupun taman bacaan masyarakat masih terbatas.

Karena itu, pengenalan budaya melalui cerita anak menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam program tersebut.

Dijelaskan, Berau memiliki lanskap budaya yang terbentuk dari keberadaan tiga suku asli yakni Banua, Bajau dan Dayak, serta beragam suku pendatang.

Keragaman tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah yang dapat diolah menjadi bahan cerita, sekaligus diperkenalkan kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan keseharian mereka.

Festival BaBaDa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sebuah buku. Tapi juga dirancang sebagai gerakan literasi budaya yang mempertemukan berbagai unsur dalam satu proses kreatif.

Penulis, ilustrator, budayawan, akademisi, guru, komunitas literasi, pemerintah daerah dan masyarakat dilibatkan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Prosesnya berlangsung melalui lokakarya, riset lapangan, pendampingan kreatif, penyuntingan, hingga penerbitan. Peserta tidak hanya belajar menghasilkan karya, tetapi juga mengolah kekayaan budaya lokal menjadi cerita yang dapat diterima oleh pembaca anak.

“Kolaborasi itu melibatkan penulis dari sejumlah wilayah yang ada di Indonesia,” sebutnya.

Ni Nyoman Ayu Suciartini berasal dari Bali, Ridhayani Purba dan Hervianna Arta dari Depok, SLA dari Jakarta. Sementara dari Berau terdapat Renggita Dwi Trisnoviyanti, Aswan, Eka Novitasari dan Widi Ainun Amalia.

Selanjutnya, untuk ilustrasi juga melibatkan kreator dari berbagai daerah. Moktita Widya dan Mariam Rabiatul Adawiyah berasal dari Bandung, Farah Aima Syahida dari Jakarta, Azarine Islamey Rahma dari Samarinda, Dilla Pratiwi dari Sangata, serta Seno Wicaksono dari Bogor. Dari Berau turut terlibat Shela Cahaya Maharani, Berliani Nur Isnaini dan Fillah M. Rosyada.

Pertemuan para kreator dengan latar belakang berbeda itu menjadi bagian dari proses untuk menerjemahkan cerita dan kekayaan budaya Berau, ke dalam bentuk visual yang dapat dinikmati anak-anak.

“Penulis mengolah cerita, sementara ilustrator memberikan bentuk visual yang membantu pembaca anak mengenali dunia yang dibangun dalam buku,” tuturnya.

Dalam prosesnya, penulis dan ilustrator asal Berau, Fauziah Noviyan dan Widi Ainun Amalia, turut mendampingi kegiatan. Juga Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Samsiah, juga hadir sebagai narasumber.

Rangkaian Festival BaBaDa mencapai puncaknya dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari. Peluncuran buku menjadi salah satu agenda utama, disertai diskusi karya bersama penulis dan ilustrator serta kegiatan membaca buku bersama.

Setelah diluncurkan, Petualangan Raya di Kota Sanggam diberikan kepada sebanyak 50 sekolah di Kabupaten Berau, baik jenjang TK maupun SD.

Buku hasil lokakarya itu diharapkan bisa memperluas akses anak terhadap bacaan yang membawa cerita tentang lingkungan budaya mereka sendiri.

Sementara Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian menyampaikan apresiasinya terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Saya turut bangga bisa mendukung penuh kegiatan ini dan mengapresiasi semangat panitia, seniman, budayawan, generasi muda dan masyarakat yang terlibat untuk terus menjaga dan menghidupkan seni serta kebudayaan daerah etam,” kata Hetifah.

Menurutnya, kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga warisan masa lalu. Generasi muda juga perlu mendapatkan ruang untuk berkarya dan berkreasi, sehingga dapat membangun masa depan dengan identitas yang kuat.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bertemunya berbagai kreativitas, kebersamaan, dan semangat untuk terus mencintai budaya.

Upaya mendokumentasikan cerita budaya melalui buku anak sangat penting disaat sebagian pengetahuan lokal masih bertumpu pada tradisi lisan. (sam)

Editor : Nurismi
Festival BaBaDa kolaborasi