Siapkan Ruangan dan SDM, RSUD dr Abdul Rivai Berau Segera Terima Alokasi Alkes Senilai Rp 150 Miliar

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 12:11 WIB
TERIMA BANTUAN: RSUD dr Abdul Rivai Berau menyiapkan sarana dan SDM untuk menerima bantuan alat kesehatan dari Kemenkes. (BERAU POST)
TERIMA BANTUAN: RSUD dr Abdul Rivai Berau menyiapkan sarana dan SDM untuk menerima bantuan alat kesehatan dari Kemenkes. (BERAU POST)

BERAU POST — Manajemen RSUD dr Abdul Rivai Berau tengah menyiapkan fasilitas dan tenaga kesehatan sebelum sejumlah alat kesehatan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diterima.

Kesiapan itu menjadi syarat, agar peralatan yang telah dialokasikan dapat segera digunakan untuk menunjang pelayanan kepada masyarakat.

Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Jusram, mengatakan, dukungan alat kesehatan tersebut merupakan bagian dari program Kemenkes yang telah berjalan sejak 2024.

Melalui program itu, pemerintah pusat memberikan dukungan berupa sarana, prasarana, serta berbagai peralatan medis kepada rumah sakit di daerah.

Peluang Berau memperoleh dukungan tersebut kembali terbuka, setelah kunjungan Presiden Joko Widodo ke Berau pada 2024 lalu.

Setelah momen itu, program bantuan kembali dibuka secara khusus, sehingga kebutuhan peralatan yang diajukan RSUD dr Abdul Rivai bisa masuk dalam alokasi bantuan.

Sejumlah layanan menjadi sasaran penguatan melalui bantuan tersebut. Peralatan yang dialokasikan antara lain untuk pelayanan kateterisasi jantung atau cath lab, kesehatan ibu dan anak, kemoterapi, urologi, neurologi, serta layanan ginjal.

Jusram menyebut sebagian besar peralatan tersebut telah ditetapkan sejak 2025. Namun keberadaan alat belum otomatis membuat peralatan langsung dikirim ke rumah sakit.

Kemenkes masih menunggu kesiapan ruangan, infrastruktur pendukung, serta tenaga yang akan mengoperasikan peralatan tersebut.

“Barangnya sebenarnya sudah ada sejak 2025. Tinggal di-drop ke kita. Tetapi alat tidak akan diturunkan kalau rumah sakit belum menyiapkan sarana, prasarana, dan SDM,” katanya.

Karena itu, pihaknya kini melakukan berbagai persiapan sembari terus berkoordinasi dengan Kemenkes. Agar ketika peralatan dikirim, seluruh kebutuhan pendukung sudah tersedia dan alat dapat segera dimanfaatkan.

Total nilai peralatan yang dialokasikan untuk RSUD dr Abdul Rivai diperkirakan mencapai sekitar Rp 150 miliar.

Namun, mekanisme penggunaan serta tahapan realisasi dukungan tersebut masih menunggu pengaturan lebih lanjut dari Kemenkes. Penyesuaian terhadap kebutuhan rumah sakit juga masih dimungkinkan dalam proses tersebut.

Di tengah persiapan menerima berbagai peralatan baru, manajemen RSUD dr Abdul Rivai juga menyoroti kebutuhan penggantian salah satu perangkat penunjang diagnosis yang dinilai mendesak, yakni CT Scan.

Perangkat CT Scan yang saat ini digunakan rumah sakit telah berusia sekitar 15 tahun. Selain faktor usia, perangkat tersebut juga telah berstatus discontinued selama kurang lebih 3 tahun. Kondisi itu membuat keberlanjutan penggunaannya menjadi perhatian manajemen.

“Yang paling kita perlukan sekarang sebenarnya CT Scan. Usianya sudah 15 tahun dan sudah 3 tahun discontinued. Ini yang kami anggap cukup urgent,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan utama dari perangkat yang sudah lama bukan hanya usia pemakaian, tetapi juga ketersediaan suku cadang apabila terjadi kerusakan.

Semakin lama sebuah perangkat memasuki masa discontinued, semakin besar kemungkinan komponen penggantinya sulit diperoleh.

Jika kondisi tersebut terjadi, gangguan pada perangkat dapat berdampak terhadap layanan pemeriksaan penunjang bagi pasien.

Karena itu, kebutuhan pengadaan CT Scan baru telah disampaikan kepada Kemenkes, untuk menjadi pertimbangan dalam dukungan peralatan kesehatan berikutnya.

Pihaknya berharap kebutuhan tersebut bisa masuk dalam pembahasan bantuan selanjutnya. Sementara menunggu keputusan terkait pengadaan perangkat baru, RSUD dr Abdul Rivai tetap melanjutkan persiapan terhadap peralatan yang telah dialokasikan sebelumnya.

“Dengan kapasitas layanan yang semakin lengkap, kebutuhan pasien untuk mendapatkan pelayanan tertentu di luar Berau diharapkan dapat ditekan,” harapnya.

Sementara Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, meminta manajemen RSUD dr Abdul Rivai dapat mengelola seluruh elemen manajemen rumah sakit secara optimal, termasuk menghadirkan inovasi pelayanan yang prima kepada masyarakat.

Menurutnya, pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus menjadi prioritas. Karena itu, persoalan kekurangan obat tidak boleh sampai berdampak terhadap pelayanan pasien.

“Jangan sampai terjadi kekurangan obat yang berdampak terhadap pelayanan masyarakat,” ujarnya, belum lama ini.
Selain itu, inovasi pelayanan juga dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di RSUD Abdul Rivai. (aja/sam)

Editor : Nurismi
Kementerian Kesehatan bantuan