Berawal dari bibit kakao liar, Yodiana mampu menjadi salah satu penyuplai kakao terbesar di Bumi Batiwakkal. Dari harga Rp 15 ribu, kini sentuh angka Rp 85 ribu per kilogram. Bahkan mampu panen seminggu sekali.
MAULID HIDAYAT, Sambaliung
SATU jam setengah, adalah waktu yang ditempuh dari Tanjung Redeb menuju Kampung Nyapa Indah, Kecamatan Sambaliung.
Rentan waktu itu ditempuh dari jalur darat, baik melalui jalan umum maupun jalur tambang. Dengan tambahan waktu sekira dua menit naik ketinting untuk menyeberang ke kampung lingkar tambang itu.
Terik matahari tidak terlalu menyengat kulit. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 Wita. Suara deru mesin ketinting dan gonggongan anjing terbawa oleh angin.
Untuk memasuki kampung harus menaiki tangga dengan batang kayu bulat, yang dibuat berongga, untuk memudahkan kaki melangkah.
Udara pegunungan Nyapa menyambut, bau durian semerbak masuk ke indera penciuman. Di Kampung Nyapa Indah sedang masuk musim durian.
Dari dermaga kampung menuju ke rumah Yodiana, hanya memakan waktu dua menit berjalan kaki. Rumah panggung yang terbuat dari kayu bercat biru tersebut tampak dari pinggir Sungai Kelay.
Di rumah sederhana tersebut, suguhan kopi hitam panas dan sang raja buah sudah terhidang di depan mata. Menunggu 10 menit, Yodiana datang, senyum menghiasi bibir. Raut lelah dan keringat masih nampak di wajahnya.
Sang maestro kakao tiba tidak dengan tangan kosong, ia membawa parang dan punggungnya masih menggendong tas anyaman dayak yang sudah terkenal. Duduk melingkar, ia mulai bercerita diawali dengan tarikan nafas bangga.
Berawal dari tahun 1998, Yodiana yang merupakan warga Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, menikah dengan Adan Kule, warga asli Kampung Nyapa Indah. Ia dibawa ke kampung tersebut, untuk membina rumah tangga.
Yodiana yang memang hobi berkebun, mulai menata kebun miliknya. Pada saat itu, hanya ada pisang dan cabai rawit.
Ia memutar otak, tidak mungkin hidup hanya berharap pada dua tanaman tersebut. Saat memasuki hutan, ia melihat banyak bibit kakao tanpa pemilik. Ia mulai mencabut dan menanam di kebun miliknya, tidak luas, hanya 1 hektare.
Memang tidak mudah, apalagi membutuhkan waktu tiga tahun untuk panen pertama kali. Namun ia tetap sabar dan menikmati. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia memanfaatkan hasil hutan yang disiapkan Tuhan.
Gunung Nyapa dengan ketinggian 1.110 meter di atas permukaan laut (MDPL), menjadi saksi perjuangan Yodiana.
Satu per satu bibit ia tanam. Bermula hanya beberapa pohon, kini satu hektare lahannya penuh dengan pohon kakao.
Ia menanam kakao jenis B25 atau BR 25 (sering juga disebut Sulawesi 2, red). Yodiana menilai kakao tersebut salah satu varietas kakao unggul yang populer di Indonesia karena produktivitasnya yang tinggi.
“Di kebun saya ada dua metode, yakni tanam akar dan sambung batang,” ucapnya.
Berjalannya waktu, Yodiana diberi rezeki Tuhan, ia melahirkan anak pertama yakni Andi Ardiansyah, pada 22 November 1999. Meski memiliki anak kecil, semangatnya untuk berkebun tidak hilang.
Panen perdana, biji kakaonya yang telah kering dihargai Rp 15 per kilogram. Harga tersebut cukup tinggi di tahun 2000-an. Ia berkomat-kamit mengucap rasa syukur. “Ini hobi yang dibayar,” katanya terkekeh.
Asap kopi hitam di gelas masih mengepul, Yodiana membetulkan posisi duduknya untuk melanjutkan cerita. Pada panen perdana, biji kakao yang terjual hanya 5 kilo saja.
Karena masih minim ilmu. Kemajuan teknologi tidak seperti saat ini, meski dunia telah memasuki masa milenium. Ia pergi ke ibu kota Berau, yakni Tanjung Redeb untuk “mencuri” ilmu dari Perpustakaan. Belajar dari ahli kakao. Terlebih di tahun tersebut, kakao kurang diminati masyarakat.
Bagi wanita kelahiran 5 Juli 1988 ini, semua orang adalah guru, dan semua ilmu wajib diserap. Hari demi hari berlalu begitu saja, musim berganti, dan kakao miliknya masih sedikit panen.
Kata menyerah tidak ada dalam kamus hidupnya. Dapat rezeki sedikit, ia sisihkan untuk membeli bibit unggul agar hasil panennya melimpah.
“Saya tetap optimistis. Tidak ada usaha mengkhianati hasil,” tegasnya.
Berjuang puluhan tahun, kini ia sudah bisa menikmati hasilnya, panen raya bisa mencapai 300 kilogram. Sedangkan untuk panen biasa, ia bisa menjual 50 hingga 100 kilo per dua pekan, dengan harga saat ini mencapai Rp 85 ribu.
Ibu dari dua anak ini, sukses menyekolahkan anaknya melalui hasil dari kakao. Anak kedua yakni Ferawati yang lahir pada 29 Februari 2004, kini bekerja sebagai salah satu karyawati tambang. Tidak hanya mampu menyekolahkan anaknya, bangunan rumah, kendaraan semua berkat biji kakao.
Masa Pengeringan Biji Kakao
Puluhan karung masih berisi buah kakao, bersandar manja di pagar teras rumahnya. Usai panen pagi hari, Yodiana tidak bisa langsung menjual. Semua ada proses, tidak ada yang instan. Jarak dari kebun menuju ke rumah tidak terlalu jauh, hanya 2 kilometer dengan ditempuh berjalan kaki.
Buah kakao tersebut dinaikkan ke atas gerobak, untuk dibelah dan dipisahkan antara daging dan bijinya. Proses pembersihan memakan waktu paling lama dua hari.
Semua dilakukan manual. Tangan terampilnya sudah bersahabat dengan pisau dan buah kakao. Satu per satu biji kakao dimasukkan ke dalam baskom berwarna hitam dengan ukuran besar. Untuk dicuci dan juga difermentasi.
Biji kakao yang sudah terpisah dari dagingnya, difermentasi selama satu pekan untuk menciptakan rasa yang khas Kampung Nyapa Indah.
Jam di dinding terus berjalan, setelah sepekan, biji kakao tersebut “dibaring”kan di atas terpal berwarna biru dan oranye ukuran 3x4 meter. Yodiana memiliki keunggulan di rumahnya, ia memiliki halaman yang cukup luas untuk menjemur biji tersebut.
Penjemuran biji kakao tergantung pada cuaca, sedangkan cuaca di Berau tidak menentu. Hal ini menjadi dasar tidak ada patokan pasti, berapa lama proses pengeringan berlangsung.
Bahkan, jika terik, cuaca di Berau mencapai suhu 36 derajat celcius. Sedangkan musim hujan, bisa berlangsung berhari-hari.
“Paling lama seminggu lah menjemur itu. Kalau cuaca bagus, hanya tiga sampai empat hari,” ungkapnya.
Setelah biji kakao mengering dimasukkan ke dalam karung ukuran 50 kilogram. Suaminya yakni Adan Kule sudah siap memikul menuju ke dermaga penyeberangan.
Diketahui, tidak ada akses darat menuju dan keluar dari Kampung Nyapa Indah, transportasi utama mereka yakni ketinting. Mesin ketinting 15 Pk sudah siap untuk menjemput rezeki di seberang. Transaksi tidak berlangsung lama. Timbang, bayar, terima kasih, dan selesai.
“Saya tidak suka ditransfer, maunya tunai. Jauh mau ke ATM (Anjungan Tunai Mandiri,red),” ungkapnya.
Kakao Nyapa Indah Sudah Mendunia
Tiga warga negara Jerman nun jauh di belahan Benua Eropa, rela datang ke kampung ini. Tujuannya, hanya untuk memastikan cerita bahwa rasa kakao di Nyapa Indah berbeda.
Setelah merasakannya langsung, mereka mengakui kakao tersebut memiliki cita rasa unik yang sangat khas, dengan keseimbangan rasa pahit yang pas dan keasaman segar (acidic) yang mirip buah-buahan. Karakter rasa premium ini sangat diminati oleh industri cokelat dunia.
Begitu istimewanya rasa kakao dari kawasan ini, Koperasi Berau Kakao Sejahtera yang mengolah biji kakao Nyapa Indah sukses menyabet Juara 1 Lomba Biji Kakao Nasional pada perayaan Hari Kakao Indonesia, beberapa waktu lalu.
Faktor utama yang membentuk kelezatan rasanya meliputi fermentasi yang terstandar dan karateristik tanah lokal, yang memberikan profil rasa sekunder, hal ini yang membuatnya berbeda dengan wilayah lain.
“Kata mereka begitu (berbeda rasanya,red),” ujar Yodiana.
Meskipun kakao miliknya sudah pernah menembus pasar dunia, Yodiana tetap rendah hati. Bahkan, ia mengajak seluruh warga kampung untuk menanam kakao, membawa pembeli untuk datang ke kampungnya, dan mengenalkan warga, agar masyarakat juga bisa mendapatkan pembeli setiap panennya.
“Bahagia karena bisa berbagi rezeki,” ungkapnya.
Di balik mendunianya kakao Kampung Nyapa Indah, tantangan iklim menjadi musuh terbesar petani. Banjir tahunan tanpa kompromi datang, membuat mereka gagal panen. Tidak jarang rezeki sudah di depan mata harus pupus akibat meluapnya Sungai Kelay.
Kondisi itu bukan satu dua kali dirasakan warga. Suatu waktu, Yodiana hanya bisa menangis akibat gagal panen.
Bahkan sang suami sempat jatuh sakit. Bertahun-tahun hidup sebagai petani kakao, musuh utama mereka adalah banjir.
Di satu sisi air kebutuhan, di sisi lain banjir membuat patah hati ratusan warga kampung tersebut. Yodiana hanya bisa pasrah jika musim penghujan di penghujung tahun mengguyur. Detik demi detik melantunkan doa, agar alam tidak murka.
Peran Pihak Ketiga dan Manfaat untuk Warga
Kakao yang dihasilkan Kampung Nyapa Indah memang dahulu jarang tersorot. Hadirnya pihak ketiga, membawa angin segar, bagi para petani di kampung tersebut.
Pamapersada Nusantara distrik BRCB sudah beberapa tahun terakhir ini aktif membina para petani terkait masalah kakao. Mulai dari pelatihan dasar, hingga proses pemasaran, agar masyarakat bisa menikmati hasil jerih payahnya dengan nilai rupiah yang memuaskan.
Peran perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara tersebut dirasakan warga. Pengakuan Yodiana, PAMA melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) banyak membantu mereka. Mulai dari kontrol kualitas, mode pemasaran, hingga pengolahan biji kakao yang saat ini tengah berjalan.
PAMA tidak hanya hadir dalam bentuk pelatihan. Manajemen mereka kerap duduk bersama dan diskusi dengan masyarakat.
LPB PAMA Bakat Batiwakkal juga aktif memantau proses penanaman hingga pascapanen warga Kampung Nyapa Indah. Langkah ini diambil, untuk memastikan pengolahan telah sesuai dengan standar.
“Peran mereka besar, mereka hadir dan memberikan pelatihan, kadang kami panen bersama juga,” ujar Yodiana.
Koordinator LPB PAMA Bakat Batiwakkal, Agung Junazil Rukmana, menambahkan, pihaknya berupaya meningkatkan QCD (Quality, Cost, Delivery) sehingga produk kakao tidak hanya unggul dari sisi mutu, tetapi juga efisien biaya, tepat waktu dalam pengiriman, dan kaya variasi turunan.
Membangun mentalitas dasar ala Astra, yaitu fokus pada pelanggan, berlandaskan fakta dan data, disiplin menjalankan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Act), mengedepankan kerja sama, serta berorientasi pada keunggulan.
“Target kami jelas, bagaimana masyarakat mampu baik secara ekonomi maupun SDM-nya,” tegasnya.
Juna -sapaan akrabnya- menambahkan, memperluas akses pasar dengan strategi harga yang realistis dan kompetitif, sehingga produk kakao bisa masuk ke retail modern maupun pasar ekspor. LPB PAMA Bakat Batiwakkal juga melakukan diversifikasi produk turunan kakao, seperti cokelat olahan, minuman, dan produk kreatif lain yang memberi nilai tambah lebih besar.
Kemudian memberikan pelatihan dan pendampingan teknis budidaya menuju “Cacao Excellent”, melalui praktik konservasi kebun, pemangkasan tepat, sanitasi, dan fermentasi standar premium.
Pendampingan ini memastikan kualitas biji kakao memenuhi standar internasional, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ada lima agenda yang terus digaungkan dan dilaksanakan oleh LPB PAMA Bakat Batiwakkal yakni QCD, Mentalitas Astra, Akses Pasar, Diversifikasi Produk Turunan, dan Program Pembinaan.
“Di tahun pertama QCD, Mentalitas Astra dan Akses Pasar sudah dilakukan,” tuturnya.
Lanjut Juna, program ini akan berjalan dengan target lima tahun. Dan hal yang membanggakan, akses pasar ini tidak hanya lokal, melainkan juga pasar internasional.
Untuk saat ini ekspansi akan dilakukan ke pasar Eropa seperti Belanda, Belgia, Amerika Serikat. Sedangkan untuk Asean yakni Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Singapura.
“Ini wacana yang kami lakukan, tapi yakin optimistis hal tersebut,” tuturnya.
Untuk diketahui, komoditas kakao di Berau menjadi salah satu sektor perkebunan yang terus berkembang ke arah positif.
Dalam tiga tahun terakhir, kakao asal Berau tercatat puluhan ton telah menembus sejumlah pasar internasional.
Bupati Berau, Sri Juniarsih mengatakan, sepanjang 2023 hingga 2025, sebanyak 23 ton biji kakao telah diekspor ke sejumlah negara yakni Amerika Serikat, Belanda, dan Prancis.
Capaian tersebut kembali berlanjut pada 2026. Hingga tahun ini, Berau telah mengekspor sekitar 11,5 ton biji kakao ke Prancis dan Swiss.
Dijelaskannya, permintaan dari pasar internasional menunjukkan adanya minat terhadap kakao yang dihasilkan petani Berau. Apalagi kakao Berau memiliki karakter cita rasa yang khas, dengan perpaduan rasa pahit dan asam segar.
“Hal ini menunjukkan minat luar biasa dari pasar dunia terhadap kualitas kakao Berau sebagai kakao terbaik di Indonesia,” katanya.
Dengan tambahan ekspor pada 2026 tersebut, total biji kakao Berau yang telah dikirim ke pasar internasional sejak 2023 mencapai sekitar 34,5 ton.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, Hendratno, menambahkan, Berau kembali menembus pasar internasional melalui ekspor produk olahan kakao. Tahun ini sebanyak 1,5 ton cacao nibs asal Berau dikirim ke Swiss melalui Terminal Kargo Bandara Kalimarau.
Ekspor tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemasaran komoditas kakao, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan masyarakat.
Pengiriman dalam bentuk cacao nibs menunjukkan bahwa kakao Berau mulai dikembangkan tidak hanya sebagai bahan baku, tetapi juga dalam bentuk produk olahan.
“Adapun biji kakao kering fermentasi asal Berau telah memenuhi standar mutu dan memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum,” ucapnya.
Sertifikasi tersebut menjadi modal untuk memperluas pemasaran kakao Berau, baik di dalam negeri maupun ke pasar global.
Di sisi lain, permintaan terhadap kakao masih terbuka lebar. Namun kebutuhan pasar belum seluruhnya dapat dipenuhi seiring menurunnya luas areal tanam dan produktivitas kakao di Berau.
“Kegiatan ekspor kakao tersebut semoga dapat memberikan semangat bagi pelaku usaha untuk meningkatkan luasan areal tanam kakao dengan produktivitas yang tinggi,” ungkapnya.
Ia berharap ekspor tersebut dapat mendorong petani dan pelaku usaha kakao untuk meningkatkan produksi. Terlebih pasar internasional saat ini tidak hanya mempertimbangkan kualitas dan kuantitas produk, tetapi juga proses produksi yang diterapkan.
Karena itu, peningkatan produksi perlu diikuti dengan penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan, mulai dari budidaya dan pemeliharaan tanaman hingga pengolahan hasil panen. (*/sam)
Editor : Nurismi