Atasi Antrean Panjang BBM di Berau Pemkab dan Forkopimda Siapkan Opsi Penerapan Sistem Ganjil Genap

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:30 WIB
ANTISIPASI ANTREAN: Pemkab Berau mempertimbangkan penerapan sistem ganjil-genap untuk pengisian BBM guna mengurangi antrean panjang di SPBU. (IZZA/BP)
ANTISIPASI ANTREAN: Pemkab Berau mempertimbangkan penerapan sistem ganjil-genap untuk pengisian BBM guna mengurangi antrean panjang di SPBU. (IZZA/BP)

BERAU POST — Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terlihat kembali mengular sejak beberapa hari terakhir.

Persoalan tersebut tengah dicari solusinya oleh pemerintah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Wakil Bupati Berau, Gamalis, meninjau langsung kondisi antrean di SPBU Sambaliung, Rabu (23/9). Peninjauan dilakukan untuk melihat situasi di lapangan, sekaligus mencari tahu penyebab antrean yang masih terjadi meski distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) terus dilakukan.

“Kita datang ke sini ingin melihat kembali adanya antrean yang relatif cukup panjang di SPBU Sambaliung sejak pagi,” katanya.

Pemerintah daerah perlu melihat persoalan tersebut secara menyeluruh, termasuk dari sisi distribusi hingga pengelolaan di tingkat SPBU.

Pemerintah juga menyiapkan tim pengawas dari Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) untuk memastikan distribusi berjalan sesuai ketentuan.

Ia menyebut operator SPBU menjadi salah satu ujung tombak dalam pengawasan distribusi BBM. Selain persoalan distribusi, manajemen SPBU juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika stok BBM sudah tersedia.

“Ketika berjalan bagus, stok sudah siap, tinggal manajemen di SPBU,” ujarnya.

Pemerintah daerah saat ini mengikuti ketentuan yang berlaku di Kalimantan Timur terkait batas maksimal pengisian Pertalite untuk kendaraan roda empat, yakni 40 liter per kendaraan. Namun penerapan batas tersebut perlu diikuti dengan aturan lain kengingat antrean kembali panjang di SPBU.

Salah satu opsi yang akan dibahas dalam rapat Forkopimda adalah penerapan sistem ganjil genap berdasarkan nomor polisi kendaraan. Kebijakan tersebut belum pernah diterapkan di Berau untuk pengaturan pengisian BBM.

“Kemudian kita mencoba untuk menerapkan ganjil-genap. Atau ada yang lain-lain lagi nanti berkembang di rapat Forkopimda,” katanya.

Sebelumnya, pembatasan pengisian hingga 25 liter telah dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi antrean. Namun kebijakan tersebut kemudian kembali pada batas maksimal 40 liter mengikuti ketentuan Pemprov Kaltim.

“Infonya banyak juga supir yang mengeluh karena mobilnya dipakai untuk berkendara ke pesisir Berau tapi tidak cukup hanya 40 liter untuk pulang-pergi,” ungkapnya.

Ia menegaskan pemerintah daerah tidak menginginkan masyarakat terus berada dalam antrean panjang untuk mendapatkan BBM.

Karena itu, berbagai opsi akan dibahas untuk mencari pola pengaturan yang dapat mengurangi kepadatan kendaraan di SPBU.

Menurutnya, antrean panjang BBM bukan hanya terjadi di Berau. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Makassar, Samarinda, Tarakan, hingga Balikpapan dan sebagainya. Namun pihaknya tetap ingin memastikan kondisi tersebut tidak semakin menyulitkan masyarakat di Berau.

Sementara Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, yang turut melihat kondisi di lapangan mengatakan, distribusi BBM secara umum dinilai sudah berjalan. Persoalan yang masih terlihat adalah antrean kendaraan yang memanjang di SPBU.

Dalam waktu dekat, Forkopimda akan melakukan rapat untuk membahas kebijakan yang dapat diterapkan guna mengantisipasi antrean. Salah satu opsi yang kemungkinan dibahas adalah sistem ganjil-genap untuk pengisian BBM.

Dedy berharap rapat tersebut dapat dilakukan secepatnya, sehingga ada langkah yang bisa diterapkan untuk mengurangi antrean.

“Karena begitu dinaikkan jadi maksimal 40 liter, ini yang melonjak antreannya. Nanti kita tunggu kebijakan apa yang lahir setelah rapat,” ujarnya.

Sementara itu, SBM Kaltimut III Fuel Pertamina Patra Niaga, Hermawan Bagus, memastikan ketersediaan stok BBM di Berau saat ini dalam kondisi mencukupi.

Untuk mendukung pasokan, pengiriman BBM ke Berau tidak hanya dilakukan dari Balikpapan, tetapi juga mulai didatangkan dari Tarakan.

Untuk Pertalite, stok yang tersedia disebut mencapai sekitar 2.700 kiloliter. Dalam tiga hari terakhir, pengiriman Pertalite ke Kecamatan Tanjung Redeb berada pada kisaran rata-rata 100 hingga 116 kiloliter per hari. Sementara pengiriman Pertamax rata-rata mencapai sekitar 70 kiloliter per hari.

“Untuk seluruh wilayah Kabupaten Berau, penyaluran Pertalite dalam beberapa hari terakhir berada pada kisaran 180 hingga 200 kiloliter per hari,” sambungnya.

Adapun stok solar disebut mencapai sekitar 3.700 kiloliter dengan cakupan ketersediaan sekitar lima hingga tujuh hari. Pasokan berikutnya dijadwalkan tiba melalui kapal yang diperkirakan sampai pada 27 September.

Ia juga meminta pengawasan terhadap penggunaan barcode saat transaksi BBM diperketat. Pertamina kata dia, telah mengaktifkan kamera pengawas atau CCTV selama 24 jam untuk membantu memastikan transaksi sesuai dengan ketentuan.

Data transaksi kendaraan roda empat dapat dipantau, termasuk nomor polisi, waktu transaksi, hingga hari pengisian. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk mencocokkan barcode dengan kendaraan yang melakukan pengisian.

“Jadi ke depan bilamana ada temuan ketidaksesuaian dengan barcode, saya bisa mengecek langsung,” katanya.

Di sisi lain, Pengawas SPBU Mitra Abadi Sumaryoto menjelaskan operasional SPBU mengacu pada ketentuan Pertamina, yakni mulai pukul 08.00 Wita hingga 21.00 Wita apabila stok BBM masih tersedia.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, penjualan terkadang harus dihentikan lebih awal setelah stok habis.

Ditegaskan, tidak ada jalur khusus bagi kendaraan tertentu dalam antrean pengisian BBM di SPBU Sambaliung, kecuali kendaraan yang memang membutuhkan penanganan seperti ambulans.

Pengisian tangki pendam dilakukan setiap hari untuk Pertalite dan Pertamax. Volume pengisian disebut mencapai 16 kiloliter dan dalam kondisi tertentu bisa mencapai 24 kiloliter. Sementara Solar memiliki kuota tersendiri.

Salah satu kendala di lapangan yakni keterbatasan armada mobil tangki. Saat ini terdapat dua mobil tangki yang melayani kebutuhan distribusi.

Sementara jumlah SPBU yang harus dilayani cukup banyak, sehingga waktu kedatangan BBM terkadang mengalami keterlambatan.

“Biasanya sampai jam 16.00-17.00 Wita sudah habis. Dan malam tidak jualan,” ujarnya.

Sebelum SPBU mulai beroperasi, kendaraan sudah mulai memenuhi antrean. Bahkan ada saja yang datang sejak sekitar pukul 04.00 Wita untuk mengantri BBM. (aja/sam)

Editor : Nurismi
antre bbm pemkab berau