Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut di Berau Capai Ribuan Sepanjang Periode Karhutla

Nurismi • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 11:30 WIB
ILUSTRASI: Sejak Agustus hingga pertengahan September, Dinkes Berau mencatat sekitar 5.100 kasus ISPA. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Sejak Agustus hingga pertengahan September, Dinkes Berau mencatat sekitar 5.100 kasus ISPA. (IZZA/BP)

BERAU POST - Dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terhadap kesehatan masyarakat semakin terlihat dari banyaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mencatat sekitar 5.100 kasus sepanjang Agustus hingga pertengahan September 2026.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Berau, Rahmawati, mengatakan, angka tersebut menjadi yang tertinggi berdasarkan hasil pemantauan dan laporan dari seluruh puskesmas selama 2026.

“Untuk Agustus-September ini telah terjadi peningkatan kasus, yaitu sekitar 5.100-an kasus,” katanya, Jumat (18/9).

Pada kondisi normal, jumlah kasus ISPA di Berau berada pada kisaran 2.000 hingga 3.000 kasus per bulan. Angka yang tercatat pada Agustus-September tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang perlu diwaspadai, terutama di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla.

Data tersebut juga belum mencakup masyarakat yang memilih melakukan pengobatan secara mandiri di rumah.

Dinkes Berau memperkirakan masih banyak masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan, namun tidak memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

“Belum kita data, kemungkinan 20 persen masyarakat kita mungkin melakukan pengobatan sendiri di rumah. Itu yang perlu kita waspadai,” ujarnya.

Pun Wakil Bupati Berau, Gamalis, juga meminta masyarakat kembali membiasakan penggunaan masker ketika berada di luar ruangan dan menghindari aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.

Pemerintah daerah juga mendorong agar kegiatan Belajar dari Rumah (BDR) kembali diaktifkan untuk mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah.

“Jangan sampai ketika kita BDR, anak-anak malah bebas keluar keluyuran dari rumah. Itu pun sebaiknya, jangan,” katanya.

Pemerintah daerah telah membahas perkembangan kondisi tersebut bersama sejumlah organisasi perangkat daerah terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Dalam pemantauan pemerintah daerah, peningkatan kasus ISPA menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian seiring kondisi udara yang memburuk.

Disebutnya, tingginya konsentrasi partikulat di udara. Adapun kadar PM2,5 yang sebelumnya berada pada standar 25 kini tercatat mencapai sekitar 385.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai, karena PM2,5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke sistem pernapasan.

Paparan partikel tersebut dapat mencapai paru-paru dan berpotensi masuk ke pembuluh darah sehingga dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung.

“Sementara itu, konsentrasi PM10 juga dilaporkan berada pada angka tinggi, bahkan mencapai sekitar 1.400-an,” bebernya.

Pemerintah daerah tidak ingin mengambil langkah secara sporadis. Penanganan akan dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan dan hasil pemantauan kualitas udara.

Sembari DLHK terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan dan kualitas udara. Pemerintah daerah juga akan melihat perkembangan kasus ISPA dan kondisi karhutla sebagai dasar untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
ispa karhutla Dinkes Berau