BERAU POST— Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Berau masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Api yang sebelumnya berkobar di sekitar sisi jalan, kini merambat semakin jauh ke dalam kawasan hutan, hal itu pun menyulitkan upaya pemadaman oleh tim di lapangan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan, jangkauan pemadaman secara manual semakin terbatas. Mobil pemadam kebakaran hanya dapat ditempatkan di sekitar akses jalan, sementara titik api sudah berada ratusan meter dari lokasi kendaraan.
“Kalau sudah sampai 400-500 meter ke dalam, tentu menghambat dari sisi operasional, baik tenaga maupun infrastruktur berupa selang yang tidak sampai,” kata Gamalis Jumat (18/9).
Kondisi tersebut juga diperberat dengan masa kerja tim yang sudah berlangsung hampir dua bulan secara terus-menerus, baik siang maupun malam.
Gamalis menyebut sejumlah unit pemadam pun kini tidak dapat bergerak secara maksimal karena membutuhkan perawatan.
Di sisi lain, personel yang selama ini terlibat dalam pemadaman juga kewalahan menghadapi medan yang semakin berat.
Karena itu, Pemkab Berau berharap dukungan pemadaman dari udara dapat diarahkan ke wilayah Berau. Ia meminta pesawat water bombing yang saat ini digunakan untuk menangani kebakaran di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Samarinda dapat bergeser ke Bandara Kalimarau untuk membantu pemadaman di Berau.
“Kita membutuhkan itu karena sangat jauh di dalam hutan. Infrastruktur maupun tenaga kita sudah tidak sampai. Water bombing hari ini sebuah solusi,” ujarnya.
Ia mengatakan upaya pemadaman di lapangan saat ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari masyarakat melalui Masyarakat Peduli Api (MPA), Disdamkarmat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, hingga Polri. Namun, kedalaman titik api dan kondisi medan membuat pergerakan tim semakin terbatas.
Sementara Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, mengatakan, Berau saat ini masih berstatus siaga darurat. Status tersebut belum dinaikkan menjadi status bencana.
Dijelaskan, persoalan karhutla dan kabut asap saat ini tidak hanya terjadi di Berau. Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur juga mengalami kebakaran dengan kondisi yang cukup tinggi di wilayah Kutai Kartanegara, Samarinda, dan Kutai Barat.
Pergerakan angin dari arah selatan ke utara turut membawa dampak terhadap kondisi udara di sejumlah wilayah. Berau juga terdampak asap dari daerah lain di Kalimantan Timur.
“Secara umum, saya dapat informasi dari BMKG Kalimantan, kondisi hari tanpa hujan sudah sampai 30 hari,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi kebakaran. Adapun perubahan status penanganan bencana di Berau nantinya akan mempertimbangkan perkembangan kondisi di tingkat provinsi.
Hingga kini, pemerintah daerah masih memantau perkembangan kebakaran dan kualitas udara di sejumlah wilayah.
Untuk penanganan dari udara, pihaknya terus berkomunikasi dengan tim water bombing Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Dalam pertemuan melalui Zoom, tim meminta laporan terbaru mengenai kondisi kebakaran di Berau, termasuk lokasi titik api yang membutuhkan penanganan.
Data mengenai lokasi kebakaran sangat penting, karena pesawat water bombing membutuhkan titik sasaran yang jelas sebelum melakukan operasi pemadaman.
“Kita berharap mereka bisa bergeser ke bandara kita di Kalimarau. Tapi karena di Samarinda, Kukar, dan Kubar lebih tinggi, artinya kebakarannya lebih besar, mereka belum bisa bergeser,” ujarnya.
Selain persoalan prioritas penanganan di daerah lain, operasi penerbangan juga menghadapi kendala. Masyhadi menyebut pesawat water bombing sebelumnya tidak dapat terbang karena kondisi kabut di bandara.
Selain water bombing, penanganan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) juga telah dilakukan di Berau. Permohonan dukungan untuk penanganan tersebut sebenarnya telah diajukan sejak Agustus.
Namun pelaksanaannya dinilai belum maksimal, sehingga saat ini diperlukan penguatan kembali melalui koordinasi dan komunikasi antara pemerintah daerah dan pihak terkait.
Terkait kabut asap, Masyhadi menyebut informasi dari BMKG Samarinda menunjukkan adanya kondisi atmosfer yang membuat asap tertahan pada ketinggian tertentu, sekitar 10.000 hingga 30.000 kaki.
Hujan yang terjadi pada 16 September juga disebut turut memengaruhi kondisi tersebut. Ketika permukaan bumi yang panas terkena hujan, air menguap dan kemudian dapat berinteraksi dengan kondisi atmosfer yang menahan massa udara pada ketinggian tertentu. Kondisi itu dapat membuat kabut semakin tebal.
Pun adanya kemungkinan sumber panas dari kawasan yang mengandung batu bara turut berpengaruh terhadap kondisi udara di permukaan.
Namun ia menegaskan belum mengetahui luasan area batu bara yang mengalami panas dan seberapa besar kontribusinya terhadap kondisi udara. (aja/sam)
Editor : Nurismi