Antisipasi Dampak Kemarau Panjang, Dinas Perikanan Berau Monitor Kualitas Air Sungai Segah

Nurismi • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 12:30 WIB
LAKUKAN PEMANTAUAN: Tim Dinas Perikanan Berau melaksanakan pemantauan kondisi air di Sungai Segah dan Sungai Kelay beberapa waktu lalu. (DISKAN BERAU UNTUK BERAU POST)
LAKUKAN PEMANTAUAN: Tim Dinas Perikanan Berau melaksanakan pemantauan kondisi air di Sungai Segah dan Sungai Kelay beberapa waktu lalu. (DISKAN BERAU UNTUK BERAU POST)

BERAU POST - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau melakukan monitoring kualitas air di sejumlah titik perairan Sungai Segah dan Sungai Kelay.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang terhadap keberlangsungan sektor perikanan budidaya.

Monitoring menjadi bagian dari upaya Diskan Berau memastikan kondisi perairan yang dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas budidaya ikan tetap mendukung keberlangsungan usaha.

Terlebih kondisi kemarau panjang berpotensi memengaruhi kualitas air sungai akibat perubahan debit maupun konsentrasi sejumlah parameter perairan.

Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, mengatakan, pemantauan dilakukan dengan melihat langsung kondisi perairan di sejumlah lokasi, sekaligus mengumpulkan data kualitas air.

Hasil monitoring tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan langkah antisipasi maupun pendampingan bagi pembudidaya ikan.

“Pemantauan dilakukan untuk melihat kondisi perairan selama kemarau panjang dan mengantisipasi dampaknya terhadap pembudidaya,” ujarnya belum lama ini.

Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau, Budiono, mengatakan, hasil pengukuran sementara di sejumlah sungai menunjukkan kondisi yang secara umum masih normal. Selain Sungai Segah dan Kelay, pengukuran juga dilakukan di Sungai Birang, Sambarata dan Sungai Berau.

Menurutnya, terdapat satu parameter yang menunjukkan nilai di atas batas normal, yakni fosfat. Kondisi tersebut berpotensi memicu perubahan pertumbuhan fitoplankton yang kemudian menyebabkan warna air terlihat agak kehijauan.

“Pada umumnya normal, kecuali fosfat yang melebihi batas atas sehingga memicu perubahan pertumbuhan fitoplankton,” jelasnya Jumat (11/9)

Meski demikian, Budiono menyebut kondisi tersebut belum menunjukkan dampak berbahaya terhadap ikan. Hal itu karena parameter kualitas air lainnya masih berada dalam kondisi normal, dan perubahan warna air belum sampai pada kondisi hijau pekat yang mengindikasikan ledakan populasi plankton atau blooming.

Kondisi blooming plankton perlu diwaspadai, karena dapat memengaruhi kualitas perairan. Pertumbuhan plankton yang berlebihan berpotensi menyebabkan penurunan oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), perubahan pH, hingga menghasilkan senyawa yang dapat membahayakan organisme perairan.

“Analisa sementara kami belum menimbulkan dampak berbahaya bagi ikan karena parameter lain masih normal dan warna air tidak hijau pekat,” terangnya.

Meski hasil awal belum menunjukkan ancaman serius terhadap ikan, Diskan Berau masih menunggu hasil pengujian lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi perairan.

Budiono mengatakan, hasil pengujian Diskan nantinya perlu dibandingkan dengan data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau.

Sebab, pengujian DLHK biasanya mencakup parameter yang lebih lengkap untuk melihat kondisi kualitas lingkungan perairan.

“Perlu dibandingkan dengan hasil DLHK karena parameter ujinya biasanya lebih lengkap, seperti logam berat, TDS, TSS, BOD dan COD,” katanya.

Ia menambahkan, pemantauan kualitas air akan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pendampingan kepada masyarakat pembudidaya.

Dengan data yang lebih lengkap, potensi perubahan kualitas perairan dapat diketahui lebih dini, sehingga dampaknya terhadap aktivitas budidaya dapat diantisipasi.

Diskan Berau pun terus mendorong pemantauan kondisi sungai secara berkala, khususnya selama kemarau panjang. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga kualitas perairan sekaligus memastikan aktivitas perikanan budidaya masyarakat tetap berjalan secara berkelanjutan. (sen/sam)

Editor : Nurismi
Pemantauan Air Sungai Segah Diskan Berau