BERAU POST – Wakil Bupati Berau, Gamalis, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur dalam menangani Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Berau.
Kondisi cuaca ekstrem yang memicu kebakaran saat ini terus diingatkannya membutuhkan keterlibatan seluruh pihak tanpa sekat sektoral.
Gamalis mengatakan, karhutla yang terjadi saat ini tergolong ekstrem, bahkan baru kembali dirasakan setelah tujuh tahun lalu.
Dengan kondisi itu, ia meminta seluruh unsur yang memiliki kemampuan maupun unit pemadam kebakaran bergerak bersama.
Tidak hanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), tetapi juga Manggala Agni, KPHP, relawan pemadam kebakaran (Redkar), TNI/Polri hingga masyarakat peduli api (MPA).
Ia menegaskan, penanganan api harus menjadi prioritas. Karena itu, seluruh pihak diminta tidak terjebak pada persoalan mengenai sumber atau penyebab kebakaran.
“Kita harus selalu bersatu. Jangan dilihat penyebabnya dulu, yang jelas Kaltim khususnya Berau sedang terbakar. Kita tidak usah sibuk mencari penyebabnya, yang jelas api harus mati,” tegasnya saat mengunjungi kantor Disdamkarmat dan BPBD Berau, kemarin (11/9).
Diakunya, pengaruh persoalan ego sektoral justru dapat menghambat penanganan di lapangan. Jika setiap unsur bergerak sendiri-sendiri, upaya pemadaman dinilai tidak akan berjalan maksimal.
“Kita harus berkolaborasi. Kalau kita masih ego sektoral dan bergerak masing-masing, yakinlah tidak akan selesai di lapangan. Jangan menyekatkan diri,” katanya.
Dirinya juga menyoroti ketersediaan armada dan peralatan pemadam kebakaran. Ia menilai jumlah armada yang dimiliki OPD saat ini masih perlu diperkuat, terutama dengan kondisi kebakaran yang terjadi.
“Yang jelas kita butuh bantuan perusahaan untuk mengirimkan armadanya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi sejumlah peralatan yang tersimpan di gudang logistik. Saat melakukan pengecekan, Gamalis menemukan mesin pompa portable apung yang menurutnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemadaman, terutama karena Berau memiliki banyak sungai.
Peralatan tersebut seharusnya dapat segera dimanfaatkan untuk kebutuhan penanganan kebakaran. “Itu sudah berdebu tapi masih baru. Saya juga lihat masih banyak selang di sana,” katanya.
Ia menilai kebutuhan selang untuk penanganan karhutla berbeda dengan kebakaran permukiman. Pada karhutla, selang digunakan dalam kondisi lapangan yang berhadapan dengan bara dan sisa abu, terutama pada area yang berpotensi kembali terbakar.
Ia meminta peralatan yang masih tersedia di gudang dapat diturunkan dan digunakan apabila memang dibutuhkan di lapangan. “Itu dibeli untuk digunakan melayani masyarakat kita,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, mengakui jumlah personel dan unit pemadam kebakaran yang dimiliki saat ini masih belum mencukupi.
Ia menyebut, pada 2027 mendatang direncanakan ada perekrutan tambahan melalui tenaga outsourcing dengan menggunakan APBD 2027. Namun, tambahan tersebut dinilai masih belum mampu memenuhi kebutuhan secara keseluruhan.
“Kalau unit damkar kita juga masih kurang. Meskipun tahun depan perekrutan melalui outsourcing tetap jauh masih kurang,” jelasnya.
Adapun jumlah personel pemadam kebakaran di Berau saat ini belum mencapai 100 orang. Kondisi tersebut berbeda dengan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang menurut informasi yang diterimanya kini diperkuat sekitar 300 personel.
Meski begitu, jika dilihat dari sisi keberadaan posko dan kendaraan pemadam, Berau dinilai sudah memiliki kesiapan di sejumlah kecamatan.
“Kalau dibandingkan, di posko kecamatan sudah ada kendaraan damkar. Kalau di Kutim hanya sembilan kecamatan yang ada damkarnya. Kita lebih siap menghadapi karhutla,” katanya.
Namun, Rakhmadi kembali menegaskan bahwa secara keseluruhan Berau masih membutuhkan penambahan, baik dari sisi personel maupun unit pemadam kebakaran. (aja/sam)
Editor : Nurismi