Manfaatkan Sumber Air Bendungan Bribit, Posko Gabungan Sambaliung Siapkan Pemadaman Karhutla Udara

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 19:10 WIB
HARAPKAN UPAYA LAIN: Kakam Sukan Tengah, Bunyamin, harapkan intervensi penanganan karhutla dari pemerintah. Baik berupa OMC, maupun pemadaman dengan teknik water bombing. (BERAU POST)
HARAPKAN UPAYA LAIN: Kakam Sukan Tengah, Bunyamin, harapkan intervensi penanganan karhutla dari pemerintah. Baik berupa OMC, maupun pemadaman dengan teknik water bombing. (BERAU POST)

BERAU POST - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kampung Sukan Tengah, Kecamatan Sambaliung, masih menjadi perhatian pemerintah kampung bersama tim gabungan.

Kondisi lahan yang didominasi gambut membuat penanganan kebakaran menjadi lebih sulit, bahkan api dapat kembali muncul setelah wilayah tersebut diguyur hujan.

Kepala Kampung Sukan Tengah, Bunyamin, mengatakan, hujan yang turun belum sepenuhnya mampu menghentikan kebakaran di wilayahnya. Hal itu disebabkan karakteristik gambut yang memungkinkan bara api bertahan di bawah permukaan tanah.

Menurut Bunyamin, kondisi tersebut sempat terjadi ketika kebakaran kembali muncul sekitar dua hari setelah hujan.

Meski secara kasatmata api di permukaan telah padam, bara di dalam lapisan gambut masih dapat bertahan dan kembali memicu kebakaran ketika kondisi kembali kering. “Gambut itu membara ke bawah,” katanya.

Berdasarkan pendataan pemerintah kampung, sekitar 20 hektare lahan di Sukan Tengah terdampak karhutla. Luasan tersebut membuat upaya penanganan harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai unsur.

Pemerintah Kampung Sukan Tengah saat ini berkoordinasi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Berau Tengah, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau. Tim gabungan juga telah membentuk posko penanganan di Kantor Kampung Sukan Tengah.

Bunyamin menilai penanganan karhutla harus terus diupayakan, terutama untuk memastikan kebakaran di lahan gambut benar-benar padam. Sebab, pemadaman di permukaan belum tentu menyelesaikan persoalan apabila bara masih terdapat di bawah tanah.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan langkah intervensi tambahan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Menurutnya, hujan buatan dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu membasahi kawasan yang terbakar, terutama ketika hujan alami belum mencukupi. “Kalau bisa, OMC tetap diusahakan,” harapnya.

Selain OMC, Bunyamin juga berharap penggunaan pesawat untuk penyiraman dari udara atau water bombing dapat dilakukan apabila dinilai efektif untuk membantu pemadaman di kawasan gambut. “Kalau dianggap bagus, kami harap bisa dilakukan,” tuturnya.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti tingkat keberhasilan metode tersebut. Namun menurutnya, seluruh upaya yang berpotensi membantu memadamkan karhutla tetap perlu dipertimbangkan, terutama mengingat karakter lahan gambut yang sulit ditangani dengan pemadaman konvensional. “Kalau tidak hujan, belum padam,” katanya.

Untuk mendukung kemungkinan pelaksanaan water bombing, Bunyamin menyebut Kampung Sukan Tengah memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan.

Salah satunya Bendungan Bribit yang sebelumnya telah digunakan oleh petugas pemadam kebakaran untuk mengambil air dalam proses penanganan karhutla.

Menurutnya, keberadaan sumber air menjadi bagian dari dukungan yang dapat dimanfaatkan apabila pemadaman dari udara nantinya dilakukan.

Namun, ia menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan berbagai bentuk ikhtiar secara bersamaan. “Ini bagian dari ikhtiar kita juga,” pungkas Bunyamin.

Di sisi lain, seorang warga Tanjung Redeb, Dhani, menuturkan kondisi asap di Berau memang cukup menyesakkan. Dirinya sangat senang ketika beberapa hari lalu sempat terjadi hujan dengan intensitas lebat selama beberapa saat.

“Cuacanya memang cukup parah, alhamdulillah sempat hujan sih kemarin (Minggu, 6/9),” terangnya.

Kondisi penanganan di Berau juga sejauh ini cukup tinggi, bahkan menurutnya tim pemadam baik pemerintah ataupun relawan terlihat cukup sibuk, bahkan terkesan tak sempat beristirahat.

Terkait upaya-upaya tambahan seperti modifikasi cuaca, dirinya mengaku sempat membaca dan mengetahuinya dari laman berita dan media sosial. Meski dirinya merasa tidak ada dampak, namun menurutnya jika dicoba kembali tidak ada salahnya.

“Ini kan upaya, tentu usaha bisa kita lakukan, dan kita harap ya bisa berdampak,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tengah menjalin komunikasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar armada pesawat maupun helikopter bantuan dari negara sahabat yang dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, turut diperbantukan ke Kabupaten Berau.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar pemerintah daerah untuk mendapatkan dukungan tambahan dalam menghadapi karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Berau.

Menurutnya, pemerintah daerah mencermati adanya bantuan dari sejumlah negara sahabat kepada Indonesia dalam penanganan karhutla.

Bantuan tersebut di antaranya berupa armada udara yang dapat digunakan untuk mendukung pemadaman melalui metode water bombing.

“Saya sedang menjalin komunikasi dengan BNPB terkait penanganan karhutla di Berau,” kata Sri beberapa waktu lalu.

Bupati berharap armada pesawat atau helikopter yang didatangkan ke Indonesia tersebut dapat pula diarahkan untuk membantu penanganan karhutla di Berau.

Pemanfaatan armada udara dinilai penting, terutama untuk menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit ditangani secara optimal melalui jalur darat.

“Oleh karena itu, saya minta agar armada bantuan tersebut bisa dibantukan untuk melaksanakan water bombing di Berau,” ujarnya. (sen/sam)

Editor : Nurismi
pemadaman karhutla lahan gambut