BERAU POST - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) terjadi dalam beberapa hari terakhir di Berau. Masyarakat pun mengeluh akan sulitnya mendapatkan pertalite maupun pertamax. Kondisi tersebut memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Salah seorang warga, Ramadayani, mengaku kesulitan mendapatkan pertalite maupun pertamax. Bahkan kelangkaan tidak hanya terjadi di SPBU, tetapi juga dirasakan saat mencari BBM melalui pengecer.
Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Kabupaten (Setkab) Berau, Slamet Riyadi, mengatakan, pihaknya telah mengecek langsung kondisi BBM di SPBU Sambaliung dan SPBU Bujangga bersama manajemen PT Pertamina.
Dari hasil sidak tersebut, tidak ditemukan kekosongan stok BBM di sejumlah SPBU tersebut dan masih dalam kondisi aman.
Karena itu dirinya meminta tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying karena berpotensi memperparah antrean di SPBU.
“Saya mendapat informasi terkait kelangkaan BBM itu. Tapi setelah melihat kondisi di lapangan, InsyaAllah bisa dikatakan aman,” ujarnya Senin (31/8).
Menurutnya, fenomena kelangkaan yang dirasakan masyarakat salah satunya dipicu meningkatnya pembelian BBM secara bersamaan.
Ketika masyarakat datang ke SPBU dan BBM tidak langsung tersedia, kondisi tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran dan mendorong pembelian lebih banyak.
Bahkan sebutnya, terdapat kapal yang membawa pasokan BBM menuju Berau. Namun proses masuknya kapal ke muara mengalami kendala akibat kondisi cuaca dan asap lantaran kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Kondisi tersebut membuat kapal belum dapat masuk sesuai rencana. Kendati demikian, pengiriman BBM dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, truk pertamina yang membawa 0ertamax disebut sudah tersedia. Berdasarkan pengecekan di lapangan, SPBU yang dikunjungi diperkirakan sudah aman untuk kebutuhan hari ini maupun besok dan kondisi diharapkan kembali normal.
“Bahkan kalau kapal sudah bisa masuk berarti sudah aman,” jelasnya.
Pemkab Berau juga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk mengatasi antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU.
Selain persoalan distribusi, pihaknya menemukan adanya pola pengisian BBM oleh kendaraan yang perlu menjadi perhatian bersama.
Untuk kendaraan tertentu, sistem barcode dan aplikasi MyPertamina disebut sudah berjalan dan dapat digunakan untuk memantau riwayat pengisian.
Dalam pengecekan, terdapat kendaraan yang tercatat melakukan pengisian pada Juni atau Juli dan baru kembali mengisi pada Agustus. Menurutnya, pola tersebut masih menunjukkan penggunaan yang relatif normal.
Namun, pihaknya juga menemukan kondisi berbeda di salah satu SPBU di Kecamatan Tanjung Redeb. Ada kendaraan yang tercatat baru melakukan pengisian sehari sebelumnya, tetapi kembali mengantre untuk mengisi BBM pada hari berikutnya.
“Kita temukan di ada yang mengisi kemarin, tapi sudah antre lagi hari ini. Ini yang harus kerja sama dengan semua pihak, harus kita sikapi bersama,” ujarnya.
Persoalan BBM diakunya berada dalam ranah bisnis, namun kepentingan masyarakat tetap harus diakomodasi agar kebutuhan BBM dapat terpenuhi secara wajar.
Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya indikasi penimbunan BBM. Dugaan tersebut muncul berdasarkan temuan di lapangan, terutama dari adanya kendaraan dengan barcode yang sama tercatat baru mengisi BBM pada hari sebelumnya, tetapi kembali melakukan pengisian pada hari berikutnya.
“Berdasarkan data primer disinyalir ada data penimbunan. Tindak lanjut berikutnya kami harap leading sector harus rapat tim untuk memitigasi strategi agar tidak terulang,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mencegah agar persoalan antrean dan ketersediaan BBM tidak berkembang menjadi kepanikan di tengah masyarakat.
Slamet kembali mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan penimbunan.
Selain dapat mengganggu distribusi dan membuat masyarakat lain kesulitan mendapatkan BBM, penyimpanan BBM dalam jumlah berlebihan juga memiliki risiko keselamatan.
“Jangan panic buying, apalagi sampai menimbun. Karena pernah ada pengamanan yang tidak baik akibat menimbun BBM, bisa terjadi kebakaran,” pungkasnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita, mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan ketersediaan stok BBM di daerah.
“Secara berkala tim pengendalian yang terdiri dari beberapa OPD terkait juga rutin melaksanakan pengawasan lapangan,” ujarnya.
Dari hasil koordinasi dengan Pertamina wilayah Berau dan Kalimantan Utara, kapal yang membawa pasokan BBM dijadwalkan merapat ke Pertamina Maluang pada Senin malam.
Ia berharap kedatangan kapal tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan BBM dan mengurai antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU. “Mudah-mudahan antrean panjang di sejumlah SPBU akan segera teratasi,” katanya.
Eva menambahkan, pihaknya juga tengah gencar melakukan sosialisasi terkait aturan penjualan BBM. Salah satunya mengenai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
Sosialisasi tersebut secara khusus menyasar larangan menjual kembali BBM di luar SPBU serta larangan operasional Pertamini.
Dirinya berharap kondisi ketersediaan BBM di Berau dapat kembali normal dalam waktu dekat. Harapan tersebut didasarkan pada hasil koordinasi dengan PT Pertamina terkait rencana kedatangan kapal pembawa BBM.
“Mudah-mudahan besok sudah kembali normal, sebagaimana hasil koordinasi dengan PT Pertamina,” pungkasnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi