Operasi Modifikasi Cuaca di Berau Berakhir, BNPB Pastikan Kendala Bukan Pada Teknis

Nurismi • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 12:30 WIB
DITUTUP: Pelaksanaan OMC di Kabupaten Berau oleh BNPB RI dan BMKG RI telah selesai selama lima hari, operasional menyiapkan 10 ton bahan semai yang hanya terpakai 5 ton saja. (BERAU POST)
DITUTUP: Pelaksanaan OMC di Kabupaten Berau oleh BNPB RI dan BMKG RI telah selesai selama lima hari, operasional menyiapkan 10 ton bahan semai yang hanya terpakai 5 ton saja. (BERAU POST)

BERAU POST – Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang menjadi bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan potensi hujan di Berau memasuki hari terakhir kemarin (28/8).

Operasi yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI tersebut telah melakukan lima kali penerbangan penyemaian awan selama lima hari di Berau. Selama pelaksanaan, sebanyak 5 ton bahan semai berupa garam khusus telah digunakan.

Namun, kondisi atmosfer di Berau memiliki karakteristik yang cukup berbeda dibandingkan sejumlah wilayah lain yang juga menjadi lokasi pelaksanaan OMC, menjadi tantangan tersendiri bagi tim dalam menentukan awan yang tepat untuk dilakukan penyemaian.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda pada Kedeputian Modifikasi Cuaca BMKG RI, Hari Saputro, menjelaskan bahwa prinsip utama OMC bukan menciptakan hujan dari kondisi yang benar-benar tidak memiliki awan, melainkan mengoptimalkan potensi awan yang sudah tersedia. “OMC bergantung pada suplai awan,” ujarnya Jumat (28/8).

Menurutnya, awan di wilayah Berau memiliki karakteristik unik. Pertumbuhan awan dapat berlangsung cukup cepat secara lokal, tetapi pergerakannya juga relatif cepat sehingga posisi awan dapat berubah dalam waktu singkat.

“Awannya cepat tumbuh dan berkembang, tetapi cepat bergeser,” katanya.

Kondisi tersebut membuat tim harus melakukan pemantauan secara terus-menerus sebelum menentukan sasaran penyemaian.

Awan yang terlihat memiliki potensi dari hasil pemantauan awal belum tentu berada di lokasi yang sama ketika pesawat telah selesai melakukan persiapan dan menuju sasaran.

Hari mencontohkan, pada beberapa kesempatan tim telah mempersiapkan proses penyemaian. Namun, ketika bahan semai dan pesawat telah siap, awan yang menjadi sasaran justru bergerak ke arah utara. “Ketika mau disemai, awannya sudah bergeser,” jelasnya.

Karakteristik tersebut juga dipengaruhi oleh wilayah geografis Berau. Berdasarkan pengamatan tim, pertumbuhan awan di kawasan pesisir relatif jarang. Sementara itu konsentrasi pertumbuhan awan lebih banyak ditemukan di wilayah daratan dan pegunungan.

“Sekarang awan banyak menumpuk di barat Tanjung Redeb,” tuturnya.

Wilayah pegunungan di bagian barat Tanjung Redeb menjadi salah satu kawasan yang memiliki potensi pertumbuhan awan.

Akan tetapi karakter awan yang tumbuh secara lokal dan kemudian bergerak cepat membuat peluang penyemaian harus dimanfaatkan pada waktu yang tepat.

Hari mengatakan, hasil pengamatan selama pelaksanaan OMC sebenarnya masih sesuai dengan analisis awal. Tim telah memperkirakan bahwa pertumbuhan awan di Berau tetap akan muncul selama periode operasi.

Persoalannya, pertumbuhan tersebut cenderung bersifat lokal dan tidak berlangsung dalam waktu yang lama di satu lokasi. Berbeda dengan sejumlah daerah lain, awan di Berau dapat mengalami pergeseran yang cukup cepat.

Kondisi ini menjadi pembeda utama antara pelaksanaan OMC di Berau dengan wilayah lain. Hari menyebut, setiap daerah yang menjadi lokasi OMC memiliki karakteristik atmosfer masing-masing, sehingga strategi penyemaian tidak dapat disamakan sepenuhnya.

Di Kalimantan Barat misalnya, pertumbuhan awan dinilai lebih memungkinkan untuk dipantau dan dimanfaatkan karena awan dapat terus tumbuh tanpa mengalami pergeseran secara masif dalam waktu singkat.

“Karakteristiknya memang berbeda dengan wilayah lain,” ujarnya.

Selain faktor pergerakan awan, keberadaan aktivitas petir juga menjadi pertimbangan bagi tim. Pada beberapa hari pelaksanaan, terdapat potensi awan dengan aktivitas petir yang sempat diperkirakan dapat berkembang di wilayah Berau. Namun, kondisi tersebut kembali berubah karena sistem awan bergerak menjauh dari wilayah sasaran.

Dalam pelaksanaan OMC, tim juga tidak dapat begitu saja melakukan penyemaian terhadap seluruh awan yang terlihat. Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi sebelum awan dinyatakan layak menjadi sasaran penyemaian.

Hal itu karena keberadaan awan secara visual belum otomatis menunjukkan bahwa awan tersebut memiliki karakteristik yang sesuai untuk disemai.

Penentuan dilakukan berdasarkan pengamatan dan analisis saintis penerbangan yang berada di dalam pesawat.

“Awan di atas belum tentu bisa disemai,” katanya.

Setiap penerbangan membawa sekitar satu ton bahan semai. Jumlah tersebut harus digunakan pada sasaran yang tepat agar proses modifikasi cuaca dapat berlangsung optimal.

Karena itu, ketika jumlah dan karakteristik awan tidak memenuhi kriteria, bahan semai tidak dapat dipaksakan untuk digunakan. Tim harus menunggu atau mencari awan lain yang memiliki potensi lebih sesuai.

Hari menegaskan, kendala utama yang ditemui selama pelaksanaan OMC di Berau bukan berasal dari persoalan teknis peralatan maupun operasional penerbangan, melainkan kondisi alam. “Kendalanya memang alam,” ujarnya.

Secara umum, BMKG menilai potensi awan di Kalimantan Timur memang relatif terbatas dibandingkan sejumlah wilayah lain yang saat ini juga menjalankan OMC.

Selain Berau, operasi modifikasi cuaca juga dilaksanakan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. “Setiap daerah punya karakteristik sendiri,” katanya.

Untuk Kalimantan Timur secara umum, potensi pertumbuhan awan disebut relatif sedikit. Karena itu, keberhasilan OMC sangat bergantung pada kemampuan tim dalam menemukan dan memanfaatkan awan yang tersedia.

Meski menghadapi kondisi tersebut, pelaksanaan OMC di Berau tetap berjalan selama lima hari. Dari sisi teknis operasional, BNPB memastikan tidak terdapat kendala berarti.

Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB RI, Tono Sumarsono, mengatakan, seluruh unsur pendukung dapat bekerja secara terpadu selama pelaksanaan operasi. “Secara teknis tidak ada kendala,” tegasnya.

Menurut Tono, pelaksanaan OMC merupakan operasi bersama yang melibatkan banyak unsur. Dukungan diberikan oleh Bandara Kalimarau, TNI AU, BMKG, Stasiun Meteorologi (Stamet), hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau.

Tono kembali menegaskan, tidak adanya kendala teknis bukan berarti pelaksanaan OMC berlangsung tanpa tantangan.

Tantangan terbesar justru berasal dari kondisi alam, khususnya ketersediaan dan karakteristik awan. “Kendalanya hanya nonteknis, yaitu kondisi awan,” ujarnya.

Kondisi kemarau juga membuat pelaksanaan OMC memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan operasi pada musim penghujan ketika potensi awan relatif lebih besar, penyemaian pada periode kemarau sangat bergantung pada munculnya awan yang memenuhi persyaratan.

Meski demikian, Tono menyebut OMC yang dilakukan di Berau tetap memberikan hasil. Hanya saja dampak penyemaian tidak selalu dapat dilihat secara langsung pada saat operasi berlangsung. “Sejauh ini OMC memang ada hasil,” katanya.

Ia menjelaskan, keberhasilan modifikasi cuaca tidak selalu dapat diukur hanya berdasarkan apakah hujan langsung turun tepat di bawah atau sekitar lokasi penerbangan.

Ada proses atmosfer yang perlu diperhitungkan, sementara tujuan utama operasi adalah memaksimalkan potensi hujan yang memang sudah tersedia.

Karena itu, kondisi awan menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas setiap penerbangan. Ketika awan yang tersedia memenuhi kriteria, tim akan melakukan penyemaian. Sebaliknya, jika kondisi tidak memungkinkan, penyemaian tidak dapat dipaksakan.

BMKG akan terus memantau dinamika atmosfer dan potensi awan di wilayah Berau. Karakteristik awan yang tumbuh cepat namun bergerak cepat pula menjadi tantangan yang harus dihadapi tim dalam setiap penerbangan.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa OMC bukanlah upaya untuk menciptakan hujan secara langsung, melainkan memaksimalkan peluang turunnya hujan dari awan yang memang tersedia. Karena itu, keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi alam dan ketersediaan awan yang sesuai. (sen/sam)

Editor : Nurismi
operasi modifikasi cuaca berakhir bmkg pemkab berau