Titik Panas di Berau Turun Signifikan, Bupati Ingatkan Kewaspadaan Karhutla Tetap Terjaga

Nurismi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:55 WIB
Bupati Berau, Sri Juniarsih. (BERAU POST)
Bupati Berau, Sri Juniarsih. (BERAU POST)

HARIAN RAKYAT KALTARA – Jumlah titik panas di Berau menurun signifikan di tengah kondisi cuaca yang cukup ekstrem dan musim kemarau.

Berdasarkan data pembaruan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Timur, per 24 Agustus jumlah titik panas di Berau turun dari sebelumnya 281 titik menjadi 51 titik.

Bupati Berau Sri Juniarsih, mengatakan, penurunan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak dalam menjaga lingkungan selama musim kemarau.

Dari 51 titik panas yang terdeteksi, Kecamatan Segah menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak yakni 18 titik. Selanjutnya Pulau Derawan tercatat 10 titik, Talisayan 8 titik, Sambaliung 5 titik, dan Bidukbiduk 4 titik.

Sementara Kecamatan Batu Putih dan Kelay masing-masing terdeteksi dua titik panas. Sedangkan Gunung Tabur dan Tabalar masing-masing terdeteksi satu titik.

Dengan jumlah tersebut, posisi Berau kini berada di peringkat kedua daerah dengan titik panas terbanyak di Kalimantan Timur. Berau berada di bawah Kabupaten Kutai Kartanegara yang tercatat memiliki 74 titik panas.

Meski mengalami penurunan, Sri Juniarsih menegaskan kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan menurun.

Sebab, musim kemarau masih berlangsung dengan kondisi cuaca yang kering dan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Segera laporkan apabila menemukan titik api dan bersama-sama kita jaga lingkungan serta wilayah kita agar aman dari ancaman karhutla,” ujarnya kemarin (26/8).

Pemkab Berau telah melakukan berbagai langkah untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan untuk membantu memicu terjadinya hujan.

Dalam pelaksanaan OMC, pemerintah menggunakan pesawat untuk menaburkan garam ke dalam awan sebagai bagian dari upaya memicu terjadinya hujan.

Penanganan karhutla diakuinya tidak dapat hanya mengandalkan petugas di lapangan. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah, petugas pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, pihak perusahaan, hingga masyarakat.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap lalai, termasuk ketika melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Upaya pemerintah bersama berbagai sektor akan menjadi sia-sia apabila tidak dibarengi kepedulian masyarakat.

“Jangan sampai karena kelalaian kita, masyarakat lalai ataupun tidak sengaja sehingga terjadilah hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegasnya.

Pun berdasarkan informasi yang diterima, kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga Januari 2027. Dengan begitu, kewaspadaan terhadap potensi karhutla dinilai masih perlu dipertahankan dalam waktu yang cukup panjang.

Karena itu, ia meminta seluruh unsur yang selama ini terlibat dalam pemantauan dan penanganan karhutla untuk terus mengambil peran.

BPBD, Damkar, TNI, Polri, maupun pihak swasta diharapkan tetap melakukan pemantauan dan langkah pencegahan di wilayah masing-masing.

Termasuk masyarakat yang berada di 100 kampung dan 10 kelurahan di Kabupaten Berau juga diminta mengambil bagian dalam upaya tersebut. “Kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan kita,” tegasnya.

Ia berharap kerja sama seluruh pihak dapat terus dipertahankan, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau dapat diminimalkan.

“Saya yakin dengan kepedulian dan kerja sama seluruh pihak, kita dapat menghadapi tantangan musim kemarau ini dan insya Allah Berau tetap aman dan kondusif,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Berau terus dilaksanakan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI memastikan operasi tidak semata-mata bergantung pada jadwal yang telah ditetapkan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan di lapangan.

Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB RI, Tono Sumarsono, menjelaskan, awan yang berpotensi disemai dapat sewaktu-waktu mengalami peluruhan.

Karena itu, tim terus memantau perkembangan awan menggunakan radar untuk menentukan momentum penyemaian yang paling tepat.

“Jangan sampai awannya luruh, maka kita semai,” jelasnya.

Selain tidak adanya pertumbuhan awan, kecepatan angin yang terlalu tinggi juga menjadi kendala. Secara ilmiah, pembentukan awan dipengaruhi proses penguapan air dari permukaan daratan. Kondisi terik yang terjadi di Berau turut memengaruhi proses tersebut. (aja/sam)

Editor : Nurismi
Titik panas cuaca ekstre BMKG Kaltim pemkab berau