BERAU POST - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau menegaskan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi fokus utama di tengah meningkatnya kejadian sepanjang Agustus 2026.
Selain melakukan pemadaman, langkah pencegahan tetap dijalankan untuk menekan potensi kebakaran meluas, maupun berulang.
Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kabupaten Berau yang dihimpun Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Berau, hingga 22 Agustus 2026 tercatat 169 kejadian karhutla dengan total perkiraan luas lahan terbakar mencapai 386,6 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Mundi, mengatakan, kejadian tersebut tersebar di 12 kecamatan. Maratua menjadi satu-satunya kecamatan yang belum tercatat memiliki laporan kejadian karhutla pada periode tersebut.
Menurut Masyhadi, penanganan dilakukan dengan melibatkan personel lintas instansi. Tim gabungan yang diterjunkan terdiri atas BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), TNI-Polri, Manggala Agni, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan, hingga relawan.
Untuk mempercepat respons terhadap laporan kebakaran, personel ditempatkan berdasarkan sejumlah jalur prioritas yang mencakup wilayah rawan karhutla. Di antaranya Poros Teluk Bayur-Kelay, Poros Labanan-Segah, Poros Gunung Tabur-Derawan-Bulungan, Poros Tanjung Redeb-Tabalar, serta Poros Biatan-Bidukbiduk. “Penanganannya kita terjunkan tim gabungan,” katanya.
Dari data yang ada, Sambaliung menjadi kecamatan dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 35 kejadian dengan perkiraan luas lahan terbakar mencapai 75 hektare. Kemudian Teluk Bayur mencatat 29 kejadian dengan luas sekitar 69,5 hektare.
Pulau Derawan berada di urutan berikutnya dengan 26 kejadian, dan perkiraan luas terbakar 59,5 hektare. Sementara Tabalar mencatat 23 kejadian dengan luasan sekitar 60 hektare.
Kecamatan Gunung Tabur mencatat 11 kejadian dengan perkiraan luas 42 hektare, sedangkan Biatan 13 kejadian dengan sekitar 39 hektare. Talisayan mencatat sembilan kejadian dengan luasan 13,5 hektare.
Adapun Batu Putih mencatat lima kejadian dengan luas sekitar sembilan hektare, Kelay empat kejadian dengan enam hektare, Segah empat kejadian dengan 4,6 hektare, Tanjung Redeb lima kejadian dengan 3,5 hektare, dan Bidukbiduk lima kejadian dengan sekitar lima hektare.
Masyhadi menegaskan kondisi tersebut membuat penanganan menjadi perhatian utama saat ini. Namun menurutnya, upaya penanggulangan tidak dapat hanya dilakukan ketika kebakaran telah terjadi. Pencegahan tetap menjadi bagian penting dalam siklus penanggulangan bencana.
“Saat ini memang masanya kita melakukan penanganan,” jelasnya.
BPBD lanjutnya, memiliki sejumlah program yang mencakup tahapan pencegahan, penanggulangan, hingga pascabencana. Salah satu langkah pencegahan dilakukan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat di kampung-kampung. “KIE tetap kita lakukan ke kampung-kampung,” tuturnya.
Selain itu, BPBD membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) yang tidak hanya diarahkan untuk menghadapi karhutla, tetapi juga berbagai potensi bencana lainnya. Untuk penanganan karhutla di tingkat masyarakat, BPBD juga melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai relawan.
Masyhadi menyebut penguatan kapasitas masyarakat menjadi penting, karena pola kejadian karhutla menunjukkan kecenderungan semakin pendek.
Jika sebelumnya siklus peningkatan kejadian berada dalam rentang lima tahunan, kemudian menjadi sekitar empat tahunan, kini kembali menunjukkan pola sekitar tiga tahunan.
“Sekarang turun lagi menjadi tiga tahunan, 2026,” katanya.
Karena itu, BPBD tidak ingin siklus tersebut semakin pendek. Keterbatasan dukungan pembinaan, termasuk akibat berkurangnya DBH-DR, diaku menjadi salah satu tantangan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan upaya pencegahan maupun penanganan di lapangan. “Kita tetap optimistis penanganan berjalan sebaik mungkin,” pungkasnya.
Terpisah, Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, berharap BPBD Berau serta instansi lainnya bersama dalam penanggulangan bencana ini. Koordinasi antarlembaga jadi kunci kesuksesan penanganan Karhurtla di Berau.
“Kita dorong supaya kolaborasi antarinstansi berjalan, baik pemerintah ataupun swasta saling bahu membahu,” terangnya.
Ke depan, edukasi kepada masyarakat juga harus menjadi perhatian. Edukasi tentang kebencanaan merupakan langkah awal memperkuat fondasi ketahanan, sehingga asyarakat yang teredukasi paham ketika menghadapi bencana di kemudian hari.
“Setelah ini semua berlalu, edukasi harus tetap jalan, kita harap juga pembentukan Destana atau MPA bisa diperkuat nantinya,” pungkasnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi