BERAU POST – Gedung Walet di RSUD dr Abdul Rivai Berau hingga kini belum dapat dimanfaatkan seluruhnya. Dari tiga lantai yang tersedia, hanya lantai 1 yang telah beroperasi, sementara lantai 2 dan lantai 3 masih belum bisa digunakan untuk pelayanan.
Direktur RSUD dr Abdul Rivai, dr Jusram, mengatakan, belum beroperasinya dua lantai tersebut karena belum ada akses menuju ke sana, padahal sebagian besar peralatan yang dibutuhkan telah tersedia.
Pihak rumah sakit masih menunggu dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Berau untuk penyediaan akses tersebut.
Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah pembangunan atau pengadaan lift yang memungkinkan pasien, tenaga medis, maupun peralatan dapat dibawa ke lantai atas.
“Kami menunggu anggaran dari pemerintah daerah. Sebenarnya kami sudah mengajukan, melalui DPRD, melalui pemerintah daerah juga sudah. Kami hanya menunggu kira-kira kapan anggaran itu bisa direalisasikan,” katanya beberapa waktu lalu.
Ia menyebut, pihak rumah sakit masih menunggu arahan pemerintah daerah untuk kelanjutan pemanfaatan lantai 2 dan 3 Gedung Walet pada tahun ini. Terlebih hingga saat ini anggaran perubahan atau ABT belum tersedia.
Jusram berharap hal itu dapat terealisasi. Kebutuhan akses menjadi hal yang tidak bisa ditunda jika rumah sakit ingin segera mengoperasikan layanan di dua lantai tersebut.
“Karena yang kita butuhkan ini akses untuk naik ke atas. Belum ada akses ke lantai 2 dan 3. Jadi yang paling penting itu akses berupa lift untuk naik ke lantai 2 dan lantai 3,” jelasnya.
Rencananya, lantai 2 Gedung Walet akan digunakan untuk Instalasi Bedah Sentral (IBS). Sementara lantai 3 dipersiapkan sebagai ruang Intensive Care Unit (ICU).
Dirinya memastikan kesiapan fasilitas di kedua lantai tersebut sebenarnya sudah cukup baik. Peralatan untuk menunjang pelayanan telah tersedia, tinggal menunggu akses agar dapat difungsikan.
“Kalau di lantai 3, semua peralatannya sudah terpasang. Tinggal aksesnya untuk naik ke sana,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah peralatan yang saat ini telah tersedia diperoleh melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Investasi pemerintah untuk melengkapi fasilitas pelayanan kesehatan di gedung tersebut telah dilakukan, namun pemanfaatannya belum dapat maksimal lantaran akses antarlantai belum tersedia.
Kondisi ini membuat rumah sakit belum dapat mengoperasikan layanan yang direncanakan di lantai 2 dan 3.
Padahal, keberadaan IBS dan ICU menjadi bagian penting dalam menunjang pelayanan rumah sakit, terutama untuk penanganan pasien yang membutuhkan tindakan operasi maupun perawatan intensif.
Pihak RSUD dr Abdul Rivai berharap dukungan anggaran untuk penyediaan lift dapat segera mendapat kepastian.
Dengan tersedianya akses tersebut, dua lantai Gedung Walet yang saat ini masih belum digunakan diharapkan dapat segera difungsikan dan menambah kapasitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Berau.
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menilai belum optimalnya operasional Gedung Walet RSUD dr Abdul Rivai menjadi perhatian serius.
Ia menyayangkan fasilitas yang diharapkan memperkuat layanan kesehatan rujukan justru belum bisa digunakan secara penuh hanya karena kendala teknis.
“Pemerintah daerah bersama pihak terkait perlu segera mempercepat penyelesaian pengadaan lift, agar seluruh layanan di gedung tersebut bisa segera berfungsi,” katanya.
Ia menekankan, keterlambatan ini tidak boleh terus berlarut, mengingat kebutuhan layanan kesehatan darurat dan intensif sangat mendesak bagi masyarakat Berau.
Dedy juga menyoroti pentingnya evaluasi terhadap kegagalan kontrak pengadaan sebelumnya. Ia meminta agar proses ke depan dilakukan lebih ketat dan transparan, sehingga anggaran yang telah disiapkan benar-benar menghasilkan fasilitas yang sesuai kebutuhan rumah sakit modern.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa DPRD akan terus melakukan fungsi pengawasan agar proyek strategis seperti Gedung Walet tidak kembali mengalami hambatan serupa.
Ia berharap begitu seluruh fasilitas pendukung khususnya lift terpasang, maka peningkatan kapasitas layanan ICU dan IBS dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (aja/sam)
Editor : Nurismi