Rintis Produksi Karya Mandiri, Komunitas Penikmat Teater Sukses Pukau Ratusan Penonton di Berau

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 16:20 WIB
PENTAS TEATER: Para pemeran tampil dalam Prolog 1.0 “Sampah Serapah” di Gedung Busak Kananga SMPN 3 Tanjung Redeb. (IZZA/BP)
PENTAS TEATER: Para pemeran tampil dalam Prolog 1.0 “Sampah Serapah” di Gedung Busak Kananga SMPN 3 Tanjung Redeb. (IZZA/BP)

Ratusan penonton menyaksikan pentas Prolog 1.0 “Sampah Serapah” yang digelar selama dua hari, 15–16 Agustus, di Gedung Busak Kananga SMPN 3 Tanjung Redeb. Pementasan tersebut menjadi langkah awal Komunitas Penikmat Teater untuk tidak sekadar menjadi penonton maupun pengisi kegiatan, tetapi memproduksi dan mementaskan karya mereka sendiri.

Amnil Izza, TANJUNG REDEB

Di balik pementasan tersebut, ada keresahan yang ingin disampaikan. Naskah “Sampah Serapah” karya Isman RH dipilih bukan semata karena durasinya yang relatif pendek, tetapi karena memuat berbagai kegelisahan mengenai kondisi yang terjadi di Indonesia.

Salah seorang anggota Komunitas Penikmat Teater, Andriane Uran, mengatakan, pilihan terhadap naskah tersebut kemudian dikembangkan dengan pendekatan surealis.

Pendekatan itu membuat pertunjukan tidak hanya bertumpu pada dialog, tetapi juga mengandalkan artistik serta gestur simbolik untuk menyampaikan pesan kepada penonton.

“Kami pilih naskah Sampah Serapah, selain karena naskahnya pendek, tapi sarat keresahan tentang kondisi di Indonesia,” ujar Cekar, nama akbarnya.

Menariknya, kata “sampah” dalam judul justru tidak berhenti sebagai simbol keresahan. Tim pementasan membawa makna tersebut ke dalam unsur artistik pertunjukan dengan memanfaatkan sampah atau limbah fashion sebagai bagian dari kostum.

Pemilihan material tersebut memiliki keterkaitan dengan gagasan utama yang ingin disampaikan. Di tengah berbagai keresahan, masih terdapat harapan.

Sesuatu yang telah diberi label sebagai sampah atau tidak lagi memiliki nilai bukan berarti benar-benar berakhir dan tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Gagasan itu pula yang coba disandingkan dengan dialog tentang harapan di dalam pementasan. Sampah yang kembali dimanfaatkan menjadi kostum, seolah menjadi gambaran bahwa sesuatu yang dianggap selesai masih dapat memiliki fungsi dan makna baru.

“Bahwa masih ada harapan, walaupun suatu keadaan atau suatu barang sudah dilabeli sebagai sampah,” jelasnya.

Naskah tersebut diperankan oleh tujuh aktor. Mereka memerankan karakter Penulis serta orang 1 hingga orang 6 dengan karakter yang berbeda.

Pementasan disutradarai Garry Cantona, sekaligus menjadi salah seorang pemeran bersama Rina Sari, Erinda Wulandari, Arief Fadillah, Anyo Banyo, Andriane Uran, dan Riyaltian Fairus Raspati.

Proses menuju panggung tidak berlangsung singkat. Casting dibuka sejak 22 Juni hingga 9 Juli. Tidak hanya melibatkan anggota komunitas, proses seleksi tersebut sengaja dibuka untuk umum.

Langkah itu dilakukan karena jumlah anggota Komunitas Penikmat Teater saat ini masih terbatas. Komunitas tersebut memiliki tiga anggota, yakni Agus Sapriansyah atau Anyo, Dhani Prananta atau Pingul, serta Andriane Uran atau Cekar.

Dengan membuka casting untuk umum, mereka berupaya mengajak orang-orang dari luar komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap seni teater untuk ikut terlibat. Dari sana, terbentuk tim yang memiliki latar belakang berbeda, baik dari sisi aktor maupun tim artistik.

“Setelah proses casting, tahapan berikutnya diisi dengan pengumuman pemain, dramatic reading, hingga bedah naskah,” tuturnya.

Para aktor kemudian menjalani latihan untuk memahami karakter sekaligus menghafalkan dialog. Setelah itu, latihan masuk pada tahap penggarapan bentuk pertunjukan, termasuk menentukan pergerakan, posisi duduk, hingga cara aktor berjalan di atas panggung.

“Total latihan intensif berlangsung lebih dari satu bulan. Namun, proses tersebut bukan tanpa kendala,” katanya.

Sebagian besar anggota tim merupakan pekerja. Sementara sejumlah kru merupakan sukarelawan yang rata-rata masih berstatus pelajar.

Kondisi itu membuat waktu latihan harus menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing. Latihan umumnya dilakukan pada malam hari dan tidak selalu dapat dihadiri seluruh pemain maupun kru secara lengkap.

Bahkan, pada pekan-pekan awal, pertemuan dengan formasi lengkap menjadi sesuatu yang cukup sulit dilakukan.

Baru pada minggu-minggu terakhir menjelang pementasan, latihan dengan seluruh pemain dan tim baru bisa sering dilakukan. Kelelahan juga menjadi bagian dari proses yang harus dilewati.

Tantangan lainnya datang dari perbedaan latar belakang para pemain dan tim artistik. Mereka tidak seluruhnya berasal dari Komunitas Penikmat Teater.

Menyatukan banyak kepala dengan pengalaman dan cara pandang berbeda membutuhkan proses tersendiri, agar gagasan pertunjukan dapat diterjemahkan secara utuh di atas panggung.

Namun, berbagai keterbatasan tersebut tidak menghentikan proses kreatif hingga akhirnya “Sampah Serapah” dapat dipentaskan di hadapan ratusan penonton.

Bagi Komunitas Penikmat Teater, Prolog 1.0 juga memiliki arti khusus. Nama “Prolog” dipilih karena dalam sebuah tulisan atau novel, prolog merupakan bagian pembuka. Karena itu, pementasan ini dimaknai sebagai pembuka perjalanan mereka dalam membuat karya pertunjukan sendiri.

Selama ini, mereka kerap berkolaborasi, mengisi kegiatan, maupun datang menyaksikan karya pertunjukan dari kelompok lain.

Kali ini, setelah satu tahun berdiri, mereka mengambil langkah berbeda dengan menggarap pertunjukan sendiri dari awal hingga pementasan.

“Pentas prolog ini pentas pembuka dari Penikmat Teater untuk penikmat teater. Kalau sebelumnya kami sering berkolaborasi atau mengisi acara atau datang ke pentas karya pertunjukan orang, tapi kali ini kami yang benar-benar membuat sendiri,” kata Dia.

Prolog 1.0 pun diharapkan bukan menjadi pertunjukan terakhir. Mereka memiliki keinginan untuk melanjutkan perjalanan melalui pementasan berikutnya yang tidak lagi menggunakan nama Prolog, melainkan Dialog.

Rencananya, perjalanan itu akan berlanjut melalui Dialog 1, Dialog 2, Dialog 3 dan seterusnya. Hingga pada suatu ketika, perjalanan tersebut ditutup dengan sebuah pentas Epilog, ketika tiga anggota komunitas memutuskan tidak lagi melanjutkan aktivitas atau pensiun dari seni pertunjukan.

Bagi mereka, rangkaian tersebut bukan sekadar penamaan pementasan. Ada sebuah perjalanan yang ingin dibangun secara bertahap.

Prolog menjadi awal, Dialog menjadi perjalanan, sementara Epilog menjadi penutup yang belum diketahui kapan waktunya. (sam)

Editor : Nurismi
theater pentas dialog