Kekayaan budaya Kabupaten Berau tak hanya hidup dalam tradisi dan ingatan masyarakat. Melalui Festival BaBaDa: Tumbuh & Bertemu, kekayaan tersebut mulai ditransformasikan menjadi cerita anak bergambar yang diharapkan dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerahnya.
Amnil Izza, TANJUNG REDEB
Program Penulisan Buku Cerita Anak Bergambar Berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan ini digagas Komunitas Literasi Gerobooks.
Founder Gerobooks, Risna Herjayanti, mengatakan, kegiatan tersebut berangkat dari kekayaan budaya Berau yang dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bahan bacaan anak.
Secara teritorial, Berau dihuni tiga suku asli yakni Banua, Bajau, dan Dayak, serta berbagai suku pendatang.
Keragaman itu membentuk lanskap budaya yang khas, mulai dari situs sejarah seperti Museum Batiwakkal dan Keraton Sambaliung, kesenian tari Dalling, Jappin dan tari Dayak, hingga kuliner seperti Ancur Paddas, Kue Sarang Semut dan Kue Talinga Sagayi.
Berbagai tradisi masyarakat juga menjadi bagian dari kekayaan tersebut. Di antaranya Pesta Adat Meja Panjang di Kampung Merasa, Pesta Mag Jamu di Kampung Tanjung Batu, serta lomba Perahu Panjang di sekitar Sungai Segah.
“Tapi, kekayaan itu belum sepenuhnya terdokumentasikan dalam bentuk buku yang mudah diakses anak-anak,” ucapnya.
Sebagian cerita lokal masih diwariskan secara lisan. Sementara buku cerita anak bergambar yang mengangkat budaya Berau dan beredar di sekolah maupun taman bacaan masyarakat masih terbatas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Gerobooks memilih buku cerita anak bergambar sebagai medium.
Terlebih, anak-anak kini semakin mudah mengakses gawai dan media digital.
Di tengah derasnya budaya populer dari berbagai belahan dunia, kehadiran bacaan yang dekat dengan lingkungan dan budaya tempat anak tumbuh dinilai penting.
Festival BaBaDa kemudian dirancang bukan sekadar kegiatan menulis buku cerita anak bergambar. Program ini mempertemukan penulis, ilustrator, budayawan, akademisi, guru, pegiat literasi, pemerintah daerah dan masyarakat dalam satu proses kreatif.
Peserta akan mengikuti tahapan mulai dari eksplorasi budaya, penyusunan ide cerita, penulisan naskah, pengembangan karakter, pembuatan ilustrasi, penyuntingan, desain hingga penerbitan.
Pendekatan yang diusung sederhana, yakni mengubah warisan budaya menjadi cerita anak bergambar yang hangat, dekat dengan dunia anak, sekaligus membawa nilai kehidupan.
“Saat ini kegiatan memasuki tahap lokakarya yang berlangsung selama dua hari pada 15–16 Agustus,” sebutnya.
Sebanyak 63 peserta mendaftar melalui open call, setelah dikurasi hanya 20 orang saja yang terpilih. Mereka yang telah dikurasi terdiri atas 10 penulis dan 10 ilustrator.
Tujuh peserta di antaranya berasal dari Berau, sedangkan peserta lainnya dari luar daerah, seperti Depok, Jakarta, Bali, Bogor, Jogjakarta, Samarinda dan Sangatta.
Tantangan terbesar justru pada waktu pengerjaan yang cukup singkat. Penulis dan ilustrator harus berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan karya sebelum puncak festival. Kendati begitu, dirinya optimistis target tersebut dapat tercapai.
“Targetnya saat puncak acara, buku tersebut sudah bisa dibaca oleh pengunjung dan kita berikan kepada sasaran penerima,” kata Risna.
Festival BaBaDa sendiri dijadwalkan memasuki puncak kegiatan pada 26–27 September mendatang.
Selain peluncuran buku, agenda juga dirancang menghadirkan diskusi karya, pameran ilustrasi, lokakarya kreatif, pertunjukan seni, permainan interaktif, art market dan bazar UMKM.
Dari proses panjang itu, tiga judul buku ditargetkan lahir. Dua buku akan hadir dalam bentuk cerita berseri, sementara satu lainnya merangkum kumpulan cerita.
Ketiganya diharapkan menjadi warna baru dalam bacaan anak sekaligus membawa cerita tentang kekayaan budaya Berau lebih dekat ke dunia mereka.
Perjalanan buku-buku itu pun tidak berhenti setelah dicetak. Sebanyak 50 sekolah, mulai dari TK hingga SD, direncanakan menjadi tempat penyaluran buku tersebut.
Selain itu, buku juga akan menyapa perpustakaan kampung dan taman bacaan masyarakat, agar cerita tentang Berau tidak hanya tersimpan di rak, tetapi benar-benar menemukan pembacanya.
“Budaya lokal diharapkan tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, melainkan tumbuh bersama generasi yang akan meneruskannya,” ungkapnya. (sam)
Editor : Nurismi