Dorong Hilirisasi Sektor Unggulan, Pemkab Berau Pacu Nilai Tambah Komoditas Lokal Daerah

Nurismi • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:45 WIB
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (SENO/BP)
Wakil Bupati Berau, Gamalis. (SENO/BP)

BERAU POST – Kabupaten Berau dinilai memiliki peluang besar mengambil peran dalam kebijakan hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA) yang tengah didorong pemerintah pusat.

Pengolahan komoditas di daerah dianggap penting, agar potensi SDA tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian dan masyarakat.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan, kebijakan hilirisasi sejalan dengan upaya Pemkab Berau membangun ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Berau memiliki beragam potensi, mulai dari pertambangan, perkebunan, perikanan, hingga pertanian yang dapat dikembangkan melalui industri pengolahan.

“Hilirisasi bukan hanya soal membangun industri, tetapi menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja,” ujarnya belum lama ini. 

Menurut Gamalis, selama ini Berau memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara di Kalimantan Timur. Namun ketergantungan terhadap satu sektor perlu dikurangi melalui diversifikasi ekonomi.

Pengembangan industri berbasis komoditas perkebunan, perikanan, dan pertanian dinilai dapat menjadi salah satu strategi memperkuat perekonomian daerah.

Ia mencontohkan sektor perikanan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi.

Hal serupa dapat diterapkan pada komoditas kelapa sawit, kakao, dan berbagai hasil pertanian yang selama ini memiliki pasar.

“Jangan sampai potensi daerah hanya keluar dalam bentuk bahan baku,” katanya.

Menurutnya, pengolahan komoditas di Berau berpotensi memperluas penyerapan tenaga kerja, mendorong pertumbuhan UMKM dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Namun, pengembangan hilirisasi membutuhkan dukungan berbagai aspek, termasuk infrastruktur, kemudahan investasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Gamalis menyebut pemerintah daerah terus membuka peluang investasi dengan tetap mengedepankan pembangunan berkelanjutan serta perlindungan lingkungan.

Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat juga diperlukan agar investasi yang masuk memberikan manfaat jangka panjang.

“Kami menyambut baik hilirisasi sebagai prioritas nasional,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, Pemprov Kaltim, dan Pemkab Berau dapat mempercepat pengembangan industri berbasis potensi lokal.

Dengan demikian, Berau tidak hanya berstatus sebagai daerah penghasil SDA, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing.

“Harapannya ekonomi Berau tumbuh lebih inklusif dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” pungkasnya.

Sebelumnya, salah satu potensi komoditas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Berau dinilai masih belum dimanfaatkan secara optimal.

Selama ini, sebagian besar hasil perkebunan sawit dari daerah tersebut masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah tanpa melalui proses pengolahan lanjutan di wilayah setempat.

Hal tersebut mendapat sorotan dari Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi. Ia menilai kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah, agar dapat mendorong pengembangan sektor industri pengolahan kelapa sawit di Berau.

Menurutnya, selama komoditas sawit hanya dijual dalam bentuk bahan baku, nilai ekonomi yang diperoleh daerah dan masyarakat masih relatif terbatas.

Padahal jika dilakukan proses hilirisasi atau pengolahan di daerah, komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar.

“Selama ini sawit kita banyak dijual dalam bentuk bahan mentah, padahal jika diolah tentu nilainya jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Sumadi menjelaskan, pengembangan industri pengolahan sawit tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai ekonomi komoditas tersebut.

Lebih dari itu, keberadaan industri pengolahan juga berpotensi membuka peluang kerja baru bagi masyarakat lokal.
Dengan adanya pabrik atau industri pengolahan di daerah, rantai produksi komoditas sawit akan semakin panjang.

Kondisi ini diyakini dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang lebih besar, baik pada sektor produksi, distribusi, maupun pengolahan.

“Sektor pengolahan dan industri kita harus naik kelas. Dari situ kita bisa ciptakan lapangan kerja baru,” jelasnya. (sen/sam)

Editor : Nurismi
hilirisasi sawit lapangan kerja baru pemkab berau