BERAU POST – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Berau dalam beberapa waktu terakhir belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Kalimarau. Jarak pandang atau visibilitas di kawasan bandara masih berada dalam kondisi aman.
Kepala BLU UPBU Kelas I Kalimarau, Patah Atabri, mengatakan, titik karhutla yang muncul sejauh ini berada di luar kawasan bandara.
Kondisi tersebut membuat asap belum mengganggu jarak pandang yang menjadi salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan.
Berdasarkan pemantauan, jarak pandang di Bandara Kalimarau masih berada pada kisaran 5.000 hingga 10.000 meter. Kondisi tersebut dinilai masih cukup baik.
Ia menjelaskan, gangguan terhadap operasional penerbangan akibat kondisi jarak pandang baru berpotensi terjadi apabila visibilitas turun secara signifikan. Salah satu batas yang menjadi perhatian adalah ketika jarak pandang berada di bawah 700 meter.
Meski demikian, pihak pengelola bandara tetap meningkatkan pemantauan karena kondisi kebakaran dan arah pergerakan asap dapat berubah sewaktu-waktu.
Menurutnya, informasi mengenai perkembangan karhutla terus diperbarui sebagai bagian dari langkah antisipasi. Informasi tersebut penting, untuk memastikan pihak bandara dapat mengambil tindakan pencegahan apabila kondisi di sekitar bandara mengalami perubahan. “Kita terus memperbarui informasi soal karhutla,” jelasnya kemarin (13/8).
Selain pemantauan, langkah preventif juga dilakukan dengan meningkatkan kesiapsiagaan tim pemadam kebakaran Bandara Kalimarau. Personel diminta tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya titik api di sekitar kawasan bandara.
Dengan kesiapan personel dan peralatan yang ada, potensi gangguan terhadap operasional penerbangan diharapkan dapat ditekan. “Kami terus meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya.
Ia berharap kondisi karhutla di Berau tidak berkembang semakin luas sehingga kualitas udara maupun jarak pandang di kawasan bandara tetap terjaga. Stabilnya kondisi tersebut dinilai penting untuk mempertahankan kelancaran arus perjalanan udara masyarakat.
Sebelumnya, Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan, tingginya kemunculan hotspot tidak terlepas dari kondisi atmosfer yang relatif kering.
Minimnya curah hujan, suhu maksimum harian yang tinggi, serta pergerakan angin menjadi sejumlah faktor yang meningkatkan potensi munculnya titik panas.
“Pergerakan angin juga berpotensi meningkatkan kemunculan titik hotspot di wilayah Berau,” ungkap Ade saat dihubungi.
Dengan kondisi hujan yang masih rendah dan permukaan tanah yang semakin mudah terbakar, BMKG mengingatkan masyarakat maupun seluruh pemangku kepentingan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki potensi karhutla tinggi.
Ade meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran. “Tidak melakukan pembakaran lahan atau aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran,” imbaunya.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan kepada pihak berwenang.
Selain itu, masyarakat diimbau aktif mengikuti perkembangan informasi cuaca dan potensi kebakaran dari sumber resmi.
BMKG Berau lanjut Ade, akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca, curah hujan, serta perkembangan hotspot di wilayah Kabupaten Berau.
“BMKG akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca, curah hujan, dan hotspot di wilayah Kabupaten Berau serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat,” tutupnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi