Capai Enam Puluh Persen Timbulan Rumah Tangga, DLHK Berau Minta Sampah Dipilah dari Rumah

Nurismi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:00 WIB

 

ILUSTRASI: DLHK Berau mendorong warga mengelola sampah organik secara mandiri, guna mengurangi beban TPA. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: DLHK Berau mendorong warga mengelola sampah organik secara mandiri, guna mengurangi beban TPA. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau mengajak masyarakat mulai mengelola sampah organik dari rumah masing-masing.

Itu sebagai upaya mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sekaligus menjaga kebersihan lingkungan di Kabupaten Berau.

Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan, pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi beban pengangkutan dan penanganan sampah di TPA.

Hal itu juga menjadi dasar diterbitkannya Surat Edaran Bupati Berau Nomor 100.3.4.2/498/DLHK-II/2026 tentang Aksi Kelola Sampah Organik Secara Mandiri di Rumah/Sumber Sampah.

Dalam surat edaran tersebut, masyarakat diajak mulai memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.  “Sebab, berdasarkan data yang disampaikan DLHK Berau, sekitar 60 persen timbulan sampah rumah tangga merupakan sampah organik,” ungkapnya, Minggu (2/8).

Dijelaskan, sampah organik yang tidak dikelola dari sumbernya akan menambah jumlah sampah yang harus dibawa ke TPA.

Sebaliknya, jika pengelolaan dilakukan sejak tingkat rumah tangga, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan.

“Pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya. Rumah tangga menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA,” katanya.

Pihaknya mengarahkan masyarakat menerapkan empat langkah sederhana dalam pengelolaan sampah. Pertama, memilah sampah berdasarkan jenisnya yakni sampah organik, anorganik, dan sampah residu.

Kedua, masyarakat diminta mengolah sampah organik secara mandiri di rumah. Sementara sampah anorganik dapat disalurkan melalui bank sampah, pengepul, maupun pemulung. Adapun sampah residu menjadi jenis sampah yang dibuang ke TPA.

“Untuk mengolah sampah organik, masyarakat dapat memilih berbagai metode yang sesuai dengan kondisi rumah dan kebutuhan masing-masing,” pintanya.

Beberapa metode yang dapat diterapkan di antaranya menggunakan tong komposter, biopori, ember tumpuk, LOSIDA, keranjang Takakura, komposter bag, eco enzyme, hingga budidaya maggot BSF.

Zulkifli menyebut hal terpenting dari pengelolaan sampah organik adalah mengurangi kebiasaan membuang seluruh sampah rumah tangga langsung ke TPA. Dengan pengolahan dari rumah, sampah yang dibuang dapat dikurangi secara bertahap.

Selain mengurangi beban TPA, pengelolaan sampah organik juga memberikan sejumlah manfaat lain seperti mengurangi pencemaran lingkungan, menekan emisi gas rumah kaca, mencegah penyumbatan saluran air yang dapat memicu banjir, serta menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. “Tidak hanya rumah tangga, tetapi juga instansi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, bank sampah, hingga pemerintah kampung dan kelurahan,” sebutnya.

Kolaborasi berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pengurangan sampah organik di Kabupaten Berau.

DLHK berharap kebiasaan memilah dan mengolah sampah dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama akan memberikan dampak besar bagi lingkungan dan membantu menjaga Berau tetap bersih, sehat, dan lestari,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih, turut mengajak masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Pemilahan sampah menjadi langkah awal agar limbah yang masih memiliki nilai guna dapat lebih mudah dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.

Perhatian perlu diberikan terutama terhadap sampah rumah tangga dan limbah berbahan plastik yang selama ini menjadi salah satu penyumbang timbulan sampah.

“Dengan pemilahan yang dilakukan sejak sumbernya, pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif,” katanya.

Selain pengurangan sampah plastik, berbagai gerakan peduli lingkungan juga terus berkembang di tengah masyarakat.

Pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan proses daur ulang. Dibutuhkan penerapan konsep ekonomi sirkular, yakni upaya memperpanjang masa guna suatu produk atau material agar tetap memiliki manfaat dan tidak langsung menjadi limbah.

“Saya berharap seluruh pihak dapat terus mengambil peran dalam menjaga lingkungan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten,” tukasnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
dipilah DLHK Berau sampah rumah tangga