BERAU POST – Satukan persepsi dalam penanganan bencana khususnya saat banjir, tim penanggulangan bencana yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, PMI, Dinas Kesehatan, Taruna Siaga Bencana (Tagana), tim rescue pihak ketiga, gelar simulasi kemarin (27/7).
Diungkap Kepala BPBD Berau, Masyhadi, dengan simulasi ini diharapkan penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.
Kesiapan tidak hanya berkaitan dengan proses evakuasi korban, tetapi juga mencakup tahapan sebelum hingga setelah bencana.
"Kami ingin memastikan seluruh tahapan penanggulangan banjir, mulai dari perencanaan hingga pascabencana dapat berjalan dengan baik," jelasnya.
Lanjutnya, setiap instansi dapat memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing. Dengan begitu, ketika bencana terjadi seluruh personel sudah mengetahui peran yang harus dijalankan, sehingga koordinasi di lapangan dapat berlangsung lebih efektif.
"Yang terpenting dari simulasi ini adalah setiap unsur memahami perannya, sehingga saat bencana terjadi koordinasi dapat berjalan cepat dan tepat," terangnya.
Dalam simulasi tersebut, BPBD Berau mengerahkan seluruh personel Tim Reaksi Cepat (TRC) yang berjumlah 10 orang.
Selain personel, berbagai perlengkapan penanganan darurat juga disiapkan untuk mendukung jalannya simulasi.
Peralatan yang diterjunkan meliputi kendaraan operasional, perahu karet beserta dayung, pelampung, tenda darurat, hingga tempat tidur lapangan (bed camp) yang digunakan sebagai fasilitas pengungsian apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Menurutnya, penanganan bencana tidak bisa dilakukan hanya oleh satu instansi. Karena itu, simulasi sengaja melibatkan berbagai unsur agar koordinasi yang telah dibangun melalui latihan dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi sebenarnya.
“Mahasiswa juga dilibatkan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian terhadap kebencanaan sejak dini,” katanya.
Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui simulasi diharapkan dapat menjadi bekal apabila suatu saat menghadapi kondisi darurat di tengah masyarakat.
"Bencana adalah urusan bersama, sehingga seluruh elemen masyarakat harus memiliki kesadaran untuk ikut berperan,"ungkapnya.
Pihaknya berharap budaya kesiapsiagaan terus tumbuh di tengah masyarakat. Sinergi antarlembaga dan partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat respons penanganan bencana.
“Sekaligus meminimalkan risiko terhadap keselamatan warga maupun dampak yang ditimbulkan akibat banjir,” tutupnya.
Sementara Dandim 0902/Berau, Letkol Inf Muhammad Faisal Idris, menegaskan latihan lapangan bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi sarana penting untuk meningkatkan profesionalisme prajurit dalam menjalankan operasi perbantuan kepada pemerintah daerah saat terjadi bencana.
Dikatakan, Kodim sebagai satuan komando kewilayahan memiliki tanggung jawab strategis menjaga stabilitas wilayah, termasuk memberikan respons cepat ketika masyarakat menghadapi situasi darurat akibat bencana.
“Latihan ini dilaksanakan secara bertahap, bertingkat, dan berlanjut agar seluruh personel memiliki kemampuan bertindak dengan tenang, cepat, tepat, dan tuntas dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang terjadi di wilayah Berau,” ungkapnya.
Latihan lapangan tersebut difokuskan untuk meningkatkan kemampuan komandan dan staf dalam merencanakan, mengendalikan, hingga mengevaluasi operasi penanggulangan bencana.
Lanjutnya, seluruh tahapan mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga pengakhiran operasi, harus dapat dilaksanakan secara terukur dan sesuai prosedur.
Selain itu, prajurit juga dituntut mampu menerapkan komando dan pengendalian operasi dengan memadukan taktik, teknik, serta dukungan administrasi yang terencana sehingga pelaksanaan tugas di lapangan berjalan efektif.
Menurutnya, keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada kemampuan TNI semata, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat bersama pemerintah daerah, instansi terkait, hingga berbagai elemen masyarakat.
Latihan ini juga diarahkan untuk menghasilkan standar operasional prosedur (SOP) yang terintegrasi antarinstansi sehingga respons terhadap bencana dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Dirinya mengingatkan seluruh peserta latihan agar memahami tugas dan fungsi masing-masing, mengedepankan kemampuan deteksi dini serta pencegahan dini sebagai aparat kewilayahan, sekaligus membangun koordinasi yang solid dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Sehingga diharapkan kesiapsiagaan personel semakin meningkat sehingga mampu menjadi garda terdepan dalam membantu pemerintah daerah melindungi masyarakat ketika bencana alam terjadi,” tutupnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi