Perjalanan panjang mengembangkan tenun khas Berau akhirnya mengantarkan Rumah Tenun Mamabe memiliki galeri sendiri. Berlokasi di Jalan Pemuda Gang Muslimin, galeri tersebut resmi dibuka, Sabtu (11/7). Ini menjadi ruang baru untuk memperkenalkan berbagai produk kain tenun Berau.
AMNIL IZZA, Tanjung Redeb
Owner Rumah Tenun Mamabe, Sonya Da Silva, mengaku perjalanan membangun tenun Berau bukanlah proses yang singkat. Ia mengenang ketika mulai merintis, Kabupaten Berau belum memiliki tenun yang benar-benar menjadi ciri khas daerah.
Awal mula pengembangan tenun Berau bermula dari tantangan yang diberikan Bupati Berau, Sri Juniarsih, saat masih menjabat sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Berau.
Setelah dilantik sebagai Ketua Dekranasda Kabupaten Berau pada 2016, upaya menghadirkan tenun khas Berau mulai digencarkan. "Awalnya Berau belum memiliki tenun," ungkapnya, Sabtu (11/7).
Pada masa awal, proses produksi masih menggunakan alat tenun gedogan. Namun, seiring waktu, dukungan dari Pemerintah Kabupaten Berau terus mengalir sehingga pengembangan tenun dapat dilakukan lebih serius.
Sonya mengaku tidak pernah melupakan bantuan yang diterimanya dari pemerintah daerah. Ia mengenang dukungan sebelumnya, ketika dirinya mengalami keterbatasan modal berbagai bentuk dukungan diberikan agar pengembangan tenun tetap berjalan.
Perjalanan tersebut kemudian membawa perubahan dalam proses produksi. Dari penggunaan alat tenun gedogan, Rumah Tenun Mamabe beralih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Pergantian itu dilakukan karena hasil tenun dari gedogan dinilai lebih tebal, sehingga harga jualnya berada pada segmen menengah ke atas.
Melalui penggunaan ATBM, Sonya mengatakan produk tenun kini dapat dipasarkan dengan harga lebih terjangkau, sehingga semakin banyak masyarakat yang memiliki kesempatan untuk memiliki tenun khas Berau.
“Alhamdulillah sekarang masyarakat menengah ke bawah yang ingin punya tenun sudah bisa kita sediakan dengan harga yang lebih terjangkau,” bebernya.
Ia mengaku perjalanan hingga memiliki galeri sendiri dipenuhi berbagai tantangan. Namun keinginan menghadirkan rumah tenun di Berau tidak pernah surut. Awalnya ia berharap galeri tersebut berdiri di Kecamatan Teluk Bayur.
Namun kesempatan justru membawanya membuka galeri di Jalan Pemuda yang berada di pusat perkotaan.
Peresmian galeri juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-48.
Momen tersebut menjadi rasa syukur atas perjalanan panjang yang akhirnya membuahkan hasil dengan hadirnya galeri sederhana yang selama ini diimpikan.
Di balik keberhasilan tersebut, Sonya mengaku masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Ia menilai keberlangsungan tenun Berau sangat bergantung pada hadirnya generasi penerus yang mau belajar dan mencintai kerajinan tersebut.
Saat ini, sebagian besar penenun masih didominasi kalangan orangtua. Karena itu, dirinya memiliki keinginan untuk membuka pelatihan bagi masyarakat termasuk anak-anak, agar muncul kader-kader baru yang mampu melanjutkan tradisi menenun.
“Jadi ada juga pelatihan, bukan hanya kita menyiapkan produk-produk jadi, tapi kita juga siapkan pelatihan yang bisa menyasar generasi muda bahkan usia dini,” katanya.
Dipaparkan, pelatihan bisa disiapkan secara bertahap dengan menyesuaikan usia peserta. Peralatan yang digunakan juga disesuaikan agar proses belajar dapat dilakukan sejak usia dini. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tenun Berau agar tidak tergerus zaman.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Hasnawati, menyampaikan apresiasi atas berdirinya galeri Rumah Tenun Mamabe. Ia berharap usaha tersebut terus berkembang dan mampu memberikan manfaat bagi perekonomian masyarakat.
Menurutnya, kehadiran galeri tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru di Kabupaten Berau.
Terlebih jumlah pelaku UMKM dan Industri Kecil Menengah (IKM) di Berau terus menunjukkan pertumbuhan. Berdasarkan data statistik, jumlahnya telah mencapai sekitar 20 ribu pelaku usaha, sementara data Diskoperindag masih mencatat sekitar 17 ribu UMKM.
Meski pertumbuhan jumlah pelaku usaha dinilai menggembirakan, ia menekankan tantangan berikutnya adalah mendorong peningkatan kualitas usaha.
UMKM dikatakan naik kelas apabila mampu meningkatkan pendapatan, menambah tenaga kerja, dan memperluas pasar.
Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar tetap menjaga kualitas produk, menetapkan harga yang kompetitif, serta memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.
Selain itu, pelaku UMKM juga dituntut mampu mengikuti perkembangan digitalisasi agar tetap memiliki daya saing di tengah persaingan usaha yang semakin terbuka. “Yang perlu lagi kita dorong adalah pertumbuhan secara kualitatif,” tuturnya.
Pun pelaku UMKM harus memperhatikan tiga aspek utama untuk meningkatkan daya saing. Mulai dari kualitas produk harus tetap terjaga, harga harus mampu bersaing dan tidak ditetapkan secara berlebihan, serta pelayanan kepada konsumen harus menjadi perhatian utama.
“Ketiga hal itu menjadi dasar agar usaha mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan,” ujarnya.
Diskoperindag Berau akan terus memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM agar mampu berkembang, memperluas usaha, sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Berau. (sam)
Editor : Nurismi