BERAU POST – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Tanjung Redeb menjalin perjanjian kerja sama dengan empat organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Berau, Kamis (9/7).
Ini diharap menjadi langkah memperkuat pembinaan warga binaan melalui sinergi lintas sektor. Mulai dari pelayanan kesehatan, pelatihan keterampilan, hingga penguatan ketahanan keluarga.
Asisten I Sekretariat Kabupaten Berau, Hendratno, menyampaikan, kerja sama tersebut merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.
Dijelaskan, pembangunan tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga dari upaya memberikan hak pelayanan dan kesempatan kepada warga binaan untuk memperbaiki kualitas hidup selama menjalani masa pembinaan.
"Perjanjian kerja sama ini merupakan bukti nyata kehadiran negara dalam memuliakan manusia. Hakikat pembangunan bukan hanya tentang infrastruktur fisik, melainkan juga memberikan hak pelayanan dan kesempatan bagi warga binaan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka," ujarnya.
Apalagi katanya, paradigma pemasyarakatan saat ini telah bergeser. Jika sebelumnya lebih berorientasi pada aspek pengamanan, kini pembinaan menjadi bagian utama yang harus dilakukan secara komprehensif.
Karena itu, tugas tersebut tidak dapat dijalankan sendiri oleh pihak Rutan, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Dalam kerja sama tersebut, masing-masing OPD memiliki peran strategis sesuai bidangnya. Dinas Kesehatan bertanggung jawab memastikan pelayanan kesehatan bagi warga binaan berjalan optimal. Dinas Perikanan akan membuka peluang pelatihan budidaya maupun pengolahan hasil perikanan.
Sementara Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyediakan pelatihan berbasis kompetensi beserta sertifikasi, sedangkan DPPKBP3A akan memberikan edukasi terkait ketahanan keluarga dan perlindungan kelompok rentan.
“Kolaborasi tersebut menjadi implementasi nyata semangat good governance, di mana persoalan sosial dan kemanusiaan diselesaikan melalui kerja sama lintas sektor,” ucapnya.
Ia berharap pembinaan warga binaan dapat dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang dalam menciptakan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan mandiri sebagai bagian dari upaya menyongsong Indonesia Emas 2045.
"Momentum ini jangan berhenti sebagai seremonial administratif semata, tetapi benar-benar diwujudkan melalui program yang berkelanjutan, terukur, dan memberikan dampak humanis bagi masyarakat Kabupaten Berau," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Tanjung Redeb, Rian Permana, mengapresiasi seluruh OPD yang telah membuka ruang kolaborasi dalam mendukung pembinaan warga binaan.
Menurutnya, kerja sama tersebut lahir dari sinergi, keterbukaan, dan komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan rutan.
"Fokus utama kita adalah menyentuh aspek yang paling mendasar dari seorang manusia, yaitu pembentukan kepribadian, pemenuhan hak kesehatan, dan penguatan mental warga binaan," katanya.
Rian juga memaparkan kondisi terkini Rutan Tanjung Redeb yang masih menghadapi persoalan kelebihan kapasitas. Hingga saat ini, jumlah penghuni rutan mencapai 690 warga binaan, termasuk 40 orang perempuan.
Bahkan, beberapa waktu lalu jumlah tersebut sempat meningkat hingga sekitar 750 orang setelah menerima pemindahan warga binaan dari Bulungan, Kalimantan Utara.
Padahal, kapasitas ideal Rutan Tanjung Redeb hanya sekitar 200 orang. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat hunian mencapai sekitar 300 persen dari kapasitas yang tersedia.
"Di ruang yang terbatas itu, ada ratusan jiwa yang harus kami jaga kestabilan mental dan kesehatannya setiap hari," ungkapnya.
Karena itu, ia menilai dukungan lintas sektor menjadi kebutuhan penting agar proses pembinaan tetap berjalan secara optimal di tengah keterbatasan yang ada.
Dirinya berharap kerja sama yang telah ditandatangani tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus dijaga melalui komunikasi yang baik dan pelaksanaan program secara konsisten.
Ia mengajak seluruh pihak untuk membuka ruang komunikasi seluas-luasnya, mulai dari mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi hingga bersama-sama mencari solusi terbaik dalam memberikan pembinaan yang manusiawi dan bermartabat.
"Harapan kami, ketika mereka kembali ke tengah masyarakat nanti, mereka dapat menjadi pribadi yang lebih sehat, lebih mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya," tutupnya. (aja/sam)
Editor : Nurismi