BERAU POST - Potensi meningkatnya risiko kebakaran akibat fenomena El Nino turut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau.
Selain mendukung langkah pencegahan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sebagaimana menjadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup, BPBD juga memperluas kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Mundi, mengatakan, pengelolaan TPA merupakan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
Meski demikian, BPBD siap memberikan dukungan terhadap berbagai langkah pencegahan agar kejadian kebakaran tidak terjadi di daerah tersebut.
“Terkait pengelolaan TPA tentu menjadi kewenangan DLHK. Kami di BPBD siap mendukung setiap upaya pencegahan agar kejadian itu tidak terjadi di Berau,” ujarnya Senin (6/7).
Menurutnya, kewaspadaan tidak hanya difokuskan pada potensi kebakaran di kawasan TPA. Dampak musim kemarau yang dipengaruhi El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di kawasan hutan, lahan, maupun area terbuka lainnya sehingga perlu diantisipasi sejak dini.
“Kami tidak hanya fokus pada TPA, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan kebakaran di kawasan lain, termasuk karhutla,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Berau terus melakukan koordinasi dengan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, pemantauan terhadap titik panas atau hotspot juga dilakukan setiap hari untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan dengan cepat.
“Kami terus berkoordinasi dengan para pelaku penanganan karhutla di lapangan sambil memantau hotspot harian,” jelasnya.
Selain memperkuat kesiapsiagaan aparat, BPBD juga mengajak masyarakat berperan aktif mencegah terjadinya kebakaran. Masyhadi mengimbau warga lebih berhati-hati terhadap penggunaan sumber api, terutama saat kondisi cuaca mulai kering.
Ia menegaskan, masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar karena tindakan tersebut berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
Kebiasaan membakar sampah di halaman maupun pekarangan juga diminta dihentikan karena api dapat dengan mudah merambat ke lahan kosong atau kawasan vegetasi di sekitarnya.
“Hindari membakar lahan maupun sampah. Hal-hal kecil seperti itu bisa memicu kebakaran yang lebih besar,” tegasnya.
BPBD berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, instansi teknis, pelaku usaha, dan masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan kebakaran selama musim kemarau.
Dengan kesiapsiagaan sejak dini serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, risiko kebakaran, baik di kawasan TPA maupun hutan dan lahan, diharapkan dapat diminimalkan sehingga dampak terhadap lingkungan dan masyarakat dapat dicegah.
Sebelumnya, DLHK Berau memperkuat langkah antisipasi kebakaran di TPA, menyusul imbauan Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, yang mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran akibat musim kemarau dan ancaman fenomena El Nino.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, menyambut baik arahan tersebut. Menurutnya, kondisi cuaca panas yang mulai dirasakan saat ini memang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, termasuk di kawasan TPA yang memiliki potensi munculnya gas metana dari timbunan sampah.
Ia menjelaskan, berbagai langkah pencegahan sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum adanya imbauan tersebut.
Salah satunya dengan memasang pipa penyalur gas metana pada timbunan sampah untuk mengurangi risiko akumulasi gas yang dapat memicu kebakaran apabila bertemu sumber api. “Antisipasi sudah kami lakukan,” klaimnya.
Selain pengelolaan gas metana, DLHK juga terus menerapkan sistem sanitary landfill di TPA sebagai bagian dari upaya pengendalian risiko kebakaran.
Metode tersebut dilakukan, dengan menutup timbunan sampah menggunakan lapisan tanah sehingga dapat mengurangi paparan udara, menekan timbulnya bau, serta meminimalkan potensi munculnya titik api.
“Kami menjalankan apa yang disarankan kementerian, termasuk penutupan sanitary landfill,” jelasnya.
Zulkifli menuturkan, pihaknya kini semakin meningkatkan kesiapsiagaan dengan terus memantau kondisi di lapangan.
Komunikasi dan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) juga diperkuat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi keadaan darurat. “Untuk saat ini kami tetap berjaga,” ucapnya.
Menurutnya, koordinasi tidak hanya dilakukan secara internal, tetapi juga melibatkan instansi terkait seperti BPBD serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat).
Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat respons apabila ditemukan potensi maupun kejadian kebakaran di TPA ataupun lokasi lainnya.
“Koordinasi dengan BPBD dan Disdamkarmat terus berjalan,” tambahnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi