Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Anggaran Ketat, Wagub Kaltim Desak Berau Padukan Wisata Alam dan Budaya Internasional

Nurismi • Kamis, 2 Juli 2026 | 16:30 WIB
WARISAN BUDAYA: Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menghadiri Festival Abutta Banua sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya di Berau. (MARNI/BP)
WARISAN BUDAYA: Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menghadiri Festival Abutta Banua sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya di Berau. (MARNI/BP)

BERAU POST - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan dukungan terhadap pengembangan wisata budaya sebagai salah satu strategi memperkuat ekonomi daerah di tengah pengetatan anggaran dan menurunnya kontribusi sektor sumber daya alam.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, saat menghadiri Festival Budaya Abutta Banua di Keraton Sambaliung, Rabu (1/7). Juga dirangkai dengan Hari Ulang Tahun ke-24 Kelurahan Sambaliung, serta HUT ke-6 PKL Basuli.

Dalam kesempatan itu, Seno Aji menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Berau dan Kesultanan Sambaliung yang secara konsisten menjadikan Abutta Banua sebagai agenda budaya tahunan.

Keberadaan festival budaya ini tentunya memiliki arti penting bagi pembangunan daerah. Menurutnya, negara yang besar adalah negara yang mampu menghargai seni, budaya, dan adat istiadat.

Karena itu, Pemprov Kaltim memberikan dukungan terhadap seluruh kegiatan kebudayaan yang tumbuh di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Berau.

Seno Aji juga menyoroti kekayaan budaya Kalimantan Timur yang sangat beragam, termasuk keberadaan sejumlah kesultanan serta komunitas adat yang masih terjaga hingga saat ini. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya.

Lanjutnya, Berau memiliki posisi penting sebagai etalase pariwisata dan budaya di Kalimantan Timur.  Selain karena memiliki kekayaan alam, juga budaya yang dapat dikembangkan secara beriringan untuk menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Di tengah kondisi fiskal yang mengalami tekanan, pemerintah daerah menurutnya perlu mencari alternatif penggerak ekonomi baru,” terangnya.

Salah satunya adalah wisata budaya dan ekonomi kreatif yang dinilai lebih stabil serta mampu memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Dengan adanya pengetatan anggaran, kita harus mencari alternatif baru, salah satunya wisata budaya yang dapat menjadi penggerak ekonomi daerah,” katanya.

Seno Aji menambahkan, sektor pariwisata Berau saat ini menunjukkan perkembangan positif, termasuk meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara.

Kondisi ini menjadi peluang besar untuk memperkuat promosi daerah yang menggabungkan wisata alam dan budaya secara terpadu.

Festival Abutta Banua juga disebut memberikan dampak langsung bagi perekonomian masyarakat, terutama melalui keterlibatan pelaku UMKM yang berjualan di kawasan Sungai Segah.

“Aktivitas tersebut menciptakan perputaran ekonomi baru di tingkat lokal dan memperkuat ekonomi kerakyatan,” ujarnya. 

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Promosi wisata Berau perlu diperluas hingga tingkat internasional, dengan mengangkat destinasi unggulan seperti Maratua dan Derawan yang didukung kegiatan budaya yang kuat.

Selain aspek ekonomi, ia mengingatkan pentingnya pelestarian budaya di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda.

Nilai-nilai budaya lokal harus terus diwariskan melalui pendidikan dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan seni dan adat.

“Saya mengajak seluruh pihak menjadikan Festival Abutta Banua sebagai momentum mempererat silaturahmi, memperkuat persatuan, serta menjaga keberlanjutan budaya Kalimantan Timur agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ajaknya.

Sementara itu, Lurah Sambaliung, Iskandar Zulkarnain, menyebut, Festival Budaya Abutta Banua 2026 mengangkat tema “Berintak Mangguku Sambaliung, Sakgam dan Baadat”. 

Kegiatan ini berlangsung selama sepekan, mulai 27 Juni hingga 4 Juli 2026, dengan pusat kegiatan di kawasan Tepian Keraton Sambaliung.

Festival tersebut tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya leluhur dan rangkaian ritual adat Kesultanan Sambaliung, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas masyarakat lokal di tengah perkembangan zaman.

Pelaksanaan festival juga memberi dampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Keterlibatan pelaku UMKM dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kerakyatan di wilayah Sambaliung.

Ia berharap dukungan dari Pemprov Kalimantan Timur dapat terus diperkuat agar Berau semakin kokoh sebagai salah satu pusat pelestarian budaya di Benua Etam.

“Harapan kami, Abutta Banua ini dapat semakin memperkuat posisi Berau sebagai salah satu pelestarian budaya,” katanya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#festival budaya #pemkab berau