Program ketahanan pangan berbasis industrial farming yang dijalankan Polres Berau kembali mendapat apresiasi. Kali ini, datang dari Tim Supervisi Inspektur Pengawasan Daerah (Itwasda) Polda Kalimantan Timur yang melakukan kunjungan langsung ke lokasi industrial farming di Kecamatan Sambaliung, Senin (15/6).
Anggoro Fadjar Suseno, Sambaliung
Kunjungan tersebut dipimpin Ketua Tim Supervisi Itwasda Polda Kaltim, Kombes Pol Yudhi Hariyadi. Dalam peninjauan itu, tim memastikan pelaksanaan program ketahanan pangan yang menjadi bagian dari dukungan Polri terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto berjalan sesuai perencanaan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Yudhi menjelaskan, salah satu fokus supervisi adalah mengevaluasi implementasi konsep industrial farming yang dikembangkan Polres Berau, melalui pendekatan pentahelix dan zero waste.
Konsep tersebut tidak hanya menitikberatkan pada produksi jagung, tetapi juga memastikan seluruh hasil dan limbah pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kami datang untuk memastikan program ini benar-benar berjalan,” ujarnya.
Menurutnya, Polda Kaltim telah memberikan arahan kepada seluruh polres agar program ketahanan pangan tidak berhenti pada penanaman jagung semata, melainkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan melalui keterlibatan berbagai pihak.
Dalam konsep pentahelix tersebut, pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha, akademisi, media, perbankan, hingga masyarakat dilibatkan dalam satu rantai kerja yang saling mendukung.
Dengan kolaborasi tersebut, industrial farming diharapkan mampu berkembang menjadi sektor ekonomi yang memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“Semua unsur harus terlibat agar program ini berkelanjutan,” katanya.
Selain itu, konsep zero waste juga menjadi salah satu indikator penting yang dinilai dalam supervisi. Jagung yang dipanen tidak hanya dimanfaatkan bijinya, tetapi juga bagian lain seperti bonggol dan limbah tanaman yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi, termasuk bahan baku pakan ternak.
Sambungnya, hasil peninjauan di lapangan menunjukkan konsep tersebut telah berjalan. Tim supervisi melihat langsung proses budidaya, panen, pengeringan hasil panen menggunakan dryer, hingga pemanfaatan hasil produksi yang masuk ke rantai pasok pangan dan peternakan.
“Tidak ada yang menjadi sampah, semuanya dimanfaatkan,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, dari 10 kabupaten dan kota yang telah dikunjungi dalam agenda supervisi, Berau menjadi salah satu daerah dengan implementasi industrial farming paling maju.
Bahkan menurutnya, capaian Berau saat ini termasuk yang terbaik di Kalimantan Timur bersama Kabupaten Kutai Timur.
“Yang sudah terlihat maksimal hasilnya Berau dan Kutai Timur,” ungkapnya.
Penilaian tersebut bukan hanya didasarkan pada keberadaan lahan pertanian, tetapi juga pada kesinambungan program yang dijalankan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
Tim supervisi bahkan melakukan verifikasi langsung kepada kelompok tani dan penyuluh pertanian lapangan (PPL), untuk memastikan program tidak sekadar formalitas.
Menurut Yudhi, pembinaan kepada petani telah berlangsung secara konsisten sejak November tahun lalu. Hal itu menjadi bukti bahwa program tidak hanya dibuat untuk kepentingan seremonial, melainkan benar-benar dijalankan secara berkelanjutan.
“Kami cek langsung proses pembinaannya dan memang berjalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak program serupa di berbagai daerah yang hanya aktif saat ada kunjungan atau kegiatan tertentu, namun kemudian berhenti.
Kondisi tersebut tidak ditemukan di Berau, karena seluruh fondasi pendukung sudah tersedia. Mulai dari akses jalan, jaringan listrik, kelompok tani, hingga pendampingan penyuluh.
Karena itu, ia berharap program yang telah dirintis dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh seluruh pihak yang terlibat, termasuk kepemimpinan Polres Berau di masa mendatang.
“Fondasinya sudah ada, tinggal dilanjutkan,” katanya.
Sementara Kapolres Berau, AKBP Ridho Tri Putranto, mengatakan, Polri berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan petani dengan berbagai pihak terkait agar produktivitas pertanian dapat meningkat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
“Pentahelix harus berjalan bersama-sama,” ujarnya.
Ridho menjelaskan, jagung dipilih sebagai salah satu komoditas utama, karena memiliki peran strategis sebagai bahan baku pakan ternak.
Dengan meningkatnya produksi jagung lokal, biaya produksi peternakan dapat ditekan sehingga berdampak pada stabilitas harga pangan, termasuk telur dan daging.
Ia menyebut hasil panen jagung dari program tersebut tidak hanya diserap oleh pasar umum, tetapi juga masuk ke Bulog serta pelaku usaha pakan ternak yang telah terhubung dalam rantai pasok ketahanan pangan.
“Rantai pasoknya sudah berjalan,” katanya.
Lebih jauh, Ridho menilai keberhasilan program ini tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Di tengah kondisi sektor pertambangan yang mengalami perlambatan dan meningkatnya kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pertanian dapat menjadi alternatif sumber penghidupan masyarakat.
Menurutnya, Berau memiliki sejarah panjang sebagai daerah agraris sebelum berkembangnya sektor pertambangan. Karena itu, masyarakat perlu kembali melihat sektor pertanian sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.
“Kita mengajak masyarakat kembali bertani,” tandasnya.
Melalui pengembangan industrial farming berbasis pentahelix dan zero waste, pihaknya berharap program ketahanan pangan tidak hanya mampu meningkatkan produksi jagung, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata. (sam)
Editor : Nurismi