BERAU POST – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau kembali melaksanakan pemilihan Duta Wisata, Duta Budaya, dan Putri Pariwisata tahun 2026.
Ajang tahun ini turut menambahkan materi pendampingan psikologis bagi para peserta, sebagai bagian dari pembekalan selama proses seleksi dan karantina.
Langkah tersebut dilakukan, untuk membentuk figur generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan promosi pariwisata dan budaya, tetapi juga memiliki sikap, perilaku, serta kepribadian yang baik sebagai representasi Kabupaten Berau.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan, tahapan pemilihan sudah selesai unjuk bakat dan presentasi pada 16 Mei lalu. Selanjutnya, peserta akan mengikuti karantina pada 22 Mei dan grand final pada 23 Mei.
“Melalui pemilihan duta wisata, duta budaya, dan putri pariwisata ini, kita mencari figur anak muda yang bisa menjadi contoh di bidang budaya dan pariwisata,” katanya, Senin (18/5).
Dijelaskan, proses seleksi dilakukan cukup ketat. Tidak hanya menilai kemampuan peserta dalam mempromosikan wisata dan budaya, tetapi juga aspek psikologis dan pemahaman terhadap kebudayaan daerah.
“Kita menyeleksinya cukup lengkap. Ada materi seleksi psikologis supaya mereka memiliki pengertian tentang pariwisata dan kebudayaan, sehingga bisa dijadikan contoh bagi anak-anak muda lainnya,” ujarnya.
Pembekalan terhadap peserta dilakukan melalui berbagai tahapan. Mulai dari seleksi, karantina, pemberian materi, hingga sesi tanya jawab pada malam grand final. Seluruh rangkaian itu bertujuan mencetak duta yang siap mewakili Berau di tingkat lebih tinggi.
“Ini juga agenda rutin dan berjenjang sampai provinsi dan pusat. Jadi kita seleksi di tingkat kabupaten, nanti pemenangnya mengikuti pemilihan di provinsi, lalu berlanjut sampai nasional,” jelasnya.
Pihaknya juga akan terus memberikan pembekalan kepada para pemenang yang nantinya mewakili Berau di tingkat Provinsi Kalimantan Timur maupun nasional.
Sementara Plt Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Berau, Nurjatiah, mengatakan, pemilihan duta wisata dan budaya diharapkan mampu melahirkan agen perubahan dalam pengembangan sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif di Kabupaten Berau.
“Kita ingin menjadikan mereka agen perubahan tentang pengembangan pariwisata, promosi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif yang ada di Kabupaten Berau,” ujarnya.
Ia menilai potensi wisata Berau sangat besar dan perlu dipromosikan lebih luas, tidak hanya di tingkat daerah dan provinsi, tetapi juga hingga mancanegara. Dengan meningkatnya promosi, diharapkan jumlah kunjungan wisatawan juga terus bertambah setiap tahun.
“Dengan potensi objek wisata Berau yang luar biasa, kita berharap para duta wisata ini bisa mempromosikannya kepada masyarakat luas. Bukan saja untuk Kabupaten Berau dan provinsi, tapi juga sampai mancanegara,” katanya.
Peningkatan jumlah wisatawan diyakini akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Hal itu juga sejalan dengan visi pemerintah daerah, untuk mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penopang ekonomi masa depan.
“Ini juga upaya untuk mewujudkan visi-misi bupati lima tahun ke depan, untuk menggantikan sektor tambang menuju pariwisata dapat terwujud,” ucapnya.
Dalam pelaksanaan karantina nanti, peserta akan mengikuti sejumlah agenda yang melibatkan sektor swasta dan pihak ketiga.
Peserta akan diperkenalkan dengan berbagai destinasi wisata unggulan, serta produk ekonomi kreatif lokal agar mampu memahami potensi yang bisa dipromosikan.
Selain itu, tahun ini Disbudpar memasukkan materi pendampingan psikologis yang sebelumnya belum pernah diberikan.
Materi tersebut membahas tentang perilaku, sikap, hingga etika yang harus dimiliki peserta maupun para duta setelah terpilih.
“Jadi diajarkan bagaimana berperilaku, bagaimana bersikap, dan bagaimana dia sebagai agen perubahan. Dia harus mencerminkan seorang duta yang memiliki kepribadian yang baik dan tidak menyimpang,” jelasnya.
Ia mengaku, penambahan materi tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi atas pengalaman sebelumnya, agar tidak kembali muncul perilaku negatif yang dapat mencoreng citra pariwisata dan budaya daerah.
“Kita mengantisipasi jangan sampai terjadi lagi perlakuan negatif oleh si duta itu sendiri yang membuat nilai negatif bagi pariwisata dan budaya,” tukasnya.
Selain pendampingan psikologis, peserta juga akan menerima materi kepemimpinan dan personal branding dari ADWB Provinsi Kalimantan Timur, serta pembekalan religius melalui ceramah selama masa karantina berlangsung. (aja/sam)
Editor : Nurismi