Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ekspor Kerapu Maratua Melejit! Kapal Hongkong Rutin Jemput Hasil Budidaya Nelayan Berau Secara Legal

Nurismi • Jumat, 15 Mei 2026 | 03:00 WIB
DIJEMPUT LANGSUNG: Maratua jadi titik penjemputan ikan kerapu yang akan diekspor ke Hongkong. (SENO/BP)
DIJEMPUT LANGSUNG: Maratua jadi titik penjemputan ikan kerapu yang akan diekspor ke Hongkong. (SENO/BP)

BERAU POST- Perkembangan ekspor ikan kerapu melalui jalur laut di Kecamatan Maratua terus menunjukkan tren positif.

Selain memberikan harga jual yang lebih tinggi, sistem ekspor tersebut juga dinilai mempermudah para pembudidaya ikan kerapu di Kabupaten Berau, khususnya wilayah kepulauan dalam memasarkan hasil budidayanya ke luar negeri.

Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid, mengatakan, pengembangan kawasan budidaya kerapu di Berau telah didukung melalui kebijakan pemerintah pusat sejak beberapa tahun terakhir.

“SK Nomor 16 Tahun 2022 tentang Kampung Perikanan Budidaya menetapkan wilayah Berau dan Kukar,” ujarnya Rabu (12/5).

Ia menjelaskan, dalam kebijakan tersebut Kabupaten Berau ditetapkan sebagai kawasan budidaya ikan kerapu, sedangkan Kutai Kartanegara untuk budidaya ikan nila.

Penetapan itu menjadi salah satu dasar pengembangan ekspor perikanan di wilayah pesisir dan kepulauan Berau.

Menurut Abdul Majid, saat ini kapal pengangkut dari Hongkong rutin mengambil hasil budidaya kerapu dari Maratua.

Kapal tersebut memiliki izin resmi dan telah mendapat persetujuan mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan hingga Kementerian Perhubungan..

“Kapal Hongkong masuk tapi tidak tambat, dia dapat persetujuan dari tujuh instansi,” katanya.

Dengan mekanisme itu, aktivitas pengiriman hasil budidaya tetap berjalan sesuai ketentuan dan tidak menimbulkan persoalan hukum maupun administrasi.

Para nelayan dan pembudidaya nantinya hanya perlu membawa ikan hidup ke kapal transit yang berada di wilayah perairan Maratua.

Kapal tersebut dilengkapi teknologi penyimpanan khusus agar ikan tetap hidup hingga tiba di negara tujuan.

“Kapal Hongkong itu punya alat khusus, ikan tetap hidup sampai ke negara mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, mekanisme pengumpulan ikan juga membuat proses ekspor lebih efisien. Ketika jumlah ikan yang tersedia sudah mencukupi, kapal ekspor akan dipanggil untuk melakukan pengangkutan.

“Ketika jumlahnya naik dan ikan terkumpul, kapal tinggal panggil,” ucapnya.

Ditambahkan Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau, Budiono, aktivitas ekspor komoditas perikanan dari Berau hingga kini masih berjalan baik, terutama untuk ikan kerapu dan lobster.

“Ekspor perikanan kita khususnya kerapu dan lobster masih berjalan,” katanya.

Menurutnya, Maratua kini telah ditunjuk sebagai salah satu pelabuhan ekspor melalui Pelabuhan Tambat yang berada di bawah kewenangan KKP.

Dengan status tersebut, kapal asing diperbolehkan mengambil hasil budidaya langsung dari kawasan tersebut.

“Teman-teman dari Batu Putih dan Bidukbiduk kirim melalui Maratua,” jelasnya.

Budiono mengungkapkan, sepanjang 2025 lalu total ekspor ikan kerapu dari Berau mencapai sekitar 145 ton. Sementara hingga April tahun ini, jumlah ekspor sudah mendekati 80 ton.

Ia menyebut, pengiriman melalui jalur laut menjadi solusi yang lebih efisien dibanding jalur udara yang membutuhkan biaya jauh lebih tinggi.

“Kalau lewat udara biayanya tinggi,” tukasnya. (sen/sam)

Editor : Nurismi
#ekspor ikan #ikan kerapu #Pulau maratua