Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tembus Pasar Tiongkok! Rumput Laut Biatan Jadi Primadona Ekspor Baru dari Pesisir Kabupaten Berau

Nurismi • Rabu, 13 Mei 2026 | 13:40 WIB
ILUSTRASI: Budidaya rumput laut di Kampung Karangan, Biatan, berkembang pesat dan mulai menembus pasar ekspor ke Tiongkok dan Hongkong. (BERAU POST)
ILUSTRASI: Budidaya rumput laut di Kampung Karangan, Biatan, berkembang pesat dan mulai menembus pasar ekspor ke Tiongkok dan Hongkong. (BERAU POST)

BERAU POST - Dinas Perikanan (Diskan) Berau mengajak masyarakat pesisir mengembangkan budidaya rumput laut sebagai sumber ekonomi baru yang dinilai menjanjikan.

Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, kata Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Diskan Berau, Budiono, menjadi salah satu wilayah yang kini menunjukkan perkembangan cukup pesat, bahkan hasil produksinya telah menembus pasar ekspor.

Budidaya rumput laut pun sebutnya sebagai sektor unggulan perikanan budidaya dinilai memiliki prospek jangka panjang.

Selain tidak membutuhkan pakan seperti budidaya ikan pada umumnya, rumput laut juga memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat diolah menjadi berbagai produk turunan. Mulai dari bahan kosmetik, hingga kebutuhan kesehatan.

Saat ini luas lahan budidaya rumput laut di Kampung Karangan mencapai sekitar 60 hektare. Aktivitas tersebut melibatkan sedikitnya 40 rumah tangga perikanan yang mulai menggantungkan penghasilan dari sektor budidaya tersebut.

Terlebih pengembangan rumput laut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong transformasi ekonomi dari sektor tambang menuju sektor yang lebih berkelanjutan seperti perikanan dan pertanian.

“Rumput laut ini kami dorong menjadi sektor unggulan budidaya menuju hilirisasi dan transformasi ekonomi,” ujarnya belum lama ini.

Produksi rumput laut dari wilayah Biatan pun mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dalam kurun waktu tiga bulan, pengiriman rumput laut kering untuk pasar ekspor tercatat mencapai dua kontainer atau sekitar 40 ton.

Jika dihitung dalam setahun, total produksi diperkirakan bisa mencapai 160 hingga 360 ton.

Permintaan pasar luar negeri saat ini datang dari Tiongkok dan Hongkong. Namun, distribusi ekspor masih dilakukan melalui sejumlah daerah penghubung seperti Tarakan, Surabaya, dan Makassar sebelum akhirnya dikirim ke luar negeri.

Harga jual rumput laut untuk kebutuhan ekspor juga dinilai cukup kompetitif. Rumput laut kering kualitas ekspor dihargai sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Nilai itu lebih tinggi dibanding harga pasar lokal yang berkisar antara Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram.

Selain memiliki pasar yang terbuka, budidaya rumput laut juga dianggap relatif menguntungkan bagi masyarakat pesisir.

Masa panen yang singkat menjadi salah satu daya tarik utama. Dalam waktu sekitar 45 hari, pembudidaya sudah dapat melakukan panen.

Untuk memulai usaha budidaya rumput laut, dibutuhkan investasi awal sekitar Rp 45 juta. Namun, modal tersebut dinilai masih cukup realistis karena dalam sekali panen biaya yang dikeluarkan bisa kembali dan masih menyisakan keuntungan bagi pembudidaya.

Ini tentunya membuka peluang bagi masyarakat pesisir maupun pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk ikut terlibat dalam pengembangan sektor budidaya rumput laut.

Di sisi lain, pengembangan budidaya rumput laut di Berau tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan, mulai dari kualitas air hingga kondisi lalu lintas perairan.

“Tidak semua wilayah pesisir cocok dijadikan lokasi budidaya. Salah satu faktor utama adalah karakteristik perairan,” sebutnya.

Kampung Karangan sendiri dinilai cukup ideal karena berada di kawasan air payau atau percampuran air tawar dan air laut.

Lanjutnya, persoalan pemanfaatan ruang laut juga menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas budidaya harus menyesuaikan dengan jalur pelayaran dan aktivitas masyarakat lainnya agar tidak memicu konflik di kawasan perairan.

Diakunya, kewenangan budidaya di wilayah laut berada di bawah pemerintah provinsi. Karena itu, pihaknya saat ini lebih fokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendampingan kepada pembudidaya.

Tahun ini, Diskan Berau berencana memberangkatkan lima pembudidaya untuk mengikuti pelatihan di Balai Besar Budidaya Rumput Laut di Takalar Sulawesi Selatan.

Pihaknya juga berencana menggelar diskusi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait peluang usaha budidaya rumput laut. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni mendatang.

“Kami berharap semakin banyak masyarakat pesisir yang tertarik mengembangkan budidaya rumput laut karena lebih berkelanjutan dan memiliki peluang pasar yang terus berkembang,” tandasnya.

Sementara Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyampaikan, potensi perikanan di Kabupaten Berau sangat melimpah, salah satunya rumput laut. Ini katanya menjadi keberkahan bagi Kabupaten Berau.

Untuk itu, pemerintah daerah memberikan perhatian besar bagi sektor perikanan, untuk mendukung pengelolaan sumber daya yang luar biasa itu.

“Secara khusus kami laksanakan sejumlah program. Ini untuk mendukung pengelolaan sumber daya kelautan yang kita punya,” jelasnya.

"Potensi perikanan kita yang luar biasa tentu harus dibarengi dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” jelasnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#peluang ekonomi #budidaya #rumput laut