Puluhan anak yang tergabung dalam kegiatan Komunitas Jejak Jenaka tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian edukasi kesehatan gigi yang dikemas secara menyenangkan di Praktik Dokter Gigi Spesialis Dentsmart, Minggu (10/5).
Tanjung Redeb
Sekitar 70 anak usia 3 hingga 11 tahun mengikuti agenda ini. Selama kegiatan berlangsung, anak-anak diajak mengenal dunia kedokteran gigi melalui permainan, edukasi, hingga praktik langsung mengenal ruang perawatan dokter gigi.
Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi Dentsmart, drg Uci Ernawati Sp.KG, mengatakan, kegiatan bersama Jejak Jenaka sejalan dengan visi Dentsmart sebagai klinik gigi yang ramah anak.
“Praktik Dokter Gigi Spesialis Dentsmart memang didesain ramah anak, ada buku-buku, mainan, dan dinding bergambar supaya anak-anak merasa nyaman,” ujarnya, Minggu (10/5).
Ia mengaku menyukai dunia anak-anak. Karena itu, saat Jejak Jenaka mengajukan kunjungan edukasi ke Dentsmart, pihaknya menyambut dengan antusias.
“Harapan kami, visi Dentsmart sebagai praktik dokter gigi yang ramah anak itu benar-benar bisa dirasakan masyarakat. Ini juga jadi kesempatan memperkenalkan kepada orangtua, bahwa di Berau ada praktik dokter gigi spesialis yang ramah anak,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan terlebih dahulu dengan peran dokter gigi dan fungsi dasar gigi. Pendekatan seperti itu penting dilakukan, untuk menghilangkan rasa takut anak sebelum menjalani pemeriksaan ataupun tindakan medis.
“Yang paling penting itu anak-anak tidak boleh takut ke dokter gigi. Kalau rasa takutnya sudah hilang, dokter akan lebih mudah memberikan pemahaman,” jelasnya.
Pun pada kunjungan pertama anak ke dokter gigi, pihaknya selalu mengutamakan proses perkenalan terlebih dahulu dibanding langsung melakukan tindakan.
“Kami selalu menekankan bahwa kunjungan pertama itu adalah perkenalan. Anak-anak dikenalkan dulu bagaimana peran dokter gigi dan bagaimana perawatan gigi. Ketika mereka sudah tahu, rasa takut itu akan berkurang,” ungkapnya.
Selain itu, anak-anak juga diberikan pemahaman dasar mengenai fungsi gigi, jenis-jenis gigi, hingga cara merawat gigi dengan benar. Edukasi tersebut dinilai penting, agar anak memahami penyebab kerusakan gigi sejak dini.
“Kadang anak-anak bertanya kenapa giginya bisa berlubang. Jadi kita jelaskan bahwa penyebabnya bisa karena terlalu banyak makan makanan manis, menyikat gigi tidak di waktu yang benar, tidak dua kali sehari, atau cara menyikat giginya yang salah,” tuturnya.
Menurutnya, kebiasaan menjaga kesehatan gigi harus mulai dibentuk sejak usia dini, termasuk menjaga kesehatan gigi susu. Sebab, gigi susu memiliki peran penting sebagai penuntun tumbuhnya gigi permanen.
“Saya selalu menekankan bahwa gigi susu itu penting karena menjadi penuntun untuk gigi dewasa tumbuh di tempatnya. Jadi harus benar-benar dijaga supaya nanti gigi penggantinya tumbuh dengan baik,” katanya.
Setelah anak mulai nyaman, dokter kemudian mengenalkan alat-alat kedokteran gigi dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.
Pendekatan tersebut, kata dia, sudah menjadi standar pelayanan di Dentsmart dalam menangani pasien anak.
“Kami selalu memberitahu anak-anak apa yang akan dilakukan terhadap giginya. Jadi ada pengenalan alat dan pendekatan khusus lainnya. Itu memang sudah menjadi SOP di Dentsmart,” jelasnya.
Untuk menunjang kenyamanan anak, Dentsmart juga menyediakan ruang bermain dan media baca di area tunggu agar anak tidak merasa bosan ataupun tegang saat menunggu giliran pemeriksaan.
“Kalau mereka menunggu masuk ke ruang tindakan, mereka tetap merasa nyaman karena ada tempat bermain dan media baca,” imbuhnya.
Sementara Founder Jejak Jenaka, Pungky Sampurno, mengatakan, kolaborasi bersama Dentsmart sebenarnya sudah lama direncanakan. Ia mengapresiasi dukungan penuh dari Dentsmart terhadap kegiatan edukasi anak tersebut.
“Kami memang sudah lama ingin berkolaborasi dengan Dentsmart dan ternyata mereka sangat support. Bahkan sampai menyiapkan tenda supaya anak-anak tidak kepanasan dan juga memberikan souvenir,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran anak dan orangtua terhadap pentingnya menjaga kesehatan gigi.
Apalagi saat ini anak-anak dinilai rentan mengalami masalah gigi akibat banyaknya konsumsi makanan dan minuman manis.
“Sekarang jajanan anak-anak itu banyak yang manis-manis, jadi saya lihat masalah gigi anak juga makin banyak,” katanya.
Pun dalam kegiatan tersebut masih ada beberapa anak yang terlihat takut memasuki ruang dokter gigi. Namun melalui konsep permainan dan edukasi yang menyenangkan, pihaknya berharap anak-anak menjadi lebih berani dan terbiasa memeriksakan kesehatan gigi.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan penyampaian materi edukasi mengenai kesehatan gigi dari tim Dentsmart. Materi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk permainan interaktif agar lebih mudah dipahami anak-anak.
Anak-anak juga diajarkan bagian-bagian gigi, cara menyikat gigi yang baik dan benar, serta mengenal makanan yang baik maupun tidak baik untuk kesehatan gigi.
Setelah sesi edukasi dan permainan, peserta mengikuti kegiatan kreasi membuat gantungan kunci berbentuk gigi. Selain menyesuaikan tema kegiatan, aktivitas tersebut juga bertujuan melatih sensorik dan motorik anak.
“Anak-anak juga diajak melakukan visitasi langsung ke ruang dokter gigi untuk mengenal alat-alat perawatan serta praktik sederhana mengenai perawatan gigi,” ungkapnya.
Dirinya berharap kesadaran menjaga kesehatan gigi dapat tumbuh sejak dini, sekaligus menghilangkan stigma takut ke dokter gigi pada anak-anak di Berau. (aja/sam)
Editor : Nurismi