BERAU POST - Sejumlah maskapai penerbangan di Bandara Kalimarau mulai 'turunkan gasnya'. Sejumlah maskapai dilaporkan mengurangi frekuensi penerbangan, bahkan salah satu maskapai tercatat menghentikan operasional sementara selama dua bulan.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau, Patah Atabri, mengungkapkan, maskapai AirAsia sudah memutuskan untuk tidak beroperasi melayani penerbangan di Berau mulai 1 Mei hingga 30 Juni 2026.
“AirAsia memberitahukan penghentian operasi penerbangan,” ujarnya Minggu (3/5).
Ia menjelaskan, penghentian sementara ini tidak hanya terjadi di Berau, melainkan pada beberapa rute lain di Indonesia. Setidaknya terdapat tiga rute yang terdampak kebijakan tersebut.
“Tidak hanya di Berau, ada tiga rute yang dihentikan sementara,” jelasnya.
Adapun rute yang dimaksud meliputi Luwuk–Palu–Surabaya, Tarakan–Balikpapan, serta Berau–Balikpapan. Keputusan ini berdampak langsung pada konektivitas udara masyarakat Berau, khususnya yang bergantung pada rute menuju Balikpapan sebagai salah satu hub penting di Kalimantan.
Selain AirAsia, penyesuaian juga dilakukan Batik Air yang mengurangi frekuensi penerbangan. Dari sebelumnya melayani tujuh kali dalam sepekan, kini hanya beroperasi sekitar empat kali dalam seminggu dengan jadwal yang bersifat acak.
“Batik Air mengurangi frekuensi dari tujuh menjadi empat kali seminggu,” katanya.
Meski demikian, beberapa maskapai lain masih beroperasi normal. Super Air Jet misalnya, tetap melayani penerbangan dua kali sehari untuk rute Berau–Balikpapan. Sementara Wings Air melayani satu kali penerbangan setiap hari untuk rute Berau–Samarinda.
“Maskapai lain masih berjalan normal,” tambahnya.
Untuk Sriwijaya Air, layanan penerbangan masih tersedia tiga kali dalam sepekan dengan rute Makassar–Berau–Balikpapan pulang-pergi. Kondisi ini dinilai masih mampu menjaga konektivitas, meski frekuensinya tidak sebanyak sebelumnya.
Di sisi lain, Patah Atabri juga menyinggung faktor biaya operasional yang turut memengaruhi kebijakan maskapai. Salah satunya adalah kenaikan harga avtur yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Maret 2026, harga avtur tercatat sebesar Rp 15.629. Namun pada April mengalami lonjakan drastis hingga 63 persen menjadi Rp 25.521. Kenaikan tersebut kembali berlanjut pada Mei dengan peningkatan sekitar 15 persen menjadi Rp 29.327.
“Kenaikan avtur cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh maskapai saat ini juga melakukan penyesuaian harga tiket sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan keberlangsungan operasional.
“Maskapai menyesuaikan harga tiket agar tetap terjangkau,” tuturnya.
Sementara kondisi ini turut menjadi perhatian masyarakat. Salah satu warga Berau, Latifah, mengaku khawatir dengan berkurangnya frekuensi penerbangan yang dapat mempersulit mobilitas masyarakat.
“Cukup sedih kalau maskapai mulai membatasi jadwal,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan penerbangan yang memadai sangat penting, terutama bagi masyarakat yang memiliki keperluan mendesak ke luar daerah.
“Kalau ada keperluan jadi agak sulit nantinya,” katanya.
Latifah berharap kondisi ini tidak berlangsung lama dan aktivitas penerbangan dapat kembali normal seperti sebelumnya. Ia menilai dalam beberapa tahun terakhir, penerbangan di Bandara Kalimarau sebenarnya sudah mulai pulih pascapandemi Covid-19.
“Mudah-mudahan segera normal kembali,” tukasnya. (sen/sam)
Editor : Nurismi