Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Stigma Jadi Penghambat Utama, PPTI Berau: Jangan Jauhi Penderita TB, Tapi Dukung Kesembuhannya!

Nurismi • Kamis, 30 April 2026 | 16:30 WIB
TANGANI TB: Stigma masyarakat masih menjadi penghambat utama dalam penanganan TB di Berau, termasuk rendahnya kepatuhan pasien berobat. (IZZA/BP)
TANGANI TB: Stigma masyarakat masih menjadi penghambat utama dalam penanganan TB di Berau, termasuk rendahnya kepatuhan pasien berobat. (IZZA/BP)

Tuberkulosis (TB) masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Berau. Pasalnya, stigma yang melekat kerap membuat penderita memilih diam dan menunda pengobatan.

AMNIL IZZA, Tanjung Redeb 

Kondisi ini menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya penanggulangan TB yang belum sepenuhnya terkendali.

Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kabupaten Berau, Sri Aslinda Gamalis, menegaskan, persoalan TB tidak hanya berkaitan dengan aspek medis.

Faktor sosial terutama stigma di tengah masyarakat justru menjadi penghambat besar dalam upaya pengendalian penyakit tersebut.

“Stigma yang masih ada di masyarakat sering membuat penderita enggan memeriksakan diri atau tidak menyelesaikan pengobatan,” ujarnya dalam Seminar Kesehatan yang digelar dalam rangka Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, di Ruang RPJPD Bapelitbang, Selasa (28/4).

Ditekankan, penanganan TB tidak bisa hanya dibebankan pada tenaga kesehatan. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, kader kesehatan, tokoh masyarakat, hingga dunia usaha dan keluarga pasien.

Adapun tantangan penanggulangan TB di Berau masih cukup kompleks. Beberapa kasus yang belum optimal menjadi salah satu kendala, di samping tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang masih perlu ditingkatkan.

Padahal, keberhasilan terapi TB sangat bergantung pada konsistensi pasien hingga pengobatan dinyatakan tuntas.

Lanjutnya, stigma negatif yang berkembang di masyarakat turut memperburuk situasi. Tidak sedikit penderita yang memilih menyembunyikan penyakitnya karena khawatir dijauhi lingkungan sekitar.

“Akibatnya, penanganan menjadi terlambat dan potensi penularan semakin besar,” terangnya.

Sri Aslinda mengajak masyarakat untuk lebih terbuka dan tidak ragu melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala TB.

Ia juga mendorong tenaga kesehatan dan kader untuk lebih aktif dalam menemukan kasus secara dini melalui metode active case finding.

Selain itu, pendampingan terhadap pasien juga dinilai penting, agar mereka dapat menjalani pengobatan secara disiplin hingga sembuh.

“Perlu peran bersama untuk memastikan agar pasien tidak putus obat. Pendampingan ini sangat menentukan keberhasilan pengobatan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya pencegahan TB. Pelajar dan mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan dengan meningkatkan kesadaran di lingkungan masing-masing, termasuk melalui kebiasaan hidup sehat.

Langkah sederhana seperti tidak merokok, menggunakan masker saat sedang sakit, serta rutin memeriksakan kesehatan dinilai mampu menekan risiko penularan.

Selain itu, program pemeriksaan kesehatan gratis juga diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

“Peran dunia usaha juga tidak kalah penting, terutama dalam memastikan kesehatan karyawan melalui pemeriksaan rutin. Ini bagian dari upaya bersama menuju Indonesia bebas TB tahun 2030,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Berau Sri Juniarsih, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung percepatan eliminasi TB. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan layanan kesehatan serta peningkatan kolaborasi lintas sektor.

“Penanggulangan TB ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Diperlukan dukungan semua pihak, termasuk dunia usaha dan generasi muda,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap TB melalui penerapan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka penularan.

“Mulai dari diri sendiri, dengan menjaga pola hidup sehat, tidak merokok, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala,” pesannya.

“Jangan ada lagi stigma. Penderita TB harus kita dukung, bukan dijauhi. Dengan dukungan yang baik, pengobatan akan lebih optimal,” sambungnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#tuberkulosis #PPTI Berau #pengobatan