SEBELAS karya seni rupa kini menghuni ruang putih Atara Studio setelah pameran “Serak Sorai” resmi dibuka hingga 28 April mendatang. Pameran ini sebagai bagian dari pembacaan ulang atas pengalaman yang terus bergerak dan saling bertumpuk dalam kehidupan sehari-hari.
AMNIL IZZA, Tanjung Redeb
Pameran kali ini menghadirkan ruang tafsir tentang tubuh, ruang, dan pengalaman hidup yang terus bergerak di antara ingatan, kenyataan, dan bayangan.
Ini menjadi salah satu agenda yang diinisiasi oleh Tana Ruai, komunitas seni rupa independen di Berau yang selama ini konsisten membuka ruang dialog dan praktik artistik lintas generasi.
Pemimpin Produksi Pameran Serak Sorai, Seto Kumoro, menuturkan, Serak Sorai tidak hadir sebagai pameran yang menawarkan jawaban tunggal.
Sejak awal, ia justru dibangun sebagai ruang yang mengundang keraguan, jeda, dan perenungan atas cara manusia memahami perubahan di sekitarnya.
Dalam pengantar kuratorialnya, pameran ini berangkat dari kesadaran bahwa kehidupan sehari-hari tidak pernah utuh, melainkan tersusun dari lapisan pengalaman yang saling tumpang tindih, yang dialami langsung, yang diingat, yang didengar, hingga yang dibayangkan.
Di ruang pameran, pendekatan tersebut terasa dalam cara karya-karya yang ditampilkan. Tidak ada dominasi satu narasi tunggal.
Sebaliknya, pengunjung diajak bergerak dari satu karya ke karya lain, seperti menelusuri serpihan pengalaman yang belum selesai dirangkai.
Tubuh dalam pameran ini tidak sekadar dipahami sebagai subjek yang melihat, tetapi juga sebagai ruang yang menyerap, menyimpan, dan merespons berbagai pengaruh dari lingkungan.
“Sebelas karya yang dipamerkan menampilkan ragam pendekatan visual, mulai dari instalasi, lukisan, hingga eksplorasi material yang lebih eksperimental,” ungkapnya, Minggu (19/4).
Namun, benang merahnya tetap sama, yakni membaca ulang perubahan ruang hidup yang terus berlangsung, baik yang tampak maupun yang tidak kasat mata.
Pergeseran fungsi ruang, hilangnya akses terhadap tempat tertentu, hingga perubahan lanskap sosial menjadi latar yang terus berulang dalam berbagai interpretasi artistik.
Dalam salah satu penekanan kuratorialnya, “Serak Sorai” melihat bahwa perubahan ruang tidak hanya meninggalkan jejak fisik, tetapi juga membentuk ulang cara manusia merasakan dan memaknai lingkungan.
Ada ketegangan yang terus hadir di antara keterlibatan dan jarak, antara kesadaran dan ketidaksadaran, serta antara pilihan yang diambil dan kondisi yang tak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Di titik ini, pameran ini tidak menempatkan individu sebagai sosok yang berada di luar sistem, melainkan sebagai bagian dari sistem itu sendiri. Seseorang bisa saja mengkritik, mempertanyakan, sekaligus tetap berada di dalam struktur yang sama.
“Ketegangan inilah yang menjadi salah satu lapisan penting dalam pembacaan pameran,” ucapnya.
Hal menarik lain yang diangkat adalah bagaimana pengalaman tidak selalu hadir secara langsung.
Dalam beberapa karya, pengalaman justru muncul melalui cerita yang beredar, citra yang tersebar, serta ingatan kolektif yang diwariskan dari satu orang ke orang lain.
Di antara yang dialami dan yang dimediasi, terdapat ruang abu-abu yang membentuk cara baru dalam memahami kedekatan sekaligus jarak.
“Di luar itu, Serak Sorai juga menyoroti hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari dan sering dianggap biasa saja. Kegiatan yang terus berulang itu dilihat sebagai cara belajar dari pengalaman hidup sehari-hari,” terangnya.
Dalam perspektif ini, pengetahuan tidak hanya berasal dari ruang akademik atau sistem formal, tetapi juga dari cara manusia bertahan, bekerja, dan beradaptasi dengan lingkungannya setiap hari.
Sebagai ruang pertemuan, pameran ini menghadirkan beragam suara yang tidak selalu harmonis. Ada yang keras, ada yang patah, ada yang nyaris tak terdengar.
Namun justru dalam ketidakteraturan itu, pameran tersebut menemukan bentuknya. Yakni, sebuah komposisi yang tidak menuntut keseragaman, melainkan membuka kemungkinan untuk mendengar ulang apa yang selama ini terlewat.
Sebagai salah satu seniman partisipan yang terlibat langsung, Seto menyampaikan bahwa pameran ini bukan hanya tentang menampilkan karya, tetapi juga tentang membuka percakapan.
Percakapan yang mungkin tidak selalu selesai, tetapi cukup untuk membuat pengunjung berhenti sejenak dari ritme keseharian.
Para seniman mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak, merasakan hal-hal yang terasa tidak pasti, lalu melihat kembali bagaimana manusia hidup di tengah ruang yang terus berubah.
Pameran ini diikuti oleh sejumlah seniman yakni Abdhi Avvangga, An Nisaa Damayanti, Arifuddin, Kinu, Novi Setiawati, Ridho Saputra, Rox, Seto Kumoro, Spik Putro, dan Vany Ellen.
Lanjutnya, Serak Sorai hadir bukan hanya sebagai pameran seni rupa, tetapi juga sebagai cara untuk merespons perubahan sosial dan lingkungan di sekitar.
Ini adalah upaya kecil yang terus dilakukan untuk menjaga percakapan dan gagasan tetap hidup, di tengah dunia yang terus berubah tanpa berhenti.
“Pameran ini kami harap tidak berhenti di ruang ini saja, tapi bisa terus jadi percakapan tentang bagaimana kita melihat ruang dan hidup sehari-hari,” paparnya. (sam)
Editor : Nurismi