PULAU Derawan selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Berau. Air laut yang jernih, pantai berpasir putih, serta kekayaan biota laut seperti penyu hijau dan hiu paus menjadikannya tujuan favorit wisatawan.
Namun di balik keindahan itu, persoalan sampah terutama sampah plastik masih menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Kesadaran inilah yang mendorong Komunitas Gerobooks Berau lokakarya bertema “Jika Laut Derawan Bisa Bicara”.
AMNIL IZZA, PULAU DERAWAN
Kegiatan digelar pada 17-18 April dengan melibatkan 24 siswa SMPN 2 Pulau Derawan. Lokasinya dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Pulau Derawan dan dilanjutkan di kawasan pantai.
Founder Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, menjelaskan, kegiatan ini tidak sekadar mengajak anak-anak melukis.
Melalui pendekatan kreatif, mereka ingin menumbuhkan kesadaran mengenai ancaman sampah laut, sekaligus mengangkat isu keanekaragaman hayati dan pariwisata Pulau Derawan.
Menurutnya, kebocoran sampah ke laut dapat memberikan dampak serius terhadap kehidupan biota laut, terutama hewan-hewan yang dilindungi di kawasan Derawan.
Penyu hijau yang menjadi daya tarik utama wisata bahari di wilayah tersebut sangat rentan terhadap ancaman sampah plastik dan limbah lainnya.
Adapun tema “Jika Laut Derawan Bisa Bicara” dipilih sebagai bentuk refleksi sekaligus ajakan untuk melihat kondisi lingkungan dari sudut pandang yang lebih dalam.
Anak-anak sekitar diajak memahami bahwa laut tidak hanya menjadi sumber keindahan dan ekonomi pariwisata, tetapi juga membutuhkan perlindungan dari manusia yang hidup di sekitarnya.
“Tema ini secara spesifik mengangkat isu sampah, keanekaragaman hayati, serta pariwisata di Pulau Derawan. Harapannya tentu meningkatkan kesadaran mengenai persoalan sampah di wilayah ini,” ujarnya, Sabtu (18/4).
Hal ini juga menjadi bagian dari upaya memanfaatkan momentum berdirinya TPS 3R Rumah Pilah Sampah (Rupiah) Pulau Derawan yang baru diresmikan pada Februari lalu.
Keberadaan fasilitas ini menjadi penanda penting komitmen bersama antara Pemerintah Kampung Pulau Derawan, serta masyarakat setempat dalam menjaga kebersihan lingkungan pulau wisata tersebut.
Melalui kolaborasi dengan World Wide Fund for Nature (WWF), Gerobooks Berau mencoba menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam kampanye lingkungan.
Jika biasanya sosialisasi dilakukan melalui diskusi atau ceramah, kali ini anak-anak diajak mengekspresikan kegelisahan mereka melalui karya seni lukis.
Pulau Derawan dipilih sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Dijelaskan Risna, pulau tersebut termasuk wilayah tertinggal terdepan dan terluar (3T) yang turut terdampak persoalan sampah kiriman, bahkan tidak jarang berasal dari luar daerah hingga negara tetangga.
Kondisi tersebut membuat masyarakat setempat harus menghadapi persoalan yang tidak sepenuhnya mereka hasilkan sendiri.
Lewat kegiatan melukis, anak-anak Derawan diharapkan mampu menyuarakan keresahan mereka terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Di sisi lain, karya yang dihasilkan juga diharapkan dapat menjadi pesan bagi masyarakat luas, agar lebih peduli terhadap kebersihan laut.
Selain meningkatkan kesadaran lingkungan, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan Pulau Derawan melalui perspektif yang berbeda.
Bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kawasan yang perlu dijaga bersama agar tetap bersih dan lestari.
Adapun Fasilitator lokakarya lukis, Dwi Marda Nosesa, mengatakan, kegiatan tersebut dirancang agar anak-anak tidak hanya belajar teknik melukis, tetapi juga memahami makna dari setiap karya yang dibuat.
Pada hari pertama, para peserta terlebih dahulu diajak melakukan aksi bersih pantai. Sampah yang terkumpul kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari bahan dalam karya lukisan.
"Pendekatan ini sengaja dipilih agar anak-anak dapat melihat secara langsung dampak sampah sekaligus belajar memanfaatkannya secara kreatif," ujarnya.
Menurutnya, konsep utama dari lokakarya ini adalah memanfaatkan sampah sebagai bagian dari elemen lukisan.
Dengan cara tersebut, peserta diharapkan dapat meningkatkan kemampuan melukis sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
"Media utamanya tetap kanvas dan cat akrilik, tapi ditambahkan elemen sampah plastik untuk menambah unsur visual pada lukisan," ungkapnya.
Berbagai contoh lukisan telah disiapkan sebagai referensi bagi para peserta. Namun, anak-anak tetap diberikan kebebasan untuk mengembangkan ide dan kreativitas mereka sendiri.
“Semua alat dan bahan sudah kami siapkan. Anak-anak tinggal melukis dan mengembangkan ide mereka sendiri,” ujarnya.
Dalam proses berkarya, berbagai tema muncul dari imajinasi para siswa. Ada yang menggambar penyu yang terjerat jaring, ikan-ikan yang berenang di antara sampah laut, hingga berbagai gambaran khas Pulau Derawan yang selama ini mereka kenal.
Melalui karya-karya tersebut, anak-anak mencoba menyampaikan pesan sederhana namun kuat tentang kondisi laut yang mereka lihat setiap hari. Sebagian dari lukisan tersebut pun rencananya akan dipilih untuk dipamerkan di Hotel Mercure.
Pameran itu nantinya diharapkan menjadi ruang bagi publik untuk melihat suara anak-anak Derawan mengenai lingkungan mereka sendiri. (sam)
Editor : Nurismi