BERAU POST – Jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Berau melakukan monitoring sekaligus perbaikan ringan terhadap tiga jembatan bailey yang tersebar di Kecamatan Biatan dan Talisayan.
Dari hasil pengecekan, dua jembatan diketahui sempat mengalami kendala teknis dan telah ditangani pada awal tahun 2026.
Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan DPUPR Berau, Junaidi, menjelaskan, kegiatan itu bagian dari upaya memastikan jembatan sementara tetap aman digunakan masyarakat.
“Tim kami melakukan monitoring jembatan Bailey, melihat kondisi dan kendala yang mungkin terjadi di lapangan,” ujarnya Jumat (17/4).
Ia menyebutkan, salah satu jembatan yang ditinjau berada di Kampung Tunggal Bumi, Kecamatan Talisayan. Jembatan sepanjang 15 meter yang dipasang pada 2024 tersebut secara umum masih dalam kondisi baik.
Namun pada Februari 2026 sempat dilakukan perbaikan, karena terjadi kemiringan pada salah satu sisi tumpuan.
“Perbaikan ringan dilakukan karena posisi tumpuan sempat miring di satu sisi,” jelasnya.
Selanjutnya, jembatan bailey di Jalan Poros Kampung Bukit Makmur Jaya, Kecamatan Biatan, juga mendapatkan penanganan. Jembatan yang awalnya memiliki bentang 9 meter itu ditambah satu segmen agar lebih kokoh.
Dengan penambahan tersebut, panjang jembatan kini menjadi 12 meter. Sementara jembatan bailey di Selengkop Kampung Biatan Lempake yang dipasang pada 2022 dilaporkan masih dalam kondisi baik tanpa memerlukan perbaikan berarti.
Junaidi menegaskan, keberadaan jembatan bailey ini bersifat sementara hingga dilakukan pembangunan permanen di masa mendatang. “Jembatan ini tetap kami rawat agar bisa melayani masyarakat sampai ada penanganan permanen,” tegasnya.
Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Berau, Saga, menilai langkah monitoring tersebut memang diperlukan mengingat fungsi jembatan bailey sebagai infrastruktur sementara. “Jembatan sementara memang harus rutin diperiksa agar tetap aman digunakan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk segera merencanakan pembangunan jembatan permanen di lokasi-lokasi tersebut. “Ke depan, penanganan permanen harus diprioritaskan agar akses masyarakat lebih terjamin,” tukasnya.
Dengan adanya monitoring berkala dan perbaikan cepat, diharapkan jembatan-jembatan tersebut tetap dapat mendukung mobilitas warga, khususnya di wilayah pedesaan yang masih bergantung pada infrastruktur penghubung tersebut. (sen/sam)
Editor : Nurismi