Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pelayanan RSUD Talisayan 'Pincang'! Dokter Spesialis Penyakit Dalam Mundur, Warga Terpaksa Dirujuk ke Tanjung

Beraupost • Sabtu, 4 April 2026 | 11:05 WIB
ILUSTRASI: RSUD Talisayan membuka lowongan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengisi kekosongan tenaga medis. (BERAU POST)
ILUSTRASI: RSUD Talisayan membuka lowongan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengisi kekosongan tenaga medis. (BERAU POST)

BERAU POST – Pelayanan pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Talisayan tengah 'pincang'. Itu karena dokter spesialis penyakit dalam yang bertugas memilih mengundurkan diri per 31 Maret 2026.

Pengunduran itu dibenarkan Direktur Utama RSUD Talisayan, Andik. Dijelaskannya, keputusan pengunduran diri tersebut bukan tanpa alasan.

Faktor keluarga menjadi pertimbangan utama dokter yang bersangkutan untuk meninggalkan tugasnya di Talisayan.

“Terakhir bekerja 31 Maret. Karena ibunya meninggal,” ujarnya kepada awak Berau Post, kemarin (3/4).

Dokter spesialis penyakit dalam tersebut diketahui telah mengabdi di RSUD Talisayan sejak 2 Oktober 2024. Dokter tersebut harus kembali ke daerah asal untuk mendampingi keluarga.

Terlebih, orang tua yang ditinggalkan sebelumnya tinggal sendiri, sehingga membutuhkan perhatian lebih dari anaknya.

“Alasannya karena orang tuanya tinggal sendiri. Jadi beliau memilih untuk kembali,” tambahnya.

Andik mengungkapkan, pihak rumah sakit sebenarnya telah mengetahui rencana pengunduran diri tersebut sejak beberapa waktu lalu. Bahkan komunikasi juga telah dilakukan dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau terkait kondisi tersebut.

“Kami sudah komunikasi, termasuk dengan kepala dinas. Jadi memang sudah diketahui sebelumnya,” jelasnya.

Sejak informasi tersebut diterima, RSUD Talisayan bergerak cepat untuk mencari pengganti. Berbagai upaya dilakukan, termasuk menyebarkan informasi kepada jaringan dokter spesialis di sejumlah daerah.

“Sudah kami share ke teman-teman, termasuk ke luar daerah seperti Jogjakarta dan Bandung,” ungkapnya.

Namun, hingga saat ini belum ada dokter spesialis penyakit dalam yang mendaftar untuk mengisi kekosongan tersebut. Ia mengakui, mencari tenaga dokter spesialis tidak semudah merekrut tenaga kesehatan lainnya.

“Untuk dokter spesialis itu memang tidak mudah. Sampai sekarang belum ada yang mendaftar,” katanya.

Ia menambahkan, salah satu skema yang memungkinkan untuk mendatangkan dokter spesialis adalah melalui program penugasan khusus dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). RSUD Talisayan sebelumnya juga mendapatkan tenaga melalui skema tersebut.

“Biasanya ada periode tertentu dari Kementerian. Nanti akan kami ajukan kembali,” terangnya.

Sembari menunggu kehadiran dokter spesialis baru, pelayanan kepada masyarakat tetap diupayakan berjalan optimal. Untuk kasus-kasus tertentu, terutama rawat jalan masih bisa ditangani oleh dokter umum.

“Kalau masih bisa ditangani dokter umum, tetap kami layani. Tapi kalau memang butuh spesialis penyakit dalam akan dirujuk,” jelasnya.

Rujukan sementara akan diarahkan ke RSUD Abdul Rivai di Tanjung Redeb yang memiliki fasilitas dan tenaga spesialis lebih lengkap.

Di tengah upaya pemenuhan tenaga medis tersebut, RSUD Talisayan juga menyiapkan sejumlah fasilitas untuk menarik minat dokter spesialis agar bersedia bertugas di wilayah pesisir tersebut.

Andik menyebut, selain gaji, pihak rumah sakit juga menyediakan kendaraan dinas serta rumah dinas bagi tenaga medis yang bertugas. “Fasilitas pasti ada, seperti kendaraan dinas dan rumah dinas. Itu sudah kami siapkan,” ujarnya.

Ia berharap fasilitas tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi dokter spesialis dari luar daerah untuk bergabung, mengingat kebutuhan tenaga medis di Berau masih cukup tinggi.

Di sisi lain, Andik juga menyoroti tantangan dalam mendatangkan tenaga medis ke daerah. Salah satunya dipengaruhi persepsi yang berkembang di luar daerah terhadap kondisi layanan kesehatan di Berau.

Ia mengaku sempat menemui kendala ketika menyebarkan informasi lowongan dokter spesialis. Beberapa calon tenaga medis yang awalnya tertarik, akhirnya mengurungkan niat setelah mendengar informasi yang kurang tepat.

“Ada yang sempat tanya, apakah di sana bermasalah. Akhirnya tidak jadi datang. Itu yang membuat kami cukup prihatin,” ungkapnya.

“Kami tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik. Memang saat ini dokter spesialis penyakit dalam belum ada, tapi pelayanan lain tetap berjalan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, kebutuhan tenaga dokter di Berau masih sangat bergantung pada tenaga dari luar daerah. Hal ini disebabkan belum adanya institusi pendidikan kedokteran di Berau itu sendiri.

“Kita masih harus mencari dari luar, baik dokter umum maupun spesialis,” tutupnya.

Sementara Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, mengaku kondisi tersebut sempat mengganggu  aktivitas pelayanan di rumah sakit, khususnya pada layanan rawat jalan khusus penyakit dalam. 

Menurutnya, keterbatasan tenaga medis membuat beberapa layanan tidak dapat berjalan seperti biasa dalam waktu tertentu.

Bahkan pelayanan rawat jalan sempat dihentikan sementara, sambil menunggu penanganan lebih lanjut.

“Memang ada kekurangan tenaga medis, sehingga pelayanan rawat jalan sempat berhenti sementara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, situasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan kewenangan pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan secara cepat.

Seluruh proses pengadaan dan penempatan tenaga medis harus mengikuti ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Dalam hal ini kita harus mengikuti aturan. Tidak bisa serta-merta langsung menambah tenaga, karena ada mekanisme yang harus dilalui,” jelasnya.

Kondisi ini lanjutnya, menjadi tantangan tersendiri bagi daerah, terutama dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di wilayah yang masih kekurangan seperti kawasan pesisir. Di sisi lain, kebutuhan pelayanan kepada masyarakat tetap harus berjalan.

Meski begitu, Pemkab Berau tidak tinggal diam. Sejumlah langkah telah dilakukan untuk mengatasi kekosongan tenaga medis, salah satunya melalui skema penugasan tenaga kesehatan dari fasilitas layanan lain.

“Seperti tahun lalu, kita lakukan penugasan untuk mengisi kekurangan. Skema itu juga menjadi salah satu solusi yang kembali diupayakan,” terangnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga telah mengusulkan penambahan tenaga medis melalui mekanisme yang berlaku. Saat ini, proses tersebut masih berjalan dan menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat.

“Untuk pengisian tenaga medis sudah kita usulkan. Sekarang tinggal menunggu prosesnya,” katanya.

Ia berharap usulan tersebut dapat segera terealisasi agar pelayanan di RSUD Talisayan dapat kembali normal, terutama untuk layanan yang membutuhkan dokter spesialis.

“InsyaAllah kita harapkan dalam waktu dekat bisa teratasi, sehingga pelayanan kembali optimal,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah tetap berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, terutama di wilayah yang masih mengalami keterbatasan sumber daya manusia di sektor kesehatan.

Keberadaan tenaga medis sangat vital dalam memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan maksimal, khususnya bagi masyarakat di wilayah pesisir yang aksesnya terbatas.

“Kita ingin pelayanan kesehatan tetap berjalan maksimal, terutama untuk masyarakat di wilayah pesisir seperti Talisayan,” pungkasnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#Kekosongan Dokter #spesialis penyakit dalam #RSUD Talisayan