Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Wisatawan Membludak, Bidukbiduk Desak Pembangunan TPS 3R Demi Atasi Darurat Sampah

Beraupost • Senin, 30 Maret 2026 | 14:05 WIB

PEDULI LINGKUNGAN: Aksi bersih-bersih dilakukan warga Kampung Bidukbiduk di area pesisir. Hingga kini, kampung tersebut belum memiliki fasilitas TPS 3R untuk pengelolaan sampah. (KAKAM BIDUKBIDUK)
PEDULI LINGKUNGAN: Aksi bersih-bersih dilakukan warga Kampung Bidukbiduk di area pesisir. Hingga kini, kampung tersebut belum memiliki fasilitas TPS 3R untuk pengelolaan sampah. (KAKAM BIDUKBIDUK)

BERAU POST - Kampung Bidukbiduk masih menghadapi persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah.

Hingga kini, kampung yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di pesisir selatan Berau itu belum memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

Kondisi ini membuat upaya penanganan sampah belum maksimal, meskipun berbagai gerakan kebersihan terus digencarkan oleh pemerintah kampung bersama masyarakat.

Penjabat (Pj) Kepala Kampung Bidukbiduk, Ary Gunawan, mengatakan, saat ini pihaknya intens melaksanakan kegiatan pembersihan lingkungan.

Fokus utama diarahkan pada area pinggir jalan dan kawasan pesisir pantai yang kerap dipenuhi sampah.

“Sekarang ini kami lagi intens pembersihan kampung. Seperti di pinggir jalan dan pinggiran pantai,” ujarnya, Sabtu (28/3).

Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah kampung membentuk kelompok peduli lingkungan bernama Sampan, singkatan dari Sahabat Alam Peduli Lingkungan.

Kelompok ini memiliki tugas utama membersihkan sampah yang ada, khususnya di sepanjang jalan utama kampung.

Adapun sampah yang banyak ditemukan umumnya berasal dari aktivitas pengguna jalan, termasuk wisatawan yang melintas. Sampah seperti botol plastik dan bungkus makanan ringan masih kerap dibuang sembarangan.

“Biasanya itu bekas snack, botol plastik yang dibuang dari kendaraan ke pinggir jalan,” jelasnya.

Selain itu, kelompok Sampan juga bertugas membersihkan area pesisir pantai. Namun, luasnya wilayah pantai menjadi tantangan tersendiri. Dengan keterbatasan tenaga, pembersihan baru dapat dilakukan di beberapa titik saja.

“Kami akui belum maksimal karena keterbatasan tenaga. Jadi baru beberapa titik yang bisa kami kerjakan,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan kebersihan ini turut melibatkan ketua RT, ibu-ibu PKK dan masyarakat setempat.

Hasilnya mulai terlihat, terutama di ruas-ruas jalan utama yang kini tampak lebih bersih dibanding sebelumnya.

Bahkan menjelang Idulfitri lalu, pemerintah kampung bersama warga menggelar aksi bersih-bersih sebagai persiapan menyambut lonjakan wisatawan yang datang saat musim libur Lebaran.

“Alhamdulillah sekarang 'wajah' Bidukbiduk relatif bersih, terutama jalan-jalan utama,” ungkapnya.

Meski begitu, penanganan sampah masih terbatas pada jenis-jenis ringan. Sampah berukuran besar seperti kayu-kayu lapuk di pesisir pantai belum tertangani secara optimal.

Ke depan, pihak kampung berharap dapat meningkatkan intensitas pembersihan jika didukung fasilitas dan sumber daya yang memadai.

Ary juga mengungkapkan rencana pengelolaan sampah berbasis nilai ekonomi. Menurutnya, sebagian sampah sebenarnya memiliki potensi untuk didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.

Namun, hingga saat ini Kampung Bidukbiduk belum memiliki bank sampah sebagai sarana pendukung.

“Kami ingin nanti sampah itu bisa dipilah, mana yang punya nilai ekonomis. Tapi memang saat ini kami belum punya bank sampah,” ujarnya.

Sementara itu, untuk penanganan sampah yang ada, kampung masih mengandalkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang tersedia.

Sampah dari warga dikumpulkan dan diangkut ke TPS tersebut. Namun, keterbatasan fasilitas ini dinilai belum mampu menjawab kebutuhan pengelolaan sampah secara menyeluruh.

Pemerintah kampung pun telah mengusulkan pembangunan TPS 3R kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau.

Harapannya, keberadaan TPS 3R nantinya dapat menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah di kawasan tersebut.

Di sisi lain, tingginya kunjungan wisatawan ke Bidukbiduk turut memberikan dampak terhadap volume sampah.

Ia menyebut, lonjakan pengunjung pada musim libur Lebaran tahun ini bahkan di luar perkiraan.

“Pengunjung tahun ini luar biasa banyak, di luar prediksi kami,” katanya.

Kondisi tersebut membuat kapasitas penginapan tidak mencukupi. Bahkan rumah warga dijadikan homestay dadakan, dan sebagian wisatawan terpaksa bermalam di masjid karena kehabisan tempat menginap.

Namun, masyarakat menyambut kondisi tersebut dengan antusias. Kehadiran wisatawan menjadi peluang ekonomi, terutama bagi pelaku usaha seperti pemilik homestay, pedagang kaki lima, UMKM, hingga rumah makan.

Didukung infrastruktur yang semakin baik, seperti jalan kampung dan Jembatan Sungai Nibung, Kampung Bidukbiduk terus berbenah sebagai destinasi wisata.

“Namun, persoalan sampah tetap menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan, salah satunya melalui realisasi TPS 3R yang diharapkan dapat segera terwujud,” harapnya.

Adapun salah satu wisatawan, Farizi, merasa lingkungan Kampung Bidukbiduk sudah cukup bersih saat berkunjung kemarin, meski sedang ramai dikunjungi wisatawan lain.

“Kalau dilihat di jalan-jalan utama, alhamdulillah bersih. Wajah kampungnya nyaman untuk jalan-jalan,” ujarnya.

Meski begitu, dia tetap mendukung agar pemerintah kampung menambah jumlah tempat sampah di pinggir jalan.

Menurutnya, hal ini penting agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan dan kawasan wisata tetap terjaga kebersihannya.

“Kalau tempat sampah banyak, pasti lebih tertib. Jadi sampah tidak berserakan lagi di jalan,” katanya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#TPS3R #sampah #Bidukbiduk #membludak #wisatawan