Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Jangan Sepelekan Demam dan Mata Merah pada Anak, Dinkes Berau Ingatkan Ancaman Virus Campak

Beraupost • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:50 WIB

 ILUSTRASI: Dinkes Berau memastikan hingga kini belum ada kasus campak di Berau, namun masyarakat tetap diminta waspada. (IZZA/BP)
ILUSTRASI: Dinkes Berau memastikan hingga kini belum ada kasus campak di Berau, namun masyarakat tetap diminta waspada. (IZZA/BP)

BERAU POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus campak.

Meski begitu, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular tersebut, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie, mengatakan, berdasarkan pemantauan dan laporan yang masuk ke pihaknya, belum ada kasus campak yang terkonfirmasi di Berau.

Kondisi ini dinilai cukup baik, namun tetap perlu diantisipasi agar tidak terjadi penularan di kemudian hari.

Dijelaskan, penyakit campak merupakan salah satu infeksi yang disebabkan oleh virus dan memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi.

Penularannya dapat terjadi melalui percikan air liur ketika penderita mengalami batuk atau bersin, sehingga dapat dengan mudah menyebar terutama di lingkungan dengan banyak anak-anak.

Sampai saat ini pihaknya masih terus melakukan pemantauan terhadap kemungkinan munculnya kasus tersebut.

Meski data yang ada menunjukkan situasi aman, masyarakat tetap diimbau untuk tidak lengah terhadap gejala yang mengarah pada campak.

Adapun gejala awal penyakit campak umumnya ditandai dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, serta mata yang tampak kemerahan.

Setelah itu biasanya muncul ruam atau bintik merah pada kulit yang menjadi salah satu tanda khas penyakit tersebut.

"Kalau anak mengalami demam tinggi yang disertai batuk, pilek, mata merah, dan muncul ruam pada kulit, sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” ujarnya.

Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi serta meminimalkan potensi penularan kepada orang lain.

Yang jelas, masyarakat harus tetap waspada, karena penyakit tersebut dapat muncul kapan saja apabila kekebalan masyarakat terhadap virus menurun.

Selain mengenali gejala, upaya pencegahan juga menjadi hal yang terus ditekankan pihaknya.

Salah satu langkah paling efektif untuk mencegah penularan campak adalah melalui pemberian imunisasi kepada anak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Lamlay mengingatkan para orangtua agar memastikan anak-anak mereka telah mendapatkan imunisasi campak atau MR secara lengkap.

Imunisasi ini sangat penting karena dapat membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus penyebab campak.

"Kami berharap orang tua memastikan anaknya sudah mendapatkan imunisasi campak atau MR secara lengkap, karena imunisasi menjadi cara paling efektif untuk mencegah penularan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk memastikan anak mengikuti program imunisasi yang disediakan pemerintah.

Di samping itu, masyarakat juga diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan sederhana seperti rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan masker ketika sedang sakit dinilai dapat membantu mencegah penularan berbagai penyakit menular.

Dilansir dari Kaltim Post, kasus campak di Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai ratusan sepanjang tahun ini.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mencatat sedikitnya 126 kasus campak tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim, Fitnawati, mengatakan dari total tersebut, sebanyak 120 kasus ditemukan di 10 kabupaten/kota dan seluruhnya telah terkonfirmasi positif.

"Total ada 126 kasus campak, yang tersebar di 10 kabupaten/kota dan semuanya sudah positif campak," kata Fitnawati, Selasa (10/3).

Meski jumlah kasus meningkat, dia memastikan sebagian besar pasien telah sembuh setelah mendapatkan penanganan layanan kesehatan.

"Alhamdulillah dengan pengobatan dan pelayanan kesehatan, mayoritas sudah sembuh," ujarnya.

Fitnawati menjelaskan, campak mayoritas menyerang bayi dan balita yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Gejala awal biasanya ditandai demam tinggi, kemudian muncul bercak merah di tubuh.

Menurutnya, tren kasus campak tahun ini memang mengalami kenaikan, namun masih tergolong tidak signifikan dan sejalan dengan peningkatan kasus secara nasional.

"Memang ada kenaikan sedikit, tapi tidak signifikan. Secara nasional juga terjadi peningkatan," jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kaltim telah melakukan berbagai upaya pencegahan, mulai dari promosi kesehatan berjenjang hingga sosialisasi kepada masyarakat.

Edukasi dilakukan melalui puskesmas, rumah sakit, kader kesehatan, hingga penyebaran brosur dan media promosi terkait pencegahan campak.

"Kami juga akan melakukan sosialisasi melalui Zoom bersama kader dan masyarakat agar penemuan kasus bisa lebih cepat," katanya.

Deteksi dini dinilai penting agar pasien segera mendapat penanganan sehingga penyebaran penyakit dapat ditekan.

Meski kasus tersebar di sejumlah daerah, Dinkes memastikan hingga kini belum ada wilayah yang menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Dinkes Kaltim juga menyoroti rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap. Target imunisasi campak sebesar 95 persen, namun capaian saat ini baru mendekati 70 persen.

Menurut Fitnawati, rendahnya partisipasi masyarakat datang ke posyandu menjadi salah satu penyebab.

"Tenaga kesehatan sudah siap, vaksin tersedia, tapi kehadiran masyarakat ke posyandu masih belum maksimal," ujarnya. (aja/sam)

Editor : Nurismi
#vaksin #virus campak #Dinkes Berau #puskesmas